ADAKAH.ID, SAMARINDA — Terpilihnya Putri Amanda Nurahmadhani (23) sebagai Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Provinsi Kalimantan Timur, menuai sorotan publik. Meski diapresiasi sebagai representasi generasi muda dan perempuan dalam dunia usaha, kehadirannya dinilai “beraroma nepotisme” karena disebut-sebut merupakan ponakan sekaligus anak angkat dari Gubernur Kaltim saat ini, Rudy Mas’ud.
Menanggapi hal itu, Retyaningtyas, Bidang Kampanye Nasional Perempuan Mahardhika, menyatakan partisipasi perempuan dalam posisi strategis penting untuk didukung. Namun, ia menegaskan agar kehadiran perempuan tidak dijadikan sebagai simbol atau ornamen untuk mempertahankan kekuasaan.
“Kita dukung perempuan hadir di jabatan publik, tapi kita menolak ketika keberadaan mereka dijadikan ornamen kekuasaan dinasti,” ujar Tyas sapaanya saat dikonfirmasi media ini. Senin malam (1/12/2025).
Aktivis yang juga alumnus Fisip Universitas Mulawarman itu menambahkan, perempuan yang masuk ke ruang politik dan kepemimpinan semestinya tampil sebagai sosok yang independen dan berpihak pada kepentingan masyarakat.
“Perempuan yang berada di ruang politik seharusnya menjadi pemimpin yang otonom, kritis, dan memperjuangkan keadilan, bukan perpanjangan dari struktur dinasti yang menindas,” tegasnya.
Lebih jauh, Tyas yang merupakan warga asli Loa Janan itu menyebut, kehadiran perempuan dalam jabatan publik harus mampu memberikan dampak luas terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan sebagai alat legitimasi kepentingan tertentu.
“Feminisme juga menolak politik dinasti karena mempersempit ruang demokrasi dan mematikan kemandirian politik perempuan,” jelasnya.
Menurut Tyas, hal yang harus menjadi perhatian bukan pada keterlibatan perempuan, tetapi pada praktik politik yang tidak demokratis. Jangan sampai karena relasi kekerabatan, masyarakat kehilangan objektivitas dan justru melihat perempuan secara sebelah mata
“Yang harus ditantang itu praktik politiknya,” katanya.
Ia mengingatkan, praktik politik dinasti sering berjalan berdampingan dengan kepentingan kapitalisme yang hanya mengejar keuntungan secara sempit. Karena Dinasti kapitalis tidak pernah benar-benar memajukan manusia—apalagi perempuan—tapi hanya mengejar profit.
“Bisa jadi itu adalah cara negara dan elite mempolitisasi tubuh serta kehadiran perempuan demi melanggengkan kekuasaan. Jadi seolah mendukung perempuan, padahal sesungguhnya memperkuat dinasti politiknya. Perempuannya dijadikan token, dinastinya yang dipelihara,” tutupnya. (ARJ)
