Salehuddin Bicara Pentingnya Pendidikan Kesehatan Jiwa

Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Salehuddin sebut pentingnya pendidikan kesehatan jiwa bagi masyarakat.
Caption: Anggota Komisi IV DPRD Kaltim, Salehuddin sebut pentingnya pendidikan kesehatan jiwa bagi masyarakat.(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Masalah kesehatan jiwa seringkali dianggap sebagai hal yang tabu atau memalukan, padahal stigma negatif ini dapat menyebabkan diskriminasi dan isolasi. Hal tersebut menjadi perhatian Salehuddin, anggota Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), yang mengatakan bahwa pendidikan tentang kesehatan jiwa untuk masyarakat masih kurang.

Salehuddin mengatakan bahwa para tenaga kesehatan harus memberikan pemahaman yang lebih kepada masyarakat, agar mereka dapat melihat gejala-gejala awal gangguan jiwa sebagai hal yang wajar.

“Itu yang kami rasakan, para tenaga kesehatan harus memberikan pemahaman yang lebih kepada masyarakat, agar persepsi-persepsi terhadap gejala awal gangguan jiwa itu seperti hal yang wajar,” katanya pada Selasa (25/10/2023).

Ia mengungkapkan bahwa pada tahap awal, masyarakat cenderung menganggap gangguan tersebut sebagai gejala stres, yang kemudian dapat berkembang menjadi depresi. Ketika sudah mencapai tingkat depresi, atau bahkan agitasi, barulah masyarakat menyadari bahwa itu adalah tanda gangguan jiwa.

“Padahal kalau bicara tentang kesehatan jiwa, gejala awalnya sudah sering terjadi di masyarakat, ini karena memang pengetahuan masyarakat tentang kesehatan jiwa dan gejala-gejalanya masih rendah,” ujarnya.

Politisi dari Golkar, yang baru-baru ini meraih BK Award DPRD Kaltim, berharap bahwa ke depannya, Dinas Kesehatan di Kaltim dapat memberikan sosialisasi lebih banyak tentang pendidikan kesehatan jiwa dan cara pencegahannya kepada masyarakat.

“Ini dianggap sebagai aib, padahal tingkat gangguan jiwa yang seharusnya mendapatkan terapi secara medis, sosial, dan psikologis,” ungkap Salehuddin.

Ia juga menyesalkan kurangnya fasilitas, alat, dan jangkauan dari Dinas Kesehatan, yang ia anggap tidak tersentuh atau kurang masif.

“Jika memang sering sosialisasi tentang kesehatan jiwa, masyarakat bisa mendeteksinya, misalnya harus ke psikiater, atau terapi sosial,” pungkasnya.

(adv/dprdkaltim/by)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+