Kartini Ride : Sinyal Kebangkitan ‘Lady Riders’ dari Jalanan Samarinda

Caption: Lady Biker Samarinda, Nana Anjani bersama motor Vespanya klasiknya.(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Jalanan ibu kota Kalimantan Timur tampak berbeda pada peringatan Hari Kartini tahun ini. Deru mesin motor dari berbagai jenis—mulai dari skutik, Vespa, hingga motor custom—memecah dominasi maskulinitas di jalanan hari Minggu (18/4/2026).

Salah satu sosok yang mencuri perhatian adalah Nana Anjani. Perempuan asli Samarinda ini membawa cerita panjang dari aspal Yogyakarta hingga kembali ke tanah kelahiran. Bagi Nana, motor bukan sekadar alat transportasi, tapi soal tanggung jawab dan kemandirian.

Sejak tahun 2003, Nana sudah akrab dengan dunia motor custom dan chopper. Meski kini ia lebih sering terlihat mengendarai Vespa yang ikonik, kemampuan teknisnya tidak bisa dipandang sebelah mata.

“Hari kartini ini bahwa perempuan itu setara dengan laki-laki. Bisa naik motor kopling, bahkan custom chopper. Saya sendiri minimal bisa tanggung jawab di jalan kalau ada kendala teknis ringan,” tegas Nana.

Baginya, transisi dari motor custom ke Vespa adalah bentuk eksplorasi tanpa batas. Ia berharap keberaniannya ini bisa memotivasi perempuan lain di Samarinda untuk tidak ragu mencoba ride dan berkumpul.

Inilah Kartini Ride, sebuah gerakan yang digagas Bunga, Panitia pelaksana melalui Play Land on Wheels, yang membuktikan emansipasi kini juga bergulir di atas aspal.

Bukan Sekadar Riding, Tapi Ruang Eksistensi Bunga, sang inisiator menyadari selama ini pengendara perempuan seringkali “tak terlihat” atau hanya menjadi pelengkap dalam komunitas otomotif.

Memasuki tahun kedua, Kartini Ride bertransformasi dari sekadar kumpul-kumpul di Fiesta Motor menjadi sebuah gerakan inklusif.

“Kami ingin menyatukan teman-teman yang suka motoran, all genre. Pengen banget ngumpulin cewek-cewek di Kaltim, terutama Samarinda, supaya punya ruang kegiatan sendiri. Selama ini jarang sekali kita lihat cewek-cewek motoran secara kolektif,” ujar Bunga.

Acara tahun ini juga berhasil menarik perhatian kalangan akademisi dan penggiat budaya, menandakan gerakan motoran perempuan mulai dipandang sebagai fenomena sosial yang positif.

Sentuhan Budaya dan Diskusi Kartini

Perjalanan berakhir (finis) di halaman parkir Hotel Puri Senyiur. Namun, ini bukan sekadar akhir dari riding. Begitu mesin dimatikan, para peserta disambut dengan penampilan Tari Dayak asal suku Dayak Bahau, dari Apo Palagan Samarinda. Kehadiran unsur budaya ini memberikan identitas kuat bahwa gerakan motoran di Kaltim tidak melupakan akar tradisi lokal.

Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi hangat bertema Hari Kartini. Di sini, sosok seperti Nana Anjani dan Bunga berbagi perspektif tentang bagaimana perempuan masa kini harus berani mengambil peran, mandiri secara teknis, dan memiliki ruang ekspresi yang setara.

Pesta Komunitas dan Food Truck

Untuk mengganjal perut setelah perjalanan panjang, area parkir Puri Senyiur disulap menjadi pasar kuliner dadakan. Berbagai unit food truck tersedia menyajikan makanan dan minuman, menciptakan suasana akrab layaknya pesta kebun bagi para pecinta otomotif.

“Kami ingin menunjukkan bahwa perempuan motoran itu bisa punya wadah yang positif. Ada diskusinya, ada budayanya, dan tentu saja ada kebersamaannya,” ungkap Bunga, inisiator Play Land on Wheels.

Dengan suksesnya acara tahun ini, Play Land on Wheels mengirimkan pesan kuat: bahwa di Samarinda, perempuan tidak lagi hanya duduk manis di jok belakang, tapi mereka adalah pemegang kendali di depan.

Solidaritas Tanpa Sekat

Kartini Ride bukan hanya soal pamer kendaraan, melainkan tentang membangun solidaritas dan mematahkan stigma.

Di masa depan, Bunga dan teman-teman lady riders berharap Samarinda menjadi kota yang ramah bagi pengendara perempuan, apapun jenis motornya.

Selamat Hari Kartini untuk para perempuan tangguh di atas roda dua. Teruslah melaju, karena aspal tidak pernah menanyakan apa gender pengendaranya. (J)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+