Sang Pandai Sepatu Menyusuri Kota Samarinda, Terima Panggilan

Dadang adalah sang pandai sepatu yang merantau dari Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat. Setiap hari ia menyusuri Kota Samarinda untuk menghidupi anak dan istrinya. (Foto/HAE)
Caption: Dadang adalah sang pandai sepatu yang merantau dari Kota Kembang, Bandung, Jawa Barat. Setiap hari ia menyusuri Kota Samarinda untuk menghidupi anak dan istrinya. (Foto/HAE)(Adakah.id)
Selain berkeliling menyusuri jalan dan gang, si pandai sepatu ini juga menerima panggilan dan dapat dihubungi melalui WhatsApp dengan nomor 082351048445.

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Teriakan ‘sol sepatu!’ kerap terdengar melintas di permukiman kita. Walau sudah semakin jarang. Namun mereka masih ada. Dadang adalah satu di antara sang pandai sepatu.

Sol sepatu sendiri di Indonesia banyak yang mengartikan sebagai suatu kegiatan perbaikan sepatu pada bagian sol (lapisan karet terbawah) mulai dari menyukil, menjahit, mengelem, hingga pergantian bahan.

Benang nilon, jarum sol, lem aibon, alat cukil sol sepatu, lem korea dan sejumlah perkakas lainnya telah menyesaki dua kotak perkakas kayu yang dilapisi cat minyak berwarna biru, ditambah segulung karet matras tipis, serta dua pasang sepatu yang telah selesai direparasi.

Mentari mulai menyinari kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim), waktu setempat menunjukan pukul 08.00, dan Dadang telah siap memikul dua perkakas kayu tersebut untuk menyusuri jalanan juga gang demi-demi gang.

Dadang sudah berusia 50 tahun. Ia berasal dari Jawa Barat (Jabar), sebelum menginjakan kakinya di Kota Tepian pada tahun 2009 silam, di tahun 2000 ia juga pernah ke Batam bekerja sebagai tukang sol sepatu.

Meski usia sudah setengah abad, Dadang memilih untuk jalan kaki puluhan kilometer. Dengan segala perkakasnya, Dadang keliling menyusuri jalanan dan melintasi gang setiap harinya, di seputaran wilayah Samarinda Kota, Sambutan hingga Sempaja.

Ia sendiri tinggal di kontrakan yang berada di daerah Karang Asam.

“Naik Angkot (Angkutan Kota) dulu ke daerah mana gitu, terus jalan,” kata Dadang saat dijumpai di Langgar Annazir, Jl Pangerang Suryansyah, Kelurahan Karang Mumus, pada Rabu (20/9/2023).

Ia yang telah 30 tahun lebih menjadi pandai sepatu, mengaku sejak awal tak pernah mengikuti kursus untuk keterampilannya ini.

“Dulu ada yang ngajarin, pas masih di kampung,” katanya lagi, sembari mereparasi sepatu New Balance berwarna hijau tua bagian kiri.

Untuk sepasang sepatu harga jasa reparasi yang Dadang tawarkan bertarif mulai dari Rp20 ribu hingga Rp35 ribu, harga ditentukan sesuai dengan tingkat kesulitan atas sepatu yang akan diperbaiki. Sedangkan sepasang sandal biasanya mulai dari harga Rp15 ribu.

Sementara untuk pengeleman saja mulai dari harga Rp10 ribu. Selain itu ada juga jasa mengganti sol sepatu yang bertarif kisaran harga Rp50 ribu, semuanya tergantung dari banyaknya bahan yang digunakan dan tingkat kesulitan.

“Kalau nambah alas gitu biasanya Rp50 ribu, tergantung bahannya juga sih,” ucap Dadang.

Dadang bercerita, dalam sehari pernah hanya mendapat satu pelanggan saja. “Alhamdulillah ada aja,” ujarnya, sambil menyukil membuat pola jahitan pada sepatu New Balance hijau tua bagian kanan.

Dari pengamatan awak media Adakah.id reparasi atau penambahan jahitan pada sepatu pertama, dimulai dari membuat pola garis sebagai jalur benang dengan alat cukil pada pinggiran sol sepatu.

“Kalau dulu, alatnya ini bikin dari kawat payung bekas,” jelas Dadang.

Benang yang telah siap, digosok dengan sebatang lilin, agar licin saat ditarik dari sol.

“Bahan sepatu yang kaya gini harus tajam, karena bahannya beda,” jelasnya lagi.

Kemudian jarum sol akan ditusukkan pada permukaan sol sepatu yang telah diberi garis pola, lalu benang ditarik dengan pengait pada jarum tersebut. Jika sol keras untuk ditusuk, selain diasah jarum sol juga digesek dengan lilin.

Dari pekerjaannya mereparasi sepatu, perharinya Dadang biasa mendapatkan penghasilan yang tak menentu, sedikitnya Rp100 ribu.

Selain berkeliling menyusuri jalan dan gang, Dadang juga menerima panggilan dan dapat dihubungi melalui WhatsApp dengan nomor 082351048445.

“Ini harus diantar (menunjuk 2 pasang sepatu) ke daerah Awang Long, semalam diantar orangnya ke kontrakan, dia memang langganan,” sebut Dadang.

Asal tidak berbahan besi, semua sepatu dapat ditanganinya, mulai dari sepatu safety hingga sepatu sepeda.

“Kalau sepatu safety susah bagian depannya aja, ada besinya,” terangnya.

Demi kelangsungan hidup, Dadang merantau dari Jabar meninggalkan seorang istri, dan 2 orang anak. Anak pertama telah berumah tangga, yang kedua masih duduk dibangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

“Keluarga di kampung semua, kadang pulang kampung setahun sekali,” ungkapnya.

Sepasang sepatu New Balance warna hijau dan sepatu Skecers running warna abu-abu telah rampung Dadang reparasi, total seluruhnya harus dibayar senilai Rp40 ribu.

Pelanggan yang merasa puas dengan hasil reparasi dari tangan terampil Dadang, kemudian bertanya apakah bisa mereparasi sepatu sepeda yang solnya berbahan plastik.

“Kalau sepatunya ada, coba saya lihat dulu,” sahut Dadang seraya memberi uang Rp10 ribu kembalian dari harga dua pasang sepatu.

(HAE)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+