Prof Susilo Gandeng Lembaga Pendidikan Amerika dan Eropa (Habis)

Caption: Bacalon Rektor Unmul, Prof Susilo Ma'ruf(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA –  Sebagai salah satu alumnus program Doctoral kampus di luar negeri. Susilo optimis dapat menjalin kerjasama yang strategis dengan jejaring yang ia dan timnya miliki.

Dalam wawancara yang dilakukan adakah.id hari Senin (13/6/2022) lalu disalah satu warung makan bilangan Jalan Jenderal Gatot Subroto. Profesor Susilo Ma’ruf menyebut dirinya adalah alumni Beasiswa Fulbright, First Doctoral yang berafiliasi dengan Universitas Citu University Of New York (CUNY) Amerika Serikat.

Tak hanya itu, ia juga memiliki beberapa rekan di Colombia University. Kemudian di Adelaide University yang sudah berhubungan kuat dan nyata terlebih Australia dan Amerika. Selanjutnya untuk Eropa serta Jepang disebutnya bisa diolah rekan sejawatnya.

“Di sana (USA – Australia, red) saya menjalani pendidikan lanjutan. Jadi banyak teman-teman saya. Tentu saya akan menggandeng teman-teman dari fulbrigth karena saya alumni dari kampus CUNY,” kata Prof Susilo.

Ia optimistis, kerjasama internasional insyaallah sebut dia tinggal tune in, lantaran pernah bekerja di Adelaide. Sebagaimana contoh mulai dari nol hingga menjadi science vice chancellor (rektor, red) kerjasama dilakukan hingga telah mendirikan double degree. Dengan begitu kedepan mesti banyak program – riset dan kolaborasi riset.

“Tinggal bidangnya aja ya kan, itu yang menjadi modal dasarnya,”ucapnya.

Unmul Mesti Menganut Nilai Global

Pengakuan atau eksistensi mesti diwujudkan melalui pergaulan baik di daerah, nasional dan internasional.

Untuk itu, nilai – nilai Hak Asasi Manusia (HAM) mesti diikuti terlebih civitas akademika Universitas Mulawarman.

Salah satunya adalah melakukan implementasi Permendikbud Nomor 30 tahun 2021.

Disebutnya hal itu dalam bingkai kebhinekaan global yakni terkait dengan gender, HAM, dan sebagainya.

Sebab Unmul akan bertaruh lantaran bergaul secara global. Sehingga hal-hal yang bersifat kemanusian akan ia perhatikan.

“Karena memang dunia seperti itu, di dalam mengelola lembaga ini hilirnya SDM (Sumber Daya Manusia) dan stakeholder yang diluluskan, sehingga keduanya harus memiliki perspektif global dan religius,”ujarnya.

kekuatan SDM yang ada di Unmul disebutnya akan dihasilkan Unmul yakni, dosen, staf, dan semua stakeholder. Selain itu juga mahasiswa yang lulus, mesti begitu mengarah kepada kemampuan skill global yang siap bertarung di khasanah percaturan global.

Maka seperti climate change, gender dan HAM menjadi konsen isu – isu yang mesti dilaksanakan karena di kementerian juga turut digulirkan.

”Tentang implementasinya nanti kita secara khusus kita detailkan,” sebutnya.

Perhatian Terhadap Isu Kelompok Minoritas di Kampus Lebih inklusif

Lantaran memiliki perspektif berbhineka global, Susilo tidak membedakan – bedakan, tentunya mengedepankan proporsional dan profesional. Dengan begitu semua mesti diperhitungkan dengan pertimbangan matang dan dari masukan banyak pihak.

“Di Kaltim ini kan banyak sekali pihak yang perlu kita dengar, karena Unmul ini miliknya Nasional tapi yang paling dekat ya orang Kaltim, yang mendirikan pun tokoh-tokoh di Kaltim. Semua yang berkaitan dengan hal-hal seperti itu kita nanti akan bicarakan dengan lintas pihak, sesuai perkembangan-perkembangan di Kaltim,” jelasnya.

Sejalan dengan Kemendikbud RI yang menghendaki lulusan mahasiswanya tidak hanya menjadi menara gading namun secara keilmuannya, bisa membawa manfaat bagi sekitarnya. Dengan begitu, lulusan – lulusan Unmul bisa bersanding dengan perusahaan dan pemerintah daerah, karena sejatinya Unmul akan mencetak tenaga yang akan bersanding dengan pemerintah dan swasta.

“Porsinya akademisi yang harus kita gaspol, tapi ada hal-hal selain itu kita dengar dari berbagai stakeholder,” urainya.

Mengedepankan Gagasan Akademisi Humanistik

Sebagai informasi, sejak Susilo menjabat Kepala program studi (Kaprodi) program pasca sarjana (S2) Bahasa Inggris tahun 2010, bersama jajarannya ia merintis program Double Degree bahasa Inggris S2. Kemudian sudah ada 3 orang yang meneruskan hingga saat ini terus berjalan.

“Itu artinya pada saat itu saya sudah berpikir internasional,” ucapnya.

Dijelaskan pula, ketika dirinya menjadi kepala Lembaga Pusat Penelitian dan Pengabdian Mahasiswa (LP2M) dirinya mengikuti kebijakan dan tidak melampaui wewenang rektorat karena lembaga tersebut adalah unit di bawah rektorat.

Publik dijelaskannya bisa melihat data penelitian melalui SINTA.

“Jadi saya berbicara strong humanis leadership disitu nanti implementasinya, sudah saya terapkan. Saya meyakini ishayaallah dengan rihdo allah akan bisa digagasan itu,” bebernya.

Gambaran Kerjasama Internasional

Menyaring saran dan masukan teman-teman di Unmul yang banyak dari luar yang baru lulus dari luar dan dalam negeri yang sudah lama. Namun memiliki kedekatan dengan universitas-universitas untuk kerjasama itu yang ingin dimaksimalkan

Dalam 100 hari kerja Susilo akan membuat sebuah maidstone yang bukan hanya dikertas on paper saja, melainkan sebuah simpul-simpul untuk menindaklanjuti karena sudah ada kontak person, dan sekarang secara internasional, menghubungi universitas internasional itu lebih mudah melalui aplikasi daring yang sudah tersedia.

Semisal menggunakan zoom, surat menyurat, email atau skype untuk menghemat anggaran.

“Begitu sudah memerlukan action barulah bergerak. Kalau sudah matang baru kita kunjungan ramai – ramai ke Amerika atau Eropa. Itu pandangan saya tentang Universitas berkelas internasional,” paparnya.

Paling penting adalah kelas internasional semisal sebut Susilo ada satu atau dua yang internasionalkan agar membuat mata dunia terbuka.

Karena visi-misi Unmul berkelas internasional. Rektor memperkuat visi dan dijalankan. Sebagai contoh kampus UGM, ITS atau ITB yang masuk kelas dunia, dimana kegiatan mahasiswanya tidak pernah sepi, hingga sampai malam.

Sebab bentukan lulusan dan dosen berangkat dari kultur yang dibangun Universitas.

“Mahasiswa yang di luar negeri itu kan kulturnya begitu, sehingga kerjanya cepat. Jadi dari hulunya harus diperbaiki, mulai dari regulasi, statuta, dll, harus dikunci, sehingga percepatannya berjalan,” ujarnya.

Gebrakan Pertama di 100 Hari

Kerjasama dengan semua stakeholder bakal ia lakukan secara terbuka baik pemerintahan daerah (pemda) dan perusahaan swasta.

Ditambahnya lagi, pemerintah pusat bakal mendorong adanya praktisi mengajar yang sedang digalakkan Mendikbud. Menurutnya saat ini Unmul belum memiliki unit dosen praktisi. Untuk itu kedepan mesti ada sinergi antara pemda dan perusahaan serta Unmul sebagai urat nadi utamanya.

Dengan begitu, Unmul secara keterampilan bisa bermanfaat di pasar global industrinya baik  pendidikannya dan pemda nya berjalan dengan baik.

“Insyaallah kalau terpilih akan menjadi program 100 hari, semua komponen di Kaltim termasuk komunitas-komunitas yang memungkinkan bekerjasama dengan kita akan kita ajak berbicara,” imbuhnya.

Sebab menurut Susilo lagi, mendengar banyak masukan akan lebih baik pasalnya dalam membangun bangsa dilakukan tidak sendirian. Namun semua komponen harus bersama-sama bekerja.

Berkomitmen Merawat Demokratisasi Kampus

Indonesi menganut sistem demokrasi, Susilo menyebut semisal demonstrasi sehari semalam, selama seminggu ia tidak mempermasalahkan asalkan tidak merusak.

“Istilahnya mau duduki kantor rektor, duduk dan tidur sama saya di sana tidak masalah, kasih saja ide – ide. Jadi saya tidak alergi dengan itu,” tegasnya.  

Hal itu sesuai dengan perspektif bhineka global yang ia usung yakni, berbeda pendapat hal wajar namun tidak boleh berbuat tindakan kriminal dan kekerasan yang menjurus pada pidana.

Justru menurutnya, demonstrasi sebagai kontrol kepada seluruh stakeholder di Unmul. 

“Dengan begitu kita sadar dan mau memperbaiki, tapi kalau kita marah berarti bukan pemimpin. Itu prinsip saya,” pungkasnya. (Sam/Yos)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+