ADAKAH.ID, SAMARINDA – Jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda terlihat berbeda dengan nuansa pakaian adat Kutai pada upacara perayaan HUT Pemkot Samarinda ke-62 dan Hari Jadi Kota Samarinda ke-354 di lapangan Gor Segiri pada Jum’at, (21/1/22) lalu.
Wali Kota Samarinda Andi Harun dan Wakil Wali Kota Samarinda Rusmadi Wongso, dan seluruh pejabat daerah serempak menggunakan busana adat Kutai bernama ‘Takwo’ dengan dipadukan dengan sarung tenun khas Samarinda.
Dikatakan langsung usai upacara, baju ini memiliki makna sendiri dalam perayaan HUT.
“Samarinda adalah kota yang sangat heterogen. Baik dari suku bangsa, agama, dan latar belakang sosial lainnya,”
“Pemilihan kostum bercorak Kutai, dan sarung itu pengingat atas peristiwa sejarah yang tak bisa dilupakan semua orang,” terang Andi kepada awak media.
Dari sejarahnya, Andi meneruskan, Samarinda memang tidak lepas dari Kerajaan Kutai Kertanegara Ing Martadipura. Sejarah Samarinda pun juga disaksikan di Lapangan Kinibalu Jalan Gunung Arjuna.
Melalui baju adat ini, Andi meminta seluruh pihak untuk tidak boleh melupakan sejarah Samarinda itu sendiri.
Ornamen dalam bajunya ini pun memiliki arti tersendiri. Ada bentuk bunga yang memang tumbuh subur di dataran Kutai Kertanegara. Disampingnya, ada simbol Pesut Mahakam. Serta, tali tambang. Yang diartikan kebersamaan dan gotong royong.
“Tanah Samarinda, bumi Samarinda adalah bumi yang pernah bergabung dengan kerajaan Kutai Ing Martadipura. Bahkan secara psikologis, sampai hari ini masih tergabung. Dan itu tidak boleh terputus,” tutup Andi. (Sam)
