ADAKAH.ID, SAMARINDA – Organisasi buruh disebut-sebut memberi dukungan terhadap pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara.
Hal itu mencuat lantaran 4 (empat) pimpinan Konfederasi Buruh, yakni Said Iqbal (Ketua KSPI), Ely Rosita (ketua KSBSI), Hermanto (Sekjen KSPSI), dan Ilhamsyah (Ketua KPBI) mengikuti rangkaian ikrar komitmen terhadap IKN, sekaligus HUT Bhayangkara ke-76, di Titik Nol IKN Nusantara, Jumat (17/6/22) kemarin.
Sebelumnya ramai pemberitaan media terkait berbagai elemen mahasiswa, pemuda, dan buruh menyatakan komitmen mengawal pembangunan IKN. Dalam warta tersebut, mewakili elemen buruh, Said Iqbal menyampaikan perasaan senang terhadap kehadiran Ibu Kota kelak dengan masterpiece yang luar biasa.
Video dengan pembuka instrumen musik disertai dengan keterangan Presiden Partai Buruh, Said Iqbal seolah – olah skeptis dengan sikap dukungan Presiden KSPI tersebut.
“Pada intinya kami buruh tentu melihat ada 150.000 buruh yang akan bekerja di dalam IKN, ini satu masterpiece besar buat bangsa Indonesia,” ungkapnya Said Iqbal, dikutip dari cuplikan video sambutan yang beredar whatsapp.
Dalam sambutan itu turut hadir Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Selain itu tampak disebelah Said Iqbal Wakil Gubernur Kaltim, Hadi Mulyadi.
“Juga bagaimana mengembangkan satu kota, dimana semua terintegrasi secara Smart Forest City itu, kota yang di konsep rasanya melebihi Eropa tapi tidak meinggalkan nilai tradisional Nusantara, luar biasa kita tentu senang,” lanjut pria yang juga sebagai Presiden Partai Buruh.
Terkait hal tersebut, pernyataan salah satu pemimpin buruh, Said Iqbal menuai berbagai respon mulai dari aktivis HAM hingga aktivis Lingkungan di Kalimantan Timur.
Seperti yang diungkapkan aktivis HAM, Herdiansyah Hamzah, ia menilai sikap mendukung IKN menjadi berbenturan dengan semangat perjuangan buruh, terlebih partai yang dipimpin Said Iqbal, Partai Buruh.
“Dukungan terhadap IKN itu kontradiktif dengan semangat perjuangan partainya untuk melawan oligarki,” ungkap pria yang kerap disapa Castro saat dikonfirmasi Adakah.id melalui pesan Whatsapp, Sabtu (18/6/22) kemarin.
“Kalau dipahami dengan baik, IKN itu adalah proyek perluasan lapak bisnis kaum pemodal, pesta – pora para oligarki. Jadi kalau sikapnya mendukung IKN, artinya membela kepentingan bisnis oligarki,” imbuhnya.
Said Iqbal yang merupakan presiden Partai Buruh, lanjut Castro, tentu kehadirannya akan dianggap mewakili partai pemilik jargon Negara Sejahtera tersebut.
“Karena ketua partai ada simbol yang selalu melekat dengan identitas partainya,” sebutnya.
“Apapun tindakan yang diambil adalah tindakan yang mencerminkan sikap partainya, meskipun dilakukan secara individual,” sambung akademisi Universitas Mulawarman Samarinda itu.
Senada, Dinamisator JATAM Kaltim, Pradarma Rupang menyayangkan pernyataan dukungan terhadap IKN tersebut. Menurutnya, kelompok buruh harus memiliki kertas posisi yang jelas, yang dihasilkan dari hasil riset, dalam hal ini perburuhan dalam kaitannya dengan pembangunan IKN.
“Dimana kertas posisi mereka, dimana publikasi ilmiah mereka, jangan hanya dukungan semu saja,” cetus Rupang sapaanya dikonfirmasi melalui sambungan telepon seluler, Minggu (19/6/22).
Aktivis lingkungan Kaltim yang bersuara keras menolak rencana IKN itu menyebut, seharusnya gerakan sosial termasuk gerakan buruh, dapat lebih aktif menggali pengetahuan dari masyarakat Kaltim, bahkan masyarakat Jakarta terkait rencana pemindahan Ibu Kota Negara.
“Bukan hanya mendapat narasi tunggal dari pemerintah,” katanya.
Terpisah, dikonfirmasi Ketua Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) Ilhamsyah menepis terkait adanya dukungan terhadap pembangunan IKN. Kedatangan dirinya dan ketiga pemimpin organisasi buruh lainnya tidak dalam rangka menyatakan komitmen tersebut.
“Mabes (Markas besar) Polri datang ke kami. Meminta Ely (Ketua KSBSI, red) karena dia (Ely) perempuan diminta untuk membacakan komitmen terhadap IKN. Tapi diberikan pilihan ikut atau tidak,” ungkap Boing sapaanya dikonfirmasi melalui telepon seluler, Minggu (19/6/22).
“Kami bertiga yang dihampiri langsung mendiskusikan, dan memutuskan untuk tidak ikut pembacaan komitmen itu,” sambungnya.
Ketua Badan Pemilu (Bapilu) Nasional Partai Buruh tersebut menjelaskan, Said Iqbal juga tidak menginginkan pembacaan komitmen tersebut.
“Besok paginya, ketemu bung Iqbal, sebelum berangkat ke lokasi, kita sampaikan hasil diskusi semalam, Iqbal juga setuju tidak ikut pembacaan komitmen tersebut,” terangnya.
Lanjut Boing yang juga aktivis 98 itu, kehadiran unsur serikat buruh hanya sebagai tamu undangan sebagaimana unsur Mahasiswa Cipayung lainnya, pada rangkaian HUT Korps Bhayangkara. Namun di lapangan, Said Iqbal diminta memberikan sambutan.
“Di lokasi, kami mendengarkan pemaparan konsep IKN, acara berjalan, kemudian Kapolri memberi sambutan, Said Iqbal sebagai perwakilan serikat buruh dipanggil, walhasil Bung Iqbal diminta untuk memberi sambutan,” tutupnya.
(Sam/Yos)
