Komisi I DPRD Samarinda Minta Warga Tidak Mudah Terpancing Narasi Provokatif di Media Sosial

Caption: (Ketua komisi I DPRD Samarinda, Samri Shaputra)(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Arus informasi yang bergerak cepat di media sosial kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Namun, di tengah meningkatnya aktivitas digital dan memanasnya dinamika politik, kekhawatiran terhadap munculnya narasi yang menggiring opini publik turut menjadi perhatian DPRD Kota Samarinda, terutama terkait maraknya aktivitas buzzer di ruang digital.

Kepada awak media, ketua komisi I DPRD Kota Samarinda, Samri Shaputra, menyampaikan keberadaan buzzer saat ini semakin sulit dipisahkan dari percakapan publik di media sosial.

Dirinya mengamati praktik tersebut kerap digunakan untuk membangun persepsi tertentu, baik dalam memperkuat citra positif pihak tertentu maupun menyerang kelompok lain, terutama saat tensi politik meningkat.

“Fenomena yang terlihat belakangan ini bukan semata soal benar atau salahnya sebuah informasi, tetapi bagaimana opini dibentuk dan diarahkan untuk kepentingan tertentu. Karena itu, masyarakat perlu lebih berhati-hati dalam menyikapinya,” Ungkap Samri. Senin (25/5/2026).

Lebih lanjut, Samri meminta masyarakat tidak boleh mudah menerima setiap informasi yang viral tanpa melakukan verifikasi. Dirinya juga mengingatkan tidak semua konten yang ramai diperbincangkan memiliki dasar fakta yang kuat, sehingga publik perlu meningkatkan kehati-hatian sebelum mempercayai maupun membagikan informasi di media sosial.

Selain itu, Samri juga menyoroti aspek psikologis yang memengaruhi cara seseorang memahami informasi di ruang digital. Kondisi emosional, suasana hati, hingga pengalaman pribadi disebut dapat memengaruhi penafsiran seseorang terhadap suatu unggahan atau komentar.

“Setiap orang bisa menangkap makna berbeda dari sebuah informasi tergantung situasi emosinya. Karena itu, penting untuk tidak langsung bereaksi secara emosional terhadap sebuah unggahan,” Ucapnya.

Melalui kondisi tersebut, politisi dari fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu, berharap masyarakat untuk tidak mudah terpancing narasi provokatif yang berpotensi memicu konflik sosial maupun perpecahan. Samri meminta pengguna media sosial lebih bertanggung jawab dalam membuat dan menyebarkan konten agar ruang digital tetap menjadi tempat diskusi yang sehat dan produktif.

“Media sosial seharusnya menjadi ruang bertukar gagasan yang membangun, bukan justru memperkeruh keadaan atau menimbulkan konflik di tengah masyarakat,” Tutup Samri. (ADV)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+