ADAKAH.ID, KUTAI KARTANEGARA – Memasuki awal tahun 2024, Kukar dikejutkan dengan serangkaian kasus kekerasan yang menimpa kelompok paling rentan: anak-anak. Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kukar mencatat lonjakan kasus yang mencerminkan krisis sosial yang mendalam.
Dari Januari hingga Februari, tercatat tidak kurang dari 30 insiden yang menggugah kesadaran kolektif tentang perlunya perlindungan lebih bagi anak. Insiden terbaru yang menggemparkan adalah kasus pelecehan seksual terhadap tiga bocah di Sebulu oleh dua senior warga.
Hero Suprayetno, Sekretaris DP3A, menegaskan bahwa mereka telah bergerak cepat merespons situasi.
“Kami telah mengirimkan tim psikolog dan penasihat hukum untuk mendukung korban dalam mengatasi trauma dan melalui proses hukum,” ujar Hero.
Lebih lanjut, Hero menyoroti bahwa pelaku kekerasan sering kali berasal dari lingkaran dalam korban, menandaskan urgensi edukasi dan kewaspadaan di lingkungan terdekat.
“Ini menunjukkan betapa pentingnya edukasi dan kewaspadaan dalam lingkungan keluarga,” imbuhnya.
Faridah, Kepala Unit Pelaksana Teknis Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA), menyoroti minimnya edukasi seksual sebagai akar masalah. “Kami melihat kebutuhan mendesak untuk mengedukasi orang tua tentang cara melindungi dan mendidik anak-anak mereka,” kata Faridah.
Faridah juga mengajak para ibu untuk aktif mengedukasi anak-anak mereka tentang batasan-batasan fisik.
“Kesadaran ini esensial untuk pencegahan kejahatan seksual,” tegasnya.
Sebagai tanggapan atas situasi ini, Pemerintah Kabupaten Kukar telah memperkuat jaringan perlindungan dengan membentuk Satuan Tugas Perlindungan Perempuan dan Anak di 193 desa sejak 2022.
“Satgas ini menjadi garda terdepan dalam menjaga hak-hak perempuan dan anak di wilayah kami,” tutup Hero.
(ADV/HI)
