Membaca Visi dan Misi Guru Besar FKIP di Pilrek Unmul, Majukan Kampus Lewat Ide dan Gagasan (2)

Caption: Bacalon Rektor Unmul, Prof Susilo Ma'ruf(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Proses Pemilihan rektor (Pilrek) Universitas Mulawarman (Unmul) tengah berjalan.

Dalam waktu dekat dikabarkan, panitia seleksi akan menyaring lima bakal calon (Balon) menjadi tiga calon.

Bagaimanakah persiapan Guru Besar Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unmul Samarinda Kaltim, Profesor Susilo Ma’ruf melapangkan jalannya menuju kursi Rektor.

Diwartakan sebelumnya, pada bagian pertama, redaksi adakah.id menurunkan berita berjudul; Meski gagal Dua Kali, Cita – Cita Guru Besar FKIP Memajukan Unmul Tak Pernah Padam (1).

Terkait persiapan suksesi pilrek Unmul, saat ini dirinya tengah menawarkan ide dan gagasan kepada para pemilik suara atau senat dalam rangka memperkuat dukungan.

“Sebagaimana calon lain, jadi kami pun sedang mencari dukungan dari temen-temen,” kata Prof Susilo Ma’ruf.

Sejalan dengan itu, Susilo mempersiapkan visi dan misinya. Agar lebih mengakomodir seluruh harapan komponen Civitas Akademika Unmul. Dirinya mencari dan terbuka dengan masukan-masukan dari semua unsur di Unmul.

“Visi dan misi sedang digodok,” imbuhnya.

Unmul menurutnya berpeluang memiliki masa depan yang lebih baik. Hal itu lantaran ke depan, hampir semua kampus-kampus besar sudah melirik Kaltim lantaran Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) ditetapkan pemerintah sebagai Ibu Kota Negara (IKN). Sehingga kampus-kampus besar sudah berencana mendirikan kampus di Kaltim.

“Jelas membuat Unmul terpacu untuk menjadi lebih besar,” katanya dengan optimistis.

Susilo memperkirakan, kedepan akan ada pergeseran arah pembangun yang sebelumnya terpusat di Jawa menjadi Indonesia bagian tengah terlebih Kaltim.

Dengan begitu, visi Unmul menjadi Universitas Berkelas Internasional sejalan, dengan kehendak pemerintah dan para stake holder atau pihak berkepentingan.

“Disitulah kita (Civitas, red) tertantang dengan perkembangan. Jadi harus sama-sama bangun,” paparnya lagi.

Sebab kata Susilo, kerjasama Internasional tidak lagi sulit seperti dahulu. Namun bagaimana leadership memilik kemampuan agility atau lincah dan gesit, dalam mengelola peluang.

Selain itu, diperlukan juga memaksimalkan Sumber Daya Alam (SDM). Lalu sumber dari daerah dalam rangka bersama – sama bekerja, untuk mengungguli kampus lain yang lebih dulu maju.

“Insyaallah kalau saya terpilih sebagai Rektor. Saya bersama tim, serta semua komponen didalam kampus bakal diajak bekerjasama, untuk memaksimalkan potensi daerah,” ujarnya.

Untuk itu dirinya mengajak kepada stake holder terlebih Unmul tidak hanya berpangku-tangan. Namun harus memaksimalkan semua kompenen di daerah terlebih dahulu. Kemudian pihak luar otomatis bakal membantu.

“Jadi mesti kita sendiri yang harus muncul mengejar kesempatan itu,” ajak Susilo.

Dalam pembacaannya, sdm Kaltim cukup banyak yang luar biasa terutama di Unmul. Dengan begitu sebut Susilo, stake holder di dalam Unmul harus gesit untuk mempromosikan dan memberikan kekuatan dari dalam.

Dengan begitu diharapkan, Unmul bakal sejajar dengan kompetitor lainnya mengejar kampus sesuai standar Internasional yang akan dibangun.

“Dari sisi pendidikan, inovasinya kemudian insertnya dari sisi industri out-incomenya. Dari macam-macam itu lah kita harus lincah,” ucap Susilo lagi.

Bangun Komitmen dengan Fakultas se Unmul

Susilo kembali mengatan, ketika seseorang menjabat tentunya ada tagihan dari setiap warganya. Ia mencontohkan menteri menagih rektor, rektor menagih dekan. Hal itu lantaran sudah merupakan aturan hirarki Unmul sebagai suatu lembaga atau organisasi.

Kendati begitu, perlu dikedepankan adanya transformasi setiap fakultas melalui program yang konkrit. Satu program yang ketika dikelola dapat sekali jalan. Bahkan berjalan tanpa kelola karena terjadi keberlanjutan dari program itu. Namun untuk diawal, mesti dikelola dengan baik.

“Program transformasi itu harus ada. Setelah dikelola berapa tahun, selebihnya jalan sendiri dia (program setiap fakultas, red)” ungkapnya lagi.

Ditambahkan Susilo lagi, lantaran mengarah pada Universitas Berkelas Internasional. Unmul menurutnya tidak hanya berpatok pada delapan Indikator Kerja Utama (IKU) standar nasional.

Dengan begitu standar Unmul mesti lebih di atas standar nasional.

“Makanya dibuat standar dulu di Unmul. Standarnya Unmul itu seperti apa, harus lebih dari nasional. Nah nantinya semua mengacunya ke standar itu,” bebernya.

Sehingga jelas kata dia lagi, baik ketua prodi atau ketua jurusan bahkan dekan, ketika bekerja sesuai rule atau koridor yang telah ditentukan bersama. Kendati saat ini standarnya sudah jelas. Namun dengan mengambil standar dan indikator Internasional. Pun jika tidak tercapai, minimal standar nasional dapat diraih.

Menyadur quetes Founding Father Soekarno ; Gantungkan cita-citamu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.

“Tapi perlu dikencangkan, levelnya diatas IKU nasional. kalau kita ambilnya nasional, dan tidak tercapai kan jadinya di bawah nasional, kalau ngambilnya diatas nasional, setidaknya nasional tercapai,” ungkapnya.

Tempatkan Empat Bacalon Rektor sebagai Kolega

Gesturnya yang gembira, seraya percaya dengan diri sendiri menunjukkan sikap yang tidak pantang menyerah. Mengabdikan hidupnya untuk pengembangan seluruh potensi keilmuan ilmiah terbaik, bagi perguruan tinggi terbesar di timur borneo.

“Saya melihat positif saja, itu internal masing-masing. Sehingga saya dengan empat bacalon lainnya ini baik-baik saja, tidak ada sentimen apa-apa, karena memang semua kolega saya. itu yang menjadi konsen saya di dalam kompetisi ini,” imbuhnya.

Lulusan Sarjana (S1) IKIP Universitas Negeri Malang tahun 1991 itu menambahkan, dirinya tak ingin jumawa dengan karya yang ia hasilkan, terlebih kepada keempat pesaingnya sesama kontestan pilrek Unmul.

Selain berusaha dengan mengandeng seluruh Senat Unmul, Susilo percaya keputusan akhir ada pada Tuhan YME. Bersama timsesnya, ia bakal terus bekerja maksimal untuk pemenangan dan terpenting baginya, civitas akademika Unmul adalah kawan.

“Empat orang ini adalah kolega saya, sehingga tidak ada dendam, tidak ada saling menjatuhkan, jadi kami berusaha untuk sportif dan mengedepankan ide-ide dan gagasan-gagasan,” terang dia lagi.–Bersambung– (Sam/Yos)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+