Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Keluhkan Pelayanan RS AWS Samarinda

Caption: Rumah Sakit A Wahab Sjahranie. Ist(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Ketua Komisi IV DPRD Kaltim H Akhmed Reza Fachlevi menyampaikan kekecewaannya terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum (RSU) Abdul Wahab Sjahranie Samarinda, dalam kasus kematian seorang bayi dari Muara Badak akibat tidak mendapatkan pelayanan yang maksimal.

“Ini bukan kasus pertama, sudah ada juga kasus sebelumnya terkait kurang maksimalnya pelayanan di rumah sakit milik Pemprov Kaltim ini,” sebut Reza.

Reza mengaku sangat kecewa dan prihatin dengan kondisi yang dinilainya sering terjadi, dan menyoroti pentingnya manajemen RSUD AWS untuk transparan terkait kejadian ini.

“Manajemen harus mengikuti prosedur pelayanan dan penanganan pasien yang seharusnya,” tegasnya.

Pemerintah, kata dia, wajib memberikan pelayanan kepada warganya. Tanpa ada diskriminasi.

Reza menekankan perlunya mencari solusi dan langkah-langkah yang tepat untuk memperbaiki sistem pelayanan di RS AWS agar kejadian serupa tidak terulang. Dia menekankan bahwa keselamatan dan kesembuhan pasien harus menjadi prioritas utama, tanpa membedakan antara pasien BPJS dan non-BPJS, miskin atau kaya.

Menyadari potensi ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan RSUD AWS, Reza mendesak Pemprov Kaltim untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terkait RSUD AWS guna memastikan kualitas pelayanan yang lebih baik bagi seluruh pasien tanpa terkecuali.

Direktur RSUD AW Sjahranie, dr. David Hariadi Masjhoer, memberikan tanggapan terkait berita meninggalnya seorang bayi di rumah sakit tersebut pada hari Jumat (28/6/2024) lalu. Ia menjelaskan kronologi kejadian dan upaya yang dilakukan pihak rumah sakit.

Bayi yang bernama Nadifah, berusia 6 bulan, dari Bontang, datang ke RSUD AWS pada pukul 18.55 Wita dengan keluhan diare dan muntah. Menurut dr. David, bayi tersebut mengalami obesitas, sehingga diagnosis awal dokter jaga UGD menyatakan dehidrasi sedang.

David menjelaskan bahwa pada pasien obesitas dan dehidrasi, pemasangan infus memang lebih sulit. Vena yang biasanya mudah diakses menjadi lebih sulit dicari, dan pembuluh darah yang mengecil akibat dehidrasi juga membuat prosesnya semakin rumit.

“Namun, beberapa saat kemudian, dokter anak yang datang mengatakan bahwa bayi mengalami dehidrasi berat. Hal ini dikarenakan pada bayi gemuk, diagnosis dehidrasi bisa lebih sulit,” ungkap Dr. David pada Rabu (3/7/2024).

Sejak awal, tim medis berupaya menangani Nadifah dengan cepat. Dalam waktu 5 menit setelah tiba di UGD, Nadifah sudah dibawa ke ruang resusitasi untuk pemasangan infus.

“Kemudian, karena kondisi venanya yang sulit dicari dan dehidrasi yang berat, pemasangan infus gagal. Tim medis kemudian mencoba memasang oksigen dan berkonsultasi dengan dokter anak lain,” tuturnya

Karena dokter anak yang bertugas sedang menangani operasi, upaya konsultasi tertunda. Upaya pemasangan infus dan akses lainnya terus dilakukan, namun sayangnya, Nadifah tidak dapat diselamatkan dan meninggal dunia.

Meskipun tim medis telah mencoba berbagai cara, termasuk memasang infus di beberapa tempat dan memberikan oksigen, kondisi Nadifah saat itu terbilang sudah parah.

RSUD AWS pun saat ini tengah melakukan audit internal untuk meninjau kembali kronologi kejadian dan memastikan tidak ada kelalaian dalam penanganan pasien.

“Kami turut berduka cita atas meninggalnya Nadifah dan menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga atas segala kekurangan dalam pelayanan kami,” ujarnya

Kasus ini menjadi pengingat bagi RSUD AWS untuk terus meningkatkan kualitas layanan dan memastikan keselamatan pasien. Rumah sakit juga berkomitmen untuk bekerja sama dengan keluarga Nadifah dalam menyelesaikan masalah ini. (*)

 

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+