Warga Lubuk Sawa Yakin Wali Kota Samarinda Akan Mengakhiri Penderitaan Mereka

Warga Lubuk Sawa, Mugirejo Melakukan Aksi Damai, Pasang Nisan Sebagai Simbolis. (Foto/HAE)
Caption: Warga Lubuk Sawa, Mugirejo Melakukan Aksi Damai, Pasang Nisan Sebagai Simbolis. (Foto/HAE)(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Derita menahun akibat jalanan jelek yang dialami oleh warga Jalan Sepakat, Lubuk Sawa RT 16, Kelurahan Mugirejo, Kecamatan Sungai Pinang, Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah.

Adalah Nurpati (49), yang sebelumnya merupakan bekas warga Sungai Karang Mumus (SKM) segmen Pasar Segiri. Sejak tahun 2017 ia dan beberapa warga lain yang terkena relokasi, dipindahkan pihak pemerintah ke daerah tersebut, mengaku menderita akibat jalan jelek yang tak kunjung ditangani.

Plang bertuliskan Gang Karya Berkah RT 16 menjadi pemisah antara jalan bagus yang telah dicor semen, dan jalan jelek yang masih berupa tanah merah, serta bebatuan dengan dugul yang mudah di mana-mana.

Setiap hari Nurpati pergi ke Pasar Segiri Samarinda untuk berjualan, 2 kilometer pertama ia harus melalui jalan tersebut untuk sampai ke rumahnya yang disebutnya juga ujung dunia, atau sebaliknya.

“Tua di jalan kasiang (kasihan),” kata Nurpati pada Minggu (25/6/2023).

Nurpati menceritakan kondisi jalan yang semakin parah jika turun hujan, mulai jalan yang berlumpur, becek, hingga banjir. Akibat dari kondisi tersebut banyak warga termaksud dirinya ogah-ogahan keluar rumah.

“Jalanan kaya begini kalau hujan bisa jatuhan dari motor, antar anak sekolah jatuh, makanya ada anak-anak nggak mau sekolah kalau hujan,” keluhnya.

Belakangan ini, Nurpati memikirkan anggota keluarganya yang sedang hamil tua, ia dan warga sekitar khawatir saatnya tiba waktu ketuban pecah, dan hujan turun.

“Jalanan begini saja sudah susah mau dibawa orang hamil, bagaimana hujan kasiang. Naik mobil amblas, naik motor jatuh,” keluhnya lagi.

Agar meminimalisir lubang yang ada, warga setempat kerap kali sokongan dan gotong royong untuk membeli batu, juga pasir sebagai tambalan jalan yang berlubang, kata Nurpati kalau habis hujan tetap saja nanti kembali rusak lagi.

“Tolong pak Wali Kota, kami tak mengerti bagaimana cara menyampaikan keluhan, harus datang kemana, mengadu ke siapa tak tahu,” ungkapnya.

Nurpati bersama warga lainnya yang telah tujuh tahun tinggal di wilayah tersebut, telah bosan dengan kondisi jalan yang ada membuat mereka melakukan aksi damai berharap dapat mengakhiri penderitaan yang ada.

Mereka berharap banyak dengan pemerintahan yang saat ini di jabat Andi Harun sebagai Wali Kota Samarinda, dan yakin kondisi jalan yang mereka lalui setiap hari dapat berubah.

Atas hal tersebut mereka membuat nisan yang dipasang di atas jalan tersebut, sebagai simbol terkuburnya penderitaan yang dialami mereka selama ini.

“Semoga jalanannya diperbaiki, tolong pak Wali Kota,” ujar Nurpati.

Warga daerah tersebut bersyukur atas listrik yang sudah sampai ke rumah-rumah mereka, saat pemerintahan masih dijabat Syahrie Jaang.

“Alhamdulillah listrik sudah masuk sini, awal di sini pakai mesin genset,” ujarnya lagi.

Selain kesabaran perlu kelihaian dalam mengendarai sepeda motor atau pun mobil saat hujan, sebab terpantau dalam kondisi kering pun jalan sulit dilalui, akibat tanah yang tak rata, batu berdugulan, dan lubang yang cukup dalam.

(HAE)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+