Tempias Hujan di Pasar Pagi Luput Dari Perencanaan PUPR Samarinda

Celah pada dinding balkon lantai 6 blok A di Pasar Pagi Samarinda.
Caption: Celah pada dinding balkon lantai 6 blok A di Pasar Pagi Samarinda.Celah pada dinding balkon lantai 6 blok A di Pasar Pagi Samarinda.(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda, Desy Damayanti, mengakui persoalan tempias hujan yang masuk ke lorong lapak Pasar Pagi baru memang tidak masuk dalam perencanaan awal pembangunan. Arah angin dari sisi Jalan Pandai menjadi faktor yang luput diperhitungkan sejak tahap desain bangunan.

Tak Dihitung dalam Perencanaan Awal Pasar Pagi Samarinda

Desy menjelaskan, secara struktural pihaknya tidak menghitung posisi masuknya air hujan ketika terjadi hembusan angin besar dari samping bangunan. Menurutnya, kondisi hujan dengan kekuatan angin tertentu sulit diprediksi dalam perencanaan awal.

“Ada perencanaan yang memang secara struktur kami tidak menghitung posisi air hujan ketika ada angin besar,” ujar Desy, Senin (5/1/2025).

Ia menegaskan, tempias tersebut tidak terjadi setiap kali hujan turun. Karena itu, hujan dengan intensitas tertentu yang disertai angin dari samping tidak dijadikan skenario utama dalam perencanaan.

“Kami di awal memang tidak bisa merencanakan sesuatu yang intensitasnya tidak banyak, termasuk terhadap angin dari samping dan kekuatan hujan seperti ini,” katanya.

Kanopi Jadi Opsi, Estetika Bangunan Pasar Pagi Samarinda Jadi Persoalan

Desy menyebut, solusi yang paling memungkinkan saat ini adalah pemasangan kanopi pada sisi bangunan yang terdampak. Namun, opsi tersebut dinilai bermasalah dari sisi estetika gedung Pasar Pagi.

“Secara estetika dipasang kanopi sebetulnya tidak bagus. Kalau kami menambah kanopi dari sisi kanan, bangunan tidak akan simetris. Yang terbuka itu kan sisi Jalan Pandai,” ujarnya.

Ia menambahkan, pemasangan kanopi hanya memungkinkan dilakukan di sisi kanan bangunan. Jika dilakukan di sisi kiri, dikhawatirkan akan memicu keberatan dari pemilik bangunan di sekitarnya karena aliran air hujan berpotensi mengarah ke area mereka.

Angin dari Sisi Jalan Pandai Pasar Pagi Jadi Faktor

Menurut Desy, tempias hujan berasal dari sisi kanan bangunan yang menghadap langsung ke Jalan Pandai. Kondisi tersebut diperparah oleh belum adanya bangunan di sisi tersebut, sehingga hembusan angin menjadi lebih kuat dibanding sisi lainnya.

“Kalau dari sisi kiri tidak, karena di sana banyak bangunan. Yang signifikan itu dari sisi kanan Jalan Pandai karena bangunan di sampingnya kosong,” ucapnya.

Meski dinilai mengganggu estetika, persoalan ini tetap akan menjadi bahan evaluasi. Desy mengatakan pihaknya akan membahas sejumlah opsi bersama tim teknis, termasuk alternatif penutupan lain yang berpotensi mengurangi pencahayaan alami.

“Opsinya banyak yang harus kami pertimbangkan. Nanti akan kami sampaikan dulu ke tim teknis, baru kami presentasikan ke TAPD dan wali kota,” pungkasnya.

Sebelumnya, keluhan pedagang mencuat setelah beredar video berdurasi 58 detik yang memperlihatkan air hujan menggenangi lorong lapak di lantai enam Pasar Pagi Samarinda, Sabtu (3/1/2026). Dalam video tersebut, seorang pedagang meminta perhatian pemerintah dan solusi konkret agar aktivitas jual beli tidak terganggu saat hujan disertai angin kencang.

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+