ADAKAH.ID, Afrika, benua terbesar setelah Asia itu merupakan wilayah yang mengalami konflik berkepanjangan, hal tersebut disebabkan baik faktor eksternal maupun internal. Tak terkecuali di salah satu negara di benua tersebut yakni Somalia.
Konflik-konflik di Afrika biasanya cenderung dipicu permasalahan sumber daya alam, etnis atau ras, serta perebutan wilayah dan kekuasaan. Oleh karena itu, tentu ada saja kelompok masyarakat yang mengambil keuntungan dalam hal tersebut, misalnya saja kelompok teroris Al-Shabaab.
Negeri yang bernama resmi Republik Federal Somalia merupakan negara Muslim di Afrika yang merdeka pada 1 Juli 1960. Sama seperti kebanyakan negara di wilayah Afrika, Somalia juga mengalami konflik-konflik, khususnya pada bidang pertahanan dan keamanan internal negaranya.
Negara yang terletak di tanduk Afrika itu telah mengalami berbagai macam konflik sejak awal kemerdekaannya, diantaranya ialah serangan bajak laut, perang internal antar kelompok masyarakat di Somalia, dan terorisme yang masih berlangsung hingga saat ini.
Atas konflik berturut-turut tersebut, Somalia merupakan negara yang memiliki tingkat keamanan yang sangat rendah yang menyebabkan keresahan pada masyarakat Somalia. Salah satu kasus yang saat ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat Somalia adalah teror yang dilakukan oleh kelompok Al Shabaab.
Harakat al-Shabaab al-Mujahidin atau Gerakan Belia Mujahidin atau singkatnya Al-Shabaab merupakan kelompok pemberontak yang berkembang dan aktif di Somalia. Tujuan dari kelompok Al-Shabaab adalah untuk mendirikan negara Islam dengan hukum yang sesuai dengan syariat Islam dan menghentikan segala aktivitas dan hubungan negara tersebut (red, Somalia) dari pengaruh negara barat.
Hal yang menandai perkembangan Kelompok Al-Shabaab yaitu dengan bergabung dengan United Islamic Court (UIC) untuk menyerang ibu kota Mogadishu dan ingin mengambil alih tata kelola Mogadishu serta sebagian wilayah Somalia di tahun 2006.
Kelompok teroris Al-Shabaab dengan ideologi baru yang dimilikinya mulai menyebabkan kekacauan di Somalia dengan menanamkan dan melakukan kerusuhan serta aksi teror yang menakutkan di seluruh daerah Somalia hingga mengacaukan Misi Uni Afrika di Somalia (AMISOM) ketika memulai operasi untuk memulihkan ketertiban dan keamanan Somalia.
Akibatnya, kelompok teror Al-Shabaab menjadi sangat meresahkan dan menimbulkan ketakutan, seperti ancaman keamanan bagi masyarakat Somalia. Selain itu, aksi dari kelompok teror Al-Shabaab juga berdampak pada sektor-sektor lain di Somalia, seperti politik, ekonomi, dan sosial.
Secara politik, aksi kelompok teror ini berhasil menjadikan perpolitikan Somalia tidak stabil karena pemerintahan Somalia masih belum mampu memberikan upaya penanganan dengan baik dan menjamin keamanan masyarakat Somalia, sehingga menyebabkan masyarakat Somalia merasa hilang kepercayaan kepada pemerintahan Somalia.
Sementara di sisi ekonomi, pemberontakan yang dilakukan Al-Shabaab ini juga menimbulkan kekacauan perekonomian. Dilansir dari data resmi Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (IFAD) menyatakan bahwa 40% dari populasi masyarakat Somalia yang berjumlah 10,4 juta jiwa mengalami kemiskinan dan kesenjangan ekonomi yang tinggi di Somalia.
Dapat dikatakan, bahwa pemerintah Somalia belum mampu menjamin perekonomian masyarakat akibat dari ketidakstabilan politik yang disebabkan oleh pembrontak kelompok teror Al-Shabaab.
Lebih lanjut dampak juga mempengaruhi kondisi sosial, pemberontakan Al-Shabaab telah menciptakan keresahan mendalam bagi masyarakat, maupun pemerintahan Somalia. Banyaknya kasus teror seperti pembunuhan, pengeboman, penculikan, pemerasan, dan hal hal kriminalitas lainnya menyebabkan Somalia sangat jauh dari kata aman.
Dan yang tak habis dipikir, bahwa kelompok Al-Shabaab juga memiliki kontrol khusus atas bagian-bagian tertentu di Afrika.
*artikel ini sepenuhnya tanggung jawab penulis
Editor: Has
Penulis : Rona Ria Lianda Ompu Sunggu / Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNMUL
