ADAKAH.ID, KUTAI KARTANEGARA – Desa Pela, yang terletak di Kecamatan Kota Bangun, Kukar, tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga pelajaran berharga tentang konservasi. Di tengah perayaan Idulfitri, desa ini menjadi saksi bagaimana interaksi manusia dan alam dapat berlangsung harmonis.
Alimin, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Pela, berbagi cerita tentang bagaimana desa ini menjadi tujuan wisata yang bertanggung jawab.
“Kami ingin pengunjung tidak hanya datang untuk bersenang-senang, tetapi juga memahami pentingnya menjaga alam,” ujar Alimin.
Selama lebaran, desa ini dikunjungi oleh ratusan wisatawan yang ingin menyaksikan Pesut Mahakam dan menikmati Danau Semayang.
Akses ke Desa Pela terbagi menjadi dua, yaitu melalui jalur air dari Desa Liang Ulu dan jalur darat khusus sepeda motor. Kedua jalur ini memberikan pengalaman yang berbeda dan menunjukkan upaya desa dalam mengelola pariwisata.
Tarif untuk menikmati Danau Semayang adalah Rp 400 ribu per kapal, sementara bagi pengendara sepeda motor, biaya yang diperlukan adalah Rp 200 ribu. Kapal feri yang tersedia dapat menampung hingga 20 orang, dan long boat berkapasitas 15 orang.
Homestay di Desa Pela menawarkan pengalaman menginap yang autentik dengan tarif Rp 200 ribu per malam, termasuk makan tiga kali sehari. Pengunjung dari berbagai daerah seperti Balikpapan dan Samarinda telah merasakan keramahan warga lokal.
Selain itu, museum nelayan di Desa Pela memberikan wawasan tentang tradisi dan kehidupan nelayan. Pengunjung juga dapat menyewa sepeda untuk menjelajahi desa melalui trek jembatan kayu ulin yang indah.
Desa Pela tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga kesempatan untuk belajar tentang konservasi dan kehidupan masyarakat lokal. Ini menjadikan Desa Pela destinasi yang unik dan berharga di Kalimantan Timur.
(ADV/HI)
