ADAKAH.ID, SAMARINDA — Kebakaran lahan semak belukar berukuran masif melanda kawasan Kelurahan Rawa Makmur, Kecamatan Palaran, pada Senin (14/9) kemarin.
Kobaran api yang membakar lahan seluas kurang lebih 10 hektar di area Jalan Irigasi tersebut merambat cepat hingga mendekati permukiman warga di Jalan Adisucipto.
Peristiwa yang timbul sekitar pukul 13.00 WITA itu sempat memicu kepanikan luar biasa di kalangan warga. Selain ancaman lidah api yang nyaris melahap bangunan rumah, kepulan asap pekat berembus kencang membuat warga sekitar mengalami sesak napas.
Tim Pemadam Kebakaran (Damkar) beserta barisan relawan harus berjibaku menjinakkan si jago merah selama lebih dari delapan jam. Api baru dapat dikendalikan dan dipadamkan sepenuhnya sekitar pukul 21.30 WITA malam.
Insiden tersebut mengundang keprihatinan mendalam dari Anggota Komisi III DPRD Kota Samarinda sekaligus legislator daerah pemilihan (dapil) 2 Samarinda (Palaran, Samarinda Seberang, dan Loa Janan Ilir), Jasno.
Ia menilai amukan api yang merembet cepat dari titik awal menuju kawasan Jalan Adisucipto menjadi peringatan keras atas bahaya laten kemarau ekstrem.
“Terkait kejadian kemarin, kita kaget juga karena api yang biasanya di area irigasi justru merambat sampai ke Jalan Adisucipto. Kejadian ini jelas menimbulkan keresahan dan kepanikan warga di lingkungan sekitar,” ujar Jasno.
Guna memastikan musibah serupa tidak terulang, Jasno menegaskan pentingnya kesadaran kolektif masyarakat untuk menghentikan sama sekali tradisi pembakaran semak, ilalang, maupun pembersihan lahan pertanian dengan cara dibakar.
“Kita mengharapkan kepada masyarakat, apabila membakar sampah ilalang atau lahan untuk bercocok tanam, jangan membakar lahan di lokasi tersebut karena cuacanya ekstrem panas. Kita khawatir api menyebar ke tempat lain seperti kejadian kemarin. Lingkungan kita kan kanan-kirinya masih semak belukar, jadi harus selalu waspada dan berhati-hati,” tegasnya.
Di samping ancaman kebakaran lahan, situasi kemarau panjang yang memicu kekeringan juga berdampak langsung pada pasokan air bersih dari Perumdam Tirta Kencana yang kerap terhenti. Jasno mengimbau seluruh elemen masyarakat Palaran dan sekitarnya untuk meningkatkan kesiapsiagaan mandiri dalam mengelola air harian.
“Harapan kita, masyarakat juga harus pandai menghemat air dan menyimpan pasokan air yang lebih banyak. Langkah ini penting untuk menanggulangi kemarau yang cukup panjang dan mengantisipasi aliran PDAM yang sering mati,” pungkas Jasno. (Adv)
