Kaltim Krisis Iklim

Sebuah aksi kampanye tentang krisis iklim yang dilakukan anak muda di Kaltim. (Ist)
Caption: Sebuah aksi kampanye tentang krisis iklim yang dilakukan anak muda di Kaltim. (Ist)(Adakah.id)

Tulisan berjudul Kaltim Krisis Iklim merupakan opini dari seorang mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Mulawatman Kaltim, bernama Diah Pitaloka. Ia juga merupakan bagian dari Lembaga Kajian dan Studi Hukum (LKISH) UNMUL. Diah mengaku sangat tertarik dengan isu seputar lingkungan.

Diah Pitaloka munulis opininya pada pertengahan bulan Oktober 2023 lalu. Tim Adakah.id baru berkesempatan untuk menerbitkan.

ADAKAH.ID, Pada musim kemarau, cuaca di Kalimantan Timur (Kaltim) terasa semakin panas. Data Stasiun Meterologi Kalimarau, Kabupaten Berau, menunjukkan suhu di Kaltim pernah mencapai 36,4 derajat celcius.

Dodo gunawan, peneliti perubahan iklim dan dosen Sekolah Tinggi Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (STMKG) mengatakan laju peningkatan suhu udara permukaan tertinggi di Indonesia terekam di Stasiun Meterologi Temindung, Kota Samarinda, mencapai 47 derajat celcius per dekade. Hal tersebut dikeluhkan oleh masyarakat karena suhu yang begitu tinggi ini.

Selain karena musim kemarau, menyoal suhu panas di Kalimantan timur juga disumbangkan oleh pemanasan global atau perubahan iklim.

Dewasa ini, krisis iklim menjadi salah satu permasalahan di dunia. Krisis iklim telah memasuki masa tenggang. Artinya, dunia sedang merasakan panas yang tinggi serta perubahan cuaca yang tidak menentu.

Sebagai gambaran, dalam sebuah artikel yang diterbitkan Liputan6 (22/10) dengan judul “Sungai Amazon Alami Kekeringan Terparah dalam Satu Abad Terakhir, Warga Kekurangan Air Bersih dan Ekosistem Hutan Rusak,” menyebutkan anak-anak sungai Amazon mengalami kekeringan dan suhu air yang kian meningkat telah membuat terbunuhnya lebih dari 100 Lumba-lumba sungai Amazon.

Selain faktor tropis, menurut ahli iklim BMKG yaitu siswanto, sebagian wilayah Indonesia mengalami laju kenaikan suhu yang sangat tinggi karena adanya perubahan tata guna lahan. Misalnya, aktifitas penebangan hutan, hingga penambangan, hal tersebut mengakibatkan peningkatan suhu menjadi lebih cepat.

Di Kalimantan sendiri, kita turut menyumbang kerusakan yang semakin memperhebat krisis iklim ini. Salah satunya yaitu penebangan hutan yang marak terjadi, bahkan lahan hijau yang saat ini berubah menjadi lubang, akibat merajalelanya aktivitas tambang illegal. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) pada tahun 2022 total luas lubang tambang di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN) mencapai 29 ribu hektare.

Diperparah lagi dengan aktivitas pembakaran lahan yang telah menghanguskan ribuan hektar ruang hijau. Seperti yang baru saja terjadi di kota Samarinda yakni kebakaran Tempat Pemuangan Akhir (TPA) Bukit Pinang, yang dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat kota Tepian. Peristwa tersebut tak hanya menimbulkan hawa panas, namun juga membuat masyarakat merasakan sesak lantaran kepulan sampah yang terkabar. Selain itu asap juga menggangung aktivitas pengguna jalan karena berkurangnya jarak pandang.

Menurut hemat saya, permasalahan krisis iklim ini dapat diselesaikan bila kita bersama-sama sadar akan bahayanya krisis iklim. Kemudian mulailah membentuk pola hidup baru yang fokus menjaga lingkungan. kita bisa berangkat dari menghidupi tanaman hijau di sekitar rumah, tidak menebang dan membakar lahan untuk kepentingan pribadi. Kita juga harus mulai dari diri sendiri untuk membawa botol minuman dan mengurangi membeli gelas atau karton sekali pakai, namun gunakanlah tas kantong non-plastik saat pergi ke pusat perbelanjaan, baik itu di pasar ataupun supermarket.

Dalam menjalani aktivitas harian, salah satu hal mudah yang dapat dilakukan yaitu membawa kotak makan saat membeli makanan cepat saji untuk menghindari penggunaan kertas nasi ataupun styrofoam yang dimana benda tersebut merupakan salah satu sampah yang sulit untuk terurai. Melansir dari Instagram resmi Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat mengatakan, dibutuhkan waktu hingga 1 juta tahun agar Styrofoam dapat terurai.

Lalu untuk mengurangi permasalahan krisis iklim, kita bisa mengikuti kegiatan Beach Clean Up #SayNoToStyrofoam yang diinisiasi oleh The Antheia Project. Meminjam dari laman Mongabay.co.id, gerakan tersebut digagas oleh anak muda jakarta yang menyisir sampah di bantaran Waduk Pluit. Acara membersihkan area taman yang memiliki keluasan 10 hektare itu berlangsung cukup singkat, sekitar dua jam tetapi sampah yang mereka kumpulkan cukup banyak.

Selain itu adapun gerakan lainnya yaitu gerakan Zero Waste Indonesia. Dalam sebuah artikel di zerowaste.id, gerakan bebas limbah adalah sebuah konsep yang bertujuan untuk mengurangi dan meminimalkan produksi limbah, sehingga tidak ada lagi yang akhirnya mencemari lingkungan. Konsep ini bertujuan untuk menciptakan sebuah lingkungan yang lebih baik dan berkelanjutan. Gerakan ini mengajak untuk mengurangi penggunaan sampah dengan cara membawa botol minum serta mulai membawa tas kain untuk berbelanja.

Kita harus benar-benar mengurangi sampah plastik, karena kandungan mikroplastik didalamnya membuatnya sulit untuk terurai. Bahkan jika sampah plastik telah terurai, namun kandungan mikroplastik tersisa. Mengutip artikel dari Kompas.id dengan judul “Mikroplastik Ditemukan hingga ke Jaringan Jantung Manusia” (10/8) saat ini mikroplastik ditemukan dijantung manusia, hal tersebut terungkap oleh tim dari rumah sakit Anzen Beijing bahkan di China, dan di Roma, Italia mikroplastik ditemukan di air susu ibu.

Mikroplastik menurut Lusher & Peter (2017) didefinisikan sebagai partikel plastik atau fiber dengan ukuran kurang dari 5 milimeter atau lebih kecil. Mikroplastik mengandung berbagai zat adiktif yang berbahaya bagi Kesehatan. Dalam uji laboratorium yang dilakukan oleh National Geographic mikroplastik telah terbukti menyebabkan kerusakan sel manusia, termasuk reaksi alergi dan kematian sel.

Persoalan krisis iklim ini merupakan persoalan yang serius dan tidak dapat dianggap remeh. Banyak sekali dampak negatif yang disebabkan dari krisis iklim yang terjadi mulai dari banyaknya virus yang dapat menyebar dan menularkan manusia, lingkungan yang semakin memanas bahkan cuaca yang tidak menentu, hingga permasalahan- permasalahan lainnya. Krisis iklim selain berdampak bagi manusia juga berdampak bagi hewan yang juga hidup didunia, karna penebangan hutan dan lahan hijau membuat rumah mereka tergusur.

Menurut saya, pemerintah memiliki kewajiban untuk menyediakan pelayanan informasi dan peringatan dini. Hal itu merupakan tugas bagi lembaga penyiaran dan media massa milik pemerintah di tingkat nasional maupun daerah untuk menyebarluaskannya. Pemerintah juga wajib untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap dampak pemanasan global ataupun perubahan iklim melalui koordinasi kegiatan pengendalian, pemantauan dan evaluasi penerapan kebijakan. Hal tersebut telah diatur dalam Pasal 65 Undang-Undang No 31 tahun 2009 tentang Meteoroogi, Klimatologi, dan Geofisika, bahwa pemerintah dan masyarakat sama-sama memiliki peran penting dalam menjaga lingkungan dan memperbaikinya.

Untuk itu, saya mengajak masyarakat harus semakin sadar dan mulai bergerak dengan mulai menerapkan pola hidup sehat demi menjaga kelestarian lingkungan, agar dapat dinikmati hingga generasi selanjutnya.

Editor : Hasyim Ilyas

.

MASUKAN KATA KUNCI