ADAKAH.ID, SAMARINDA – Pembangunan jalan pendekat menuju Bandara Aji Pangeran Tumenggung (APT) Pranoto kembali tersendat. Proyek yang digadang sebagai penopang utama akses bandara itu dinilai krusial, namun justru terganjal keterbatasan anggaran daerah.
Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Timur (Kaltim), Subandi, menegaskan jalan alternatif dari Ring Road IV memiliki arti strategis bagi mobilitas warga Samarinda.
“Ketika jalan poros Samarinda–Bontang lumpuh akibat banjir, dampaknya bukan hanya kemacetan. Penerbangan pun bisa terganggu, bahkan aktivitas ekonomi ikut tersendat,” ujarnya, Rabu (4/6/2025).
Subandi menyoroti, meski APT Pranoto telah menjadi pintu gerbang utama Samarinda sejak 2018, kualitas infrastruktur pendukungnya masih jauh dari memadai. “Bandara adalah wajah depan kota. Kalau aksesnya macet, sektor pariwisata dan investasi bisa terganggu. Investor tentu berpikir ulang,” tambahnya.
Tak hanya jalan pendekat dari Ring Road IV, jalur alternatif yang digagas melalui kawasan Sambutan pun bernasib serupa. Keduanya tersendat karena alasan klasik: keterbatasan anggaran. Alokasi pemeliharaan jalan untuk wilayah UPTD II Samarinda hanya sekitar Rp28 miliar, yang harus dibagi dengan Kutai Kartanegara dan Mahakam Ulu.
Menurut Subandi, kondisi ini memperlihatkan perlunya evaluasi ulang prioritas pembangunan oleh Pemerintah Provinsi Kaltim. “Jalan bukan sekadar proyek fisik. Ini adalah urat nadi konektivitas dan motor penggerak ekonomi daerah,” tegasnya.
DPRD Kaltim pun mendesak agar percepatan pembangunan jalan menuju bandara segera menjadi perhatian utama, agar Samarinda tak lagi tertinggal dalam infrastruktur dasar yang menopang mobilitas masyarakat dan investasi.
(adv/dprdkaltim/o)
