Dari Medan, LMID Dorong Demokrasi untuk Masyarakat Indonesia yang Berkeadilan

Caption: Pendidikan Dasar Tingkat Pertama LMID Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara (28/2025). foto LMID for adakah.id(Adakah.id)


ADAKAH.ID, SURABAYA – Agenda Pendidikan Dasar Liga Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi (LMID) sukses digelar di kota Medan, Sumatera Utara.

Pendidikan diikuti puluhan mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi, yaitu (PT) USU, Graha Kirana, dan Universitas Terbuka Medan.

Ketua Umum Eksekutif Nasional (KN) LMID, Tegar Afriansyah mengatakan, Program pendidikan pertama kalinya di tahun 2025 ini bertujuan memperkuat kesadaran kritis dan membangun kader-kader muda yang bersedia memperjuangkan demokrasi, serta keadilan sosial di tengah kondisi politik yang semakin tidak karuan dan menantang.

“Pendidikan digelar tiga hari, para peserta tidak hanya menerima materi teoritis, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi, simulasi dan diakhiri dengan mimbar bebas yang menyoroti berbagai ketimpangan struktural yang dialami masyarakat yang termarjinalkan,” kata Tegar diterima adakah.id, Rabu dini hari (29/1/2025).

Banyak hal yang dibahas sepanjang agenda pendidikan tersebut, mulai dari soal ketimpangan ekonomi, perampasan lahan, hingga lemahnya partisipasi politik rakyat kecil, seluruh topik ini ini dikupas tuntas melalui lensa kritis.

Pendidikan Dasar LMID kali ini membawa tema: “Penguatan Kapasitas Politik Progresif Demi Mewujudkan Demokrasi Berkeadilan” yang kemudian menekankan pentingnya keterlibatan mahasiswa sebagai motor penggerak perubahan.

“Para peserta, dalam Pendidikan Dasar ke-1 diajak untuk memahami, bahwa makna politik bukan hanya dimiliki oleh para segelintir pemodal yang memiliki privilege untuk menafsirkan semau mereka,” imbuh Alumnus U-NU Jakarta Selatan itu.

Politik yang ditafsirkan LMID adalah politik kelas atau politik progresif, dimana rakyat termarjinalkan bukan objek para elite untuk duduk di parlemen, tapi harus juga memiliki kesempatan untuk mewakili diri mereka sendiri tanpa harus diwakili para politisi yang seringkali menipu rakyat.

Tegar membeberkan, mahasiswa hari ini tidak boleh absen dari gerakan sosial dan perjuangan kelas. Pendidikan Dasar ini dirancang untuk membekali para peserta yang notabenenya adalah mahasiswa dengan senjata teori kritis dan tindakan yang mampu mengorganisir dan memimpin aksi-aksi melawan segala bentuk ketidakadilan struktural.

Disebutnya lagi, hal menarik dalam Pendidikan Dasar kali ini adalah lokasinya yang memiliki angka terbesar konflik agraria dan mengeksploitasi buruh di wilayah Sumatera Utara.

Pendidikan Dasar LMID memperkenalkan pembelajaran yang inovatif karena memadukan antara teori progresif, dengan praktik kreatif dimana para peserta diajak untuk menyusun beberapa langkah strategi advokasi, pengorganisiran, mendesain isue yang kreatif dan progresif, hingga strategi mobilisasi rakyat.

Dea Melrisa Agnesia sebagai Ketua Pelaksana mengungkapkan kekagumannya dalam Pendidikan Dasar. Menurutnya para peserta memiliki keaktifan dan kepekaan yang luar biasa dalam mempresentasikan hasil diskusi kelompok yang menyusun beragam strategi, untuk kemajuan gerakan sosial dan perjuangan kelas.

“Momen penting bagi LMID, dengan bergabungnya para peserta secara sukarela kedalam organisasi gerakan, seperti LMID yang dapat memberikan dan memperkuat gerakan rakyat. Dengan demikian,perjuangan untuk menuju perubahan sosial yang berkeadilan semakin menemui jalannya,” ujar Dea sapaannya.

Pada kesempatan itu, Dea juga memperjelas status keanggotaan peserta Pendidikan Dasar di kota Medan dengan membentuk struktur Ketua dan Sekretaris Angkatan LMID di tingkatan Kota Medan.

Perempuan berhijab itu menjelaskan, dalam proses pembentukan struktur, dilakukan secara demokratis dengan mengadakan pemilihan Ketua Angkatan secara one man one vote. Kemudian berakhir dengan terpilihnya Zahara Kusyowo sebagai Ketua Angkatan dan Putri Syamira sebagai Sekretaris Angkatan LMID Kota Medan, Sumatera Utara.

Tentang pentingnya arti ‘Hak’ rakyat kecil dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sebagai penutup, Dea Melrisa Agnesia menekankan. Pendidikan hanya akan bermakna jika dapat diimplementasikan kepada rakyat kecil dengan aksi konkrit yang nyata.

“Pendidikan Dasar ini telah memberikan landasan teori dan keterampilan. Meskipun begitu, tantangan sebenarnya terletak pada bagaimana kader-kader baru ini mengaplikasikan pengetahuan mereka dalam memperjuangkan keadilan di medan perjuangan yangs sesungguhnya,” jelasnya.

Dea berharap, LMID Kota Medan akan menjadi rumah bagi mereka yang berani bermimpi tentang dunia yang lebih adil dan lebih berani lagi untuk memperjuangkannya.

Sementara itu, Rara sapaannya itu menyampaikan, sebagai Ketua Angkatan LMID Kota Medan, ia sangat berharap dapat membawa LMID menjadi organisasi yang dapat bermanfaat untuk rakyat tertindas dan bisa meluaskan LMID ke berbagai kampus di Kota Medan. Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Angkatan LMID Medan yang akrab disapa Mira itu mengatakan, dengan berakhirnya Pendidikan Dasar ini, LMID Kota medan tidak akan berhenti sampai di pendidikan dasar saja.

Agenda ini hanyalah awal dari sebuah gerakan panjang untuk memperjuangkan harkat dan martabat rakyat tertindas, serta menjadi awal bagi LMID Kota Medan untuk memberikan kesadaran progresif kepada mahasiswa, terlebih di Kota Medan,” ungkapnya. (B/Joy)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+