Buntut Protes Pelayanan Kesehatan, Ketua Komisi IV DPRD Kaltim Bakal Panggil Dirut RS AWS

Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi
Caption: Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Protes Terhadap Pelayanan RS AW Sjahranie kembali muncul.

Berawal dari masyarakat yang mengeluhkan pelayanan RS A.W Sjahranie berinisial GA (36).

Pada hari jum’at tanggal 8 Desember 2023, sekitar pukul 09.30 orang tuanya dibawa ke RS AW Syahranie, dengan keluhan sakit nyeri pada perut.

Menggunakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) saat mendaftar. Dengan kondisi sakit yang sangat di bagian bawah perut, namun dianggap ringan dan cukup di pasang alat bantu kencing (kateter).

Setelah mencoba bertanya kepada pihak dokter yang menangani, jika ingin rawat inap, maka melalui rujukan dari Puskesmas dan masuk ke poli. Kondisi sakit yang datang tiba-tiba parah, tidak memungkinkan melalui rujukan dan ke poli, masuk UGD adalah solusi.

Setelah RS AWS tidak mau menerima, akhirnya GA membawa orang tuanya ke RSMC Samarinda.

“Di RSCM orang tua saya masuk ke IGD dan langsung di arahkan ke poli urologi, di poli urologi memang tidak ditemukan masalah yang urgen, tapi karena di anggap perlu penanganan lebih lanjut, maka Dokter urologi merujuk ke Dokter bedah di RSMC juga, akhirnya orang tua saya dinyatakan perlu dirawat inap dan penanganan lebih lanjut, tetap menggunakan KIS,” ujar GA.

Dari kondisi itu, warga tersebut menemukan kejanggalan terhadap penanganan orang tuanya, dimana RS AWS hanya mengatakan penyakit ringan pada saluran urin.

“Retensi Urin dan hanya di pasang kateter, sedangkan keterangan dokter urologi di RSMC tidak ada masalah pada saluran urin dan perlu penanganan lebih lanjut, terkait potensi masalah pada saluran pencernaan (usus/lambung),” ungkap keluarga pasien tersebut.

RS AWS merupakan RS pemerintah yang seharusnya lebih profesional dalam penanganan pasien, perlakuan apa adanya dalam identifikasi penyakit terbukti dilakukan kepada pasien kritis, dimana RS AWS menyatakan tidak bisa rawat inap, sedangkan RSMC menyatakan rawat inap dan perlu penanganan intensif.

Dari sekitar pukul 09.30 s/d 15.30, orang tuanya tidak mendapatkan tindakan berupa infus, malah disuruh rawat jalan, sangat tidak memungkinkan ketika kondisi kritis terus di bawa pulang, akhirnya dibawa ke RSMC sebagai solusi.

Sabtu 9 Desember 2023, sekitar pukul 21.30 WITA, orang tua GA meninggal dunia.

“Kendati ajal tidak tahu kapan datang nya, namun sangat miris ketika pelayanan yang seharusnya dapat mencegah potensi masalah, malah terabaikan,” imbuhnya lagi.

“Nota protes saya layangkan ke anggota dewan Provinsi Kaltim. Upaya ini agar ada evaluasi terhadap pelayanan RS AWS. Sebab DPRD Provinsi Kalimantan Timur memiliki tugas kontrol terhadap kebijakan dan pelayanan publik di Kalimantan Timur, agar kedepan RS AWS dapat memperbaiki pelayanan terhadap pasien yang kritis,” sambungnya.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Akhmed Reza Fachlevi menyampaikan rasa duka yang mendalam kepada keluarga korban.

Atas kejadian ini dalam waktu dekat Komisi IV akan memanggil Dirut beserta manajemen RS AWS dengan menggunakan mekanisme Rapat Dengar Pendapat (RDP).

Sebab menurutnya, keluhan – keluhan lainnya sering ia dapat dengan kasus yang berbeda namun tetap dalam kontek pelayanan kesehatan.

“Kami sudah sering kali mengingatkan pihak RS, agar selalu meningkatan pelayanan kepada masyarakat. Jaminan kesehatan adalah hak setiap warga negara. Kami akan memanggil pihak RS AWS segera,” pungkasnya.

Media ini berupaya mengkonfirmasi pihak RS AWS. Namun yang bersangkutan belum dapat menanggapi. (*)

*Berita ini akan dilengkapi kembali setelah mendapat pernyataan resmi dari pihak RS AWS sebagai salah satu upaya kerja jurnalistik yang berimbang.

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+