AJI Samarinda Gelar Pelatihan Cek Fakta, 25 Jurnalis se-Kaltim Ikut

Foto Bersama usai sesi Pelatihan Pre-bunking atau Cek Fakta
Caption: Foto Bersama usai sesi Pelatihan Pre-bunking atau Cek Fakta(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Aliansi Jurnalis Independen (AJI) kota Samarinda berkolaborasi dengan Cekfakta.com menggelar Training of Trainers Pre-bunking Google News Initiative.

Sebuah pelatihan yang ditujukan bagi para awak media, agar memiliki imunitas serta turut membendung penyebaran berita hoaks. Pasalnya, di zaman digitalisasi ini, informasi menyebar dengan cepat melalui ponsel pintar. Sehingga, pengetahuan Pre-bunking ibarat vaksin bagi publik.

Pelatihan tersebut diikuti setidaknya 25 jurnalis dari Bontang, Samarinda dan Kutai Kartanegara. Selain itu, menghadirkan dua pemateri yakni Ketua Independen.id Bayu Wardhana dan Ketua Aji Kota Samarinda, Nofiyatul Chalimah. Kegiatan berlangsung selama dua hari mulai tanggal 19 hingga 20 November 2022.

Bayu mengatakan jurnalis di Kaltim sangat penting melakukan cek fakta terlebih dulu sebelum menyebarluaskan informasi yang didapatkan. Menurutnya, di tengah tumbuhnya penikmat sosial media, tak diikuti dengan pemahaman cara menggunakannya dengan benar.

Bahkan, Bayu menilai sebagian penikmat tak bisa membedakan informasi itu benar adanya atau tidak. Sebagi akibatnya, masyarakat sangat rentan memakan kabar hoaks.

“Tugas jurnalis, mau tidak mau mengenali informasi itu agar lebih terpercaya,” ungkapnya, di Ballroom Hotel Horison, jalan Imam Bonjol, Kota Samarinda.

Nofiyatul menambahkan, berita hoaks bukanlah persoalan baru yang hadir di tengah masyarakat. Bahkan menurutnya, hoaks sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari, serta dengan topik yang beragam. “Tak melulu soal hoaks politik dari Jakarta. Bahkan, sejumlah hoaks lokal pun ditemukan,” bebernya.

Dalam pelatihan ini, peserta diajak mengenal hal mendasar tentang Pre-bunking antara lain, pengertian misinformasi, disinformasi dan malinformasi, serta simulasi cek fakta itu sendiri.

Menurut Nofiayatul menghentikan peredaran berita hoaks bukan hal mudah. Apalagi dalam waktu dekat ini, banyak agenda besar berpotensi memicu hoaks. Salah satu di antaranya, Pemilu 2024 mendatang. Ia mendorong Pre-bunking mesti dimulai sejak sekarang.

“Masyarakat harus diberi pemahaman agar tidak mudah percaya dan menyebarkan berita hoaks. Terutama, bagi jurnalis, harus memiliki ‘imunitas’ dari kabar bohong, dan tak menjadikan berita bohong sebagai karyanya,” tegasnya.

Sementara itu, Jurnalis Adakah.id, Hasyim Ilyas menyatakan pelatihan cak fakta ini membuatnya mendapat pengetahuan sekaligus, pengalaman pertama melakukan Pre-bunking secara benar.

Pria berzodiak Aries itu, merasa durasi pelatihan cek fakta tersebut sangatlah singkat. Meski demikian ia mengakui pengetahuan yang didapatkan akan sangat berguna bagi kerja jurnalistik kedepannya. Baik untuk membentengi diri, maupun orang-orang disekitar, dan tentunya masyarakat.

“Saya harap, pelatihan Per-bunking Google News Initiative ini ada lagi tahun depan. Depan pengetahuan dan praktik yang setingkat lebih maju lagi. Dan kalau bisa dilaksanakan selama 4 atau 5 hari, agar ada cukup waktu belajar dan berlatih bersama,” ungkap Ocul sapaanya.

“Yang berkesan, menurut saya menelusuri sebuah potongan gambar disinformasi yang viral di sosial media, menggunakan berbagai search engine, dan tools cek fakta. Yang perlu kita ketahui, siapa penyebar awal, apa motifnya, taktik penyebarannya, dan seterusnya sehingga kita tahu jika informasi tersebut tidak benar,” tandasnya.

(Sam)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+