ADAKAH.ID, KUTAI KARTANEGARA – Risiko peningkatan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) mulai mendapat perhatian serius dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara (Dinkes Kukar). Menghadapi perubahan cuaca dan potensi melonjaknya populasi nyamuk Aedes Aegypti, masyarakat diminta memperkuat gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN).
Kepala Bidang P2PL Dinkes Kukar, Supriyadi, menegaskan bahwa PSN tetap menjadi cara paling efektif dan murah dalam memutus rantai penularan. Upaya ini hanya berhasil bila dilakukan serentak oleh seluruh warga.
“Pemberantasan sarang nyamuk tidak bisa dilakukan hanya oleh satu atau dua warga saja. Harus dilakukan serentak agar efektif. Kalau hanya sebagian yang membersihkan, maka risiko penyebaran nyamuk tetap tinggi,” jelasnya.
Sebagai langkah mitigasi jangka panjang, Dinkes Kukar menyiapkan program Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik (G1R1J). Setiap rumah nantinya memiliki satu petugas mandiri pemantau jentik.
“Kami sedang menunggu instruksi resmi dari Bupati Kukar untuk menjalankan program G1R1J ini. Nantinya, setiap rumah wajib memiliki satu jumantik. Targetnya, angka bebas jentik bisa mencapai 90–95 persen,” tutur Supriyadi.
Selain upaya pencegahan, masyarakat diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami demam, terutama anak-anak. Keterlambatan penanganan masih menjadi penyebab utama fatalitas kasus.
“Jangan mengobati sendiri jika mengalami demam tinggi. Segera periksa ke Puskesmas atau rumah sakit agar bisa dipastikan apakah itu DBD atau bukan. Sebagian besar kasus kematian DBD terjadi karena pasien terlambat mendapatkan penanganan medis,” tegasnya.
Dengan pelaksanaan PSN serentak, penguatan program G1R1J, dan deteksi dini oleh masyarakat, Dinkes Kukar berharap kasus DBD dapat ditekan dan tidak menimbulkan korban jiwa. (Adv)
