Pemkot Samarinda Bersinergi Tekan Angka Stunting

Caption: Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, usai mengikuti Rakor Stunting Bersama Dinas Terkait di Ruang Rapat Mangkupalas, Balai Kota Samarinda, Senin (21/4/2025).(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Pemerintah Kota Samarinda menegaskan komitmennya dalam menangani persoalan stunting secara serius dan menyeluruh. Hal ini disampaikan Wakil Wali Kota Samarinda, Saefuddin Zuhri, usai mengikuti rapat koordinasi di Ruang Rapat Mangkupalas, Balai Kota Samarinda, Senin (21/4/2025).

Dalam pernyataannya, Saefuddin menekankan penanganan stunting tidak bisa hanya difokuskan pada anak yang sudah terdampak. Menurutnya, perlu ada pendekatan dari hulu ke hilir—dimulai sejak remaja, sebelum menikah, masa kehamilan, menyusui, hingga masa tumbuh kembang anak.

“Kita tidak bisa hanya bekerja di hilir. Penanganan stunting itu harus dimulai sejak remaja, sebelum pernikahan, hingga ke fase kehamilan dan menyusui. Kita ingin mencari metode terbaik agar angka stunting bisa terus menurun,” tegas Saefuddin.

Kendati angka stunting masih tinggi, tapi target ambisius telah disiapkan. Berdasarkan data Survei Status Gizi Indonesia akhir tahun 2023, prevalensi stunting di Kota Samarinda tercatat sebesar 24,4 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata Provinsi Kalimantan Timur yang berada di angka 21 persen.
Meski menunjukkan tren penurunan dari tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut masih jauh dari target nasional. Untuk itu, Pemkot Samarinda telah menetapkan target ambisius pada tahun 2024, yakni menurunkan prevalensi stunting hingga 11,96 persen. Hingga kini, upaya penurunan tersebut masih dalam proses.

Salah satu tantangan utama yang dihadapi adalah rendahnya partisipasi masyarakat dalam layanan dasar seperti Posyandu. Tingkat kehadiran warga baru mencapai 61 persen, jauh dari target ideal sebesar 98 persen.

Padahal, Posyandu berperan penting dalam deteksi dini, pemantauan tumbuh kembang anak, serta edukasi gizi ibu dan balita. Optimalisasi peran Posyandu dinilai krusial untuk mencegah stunting sejak dini, terutama di fase 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).

“Kita punya target, tapi yang paling penting adalah komitmen dan kerja kolaboratif dari semua pihak,” tambah Saefuddin yang pernah menjabat sebagai Anggota DPRD Kaltim.

“Saya serahkan kepada teman-teman OPD untuk menyusun langkah-langkah konkret dalam waktu yang terbatas ini,” imbuhnya.

Ia menegaskan, sektor kesehatan menjadi ujung tombak, dengan keterlibatan aktif dari Dinas Kesehatan, Dinas Pengendalian Penduduk dan KB (DPP-KB), hingga puskesmas dan Posyandu di tingkat kelurahan.


Pemkot Samarinda berharap, melalui kolaborasi lintas sektor dan pendekatan menyeluruh, angka stunting di kota ini dapat ditekan secara signifikan dalam waktu dekat. (Do/Adv)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+