Sejahterakan Anggota lewat Koperasi, Cara Serikat Buruh Melawan Rentenir

Caption: Uni Rahman Pengurus Serikat yang Bertanggung Jawab Mengelola Koperasi Warung Marsinah.(Adakah.id)

ADAKAH.ID, JAKARTA – Kota Jakarta menjadi pusat kegiatan ekonomi dan pemerintahan.

Tentu banyak masyarakat di wilayah yang berdekatan berbondong – bondong mencari pekerjaan pengaruh dari pembukaan industri seperti pabrik dan fasilitas lainnya.

Cita – cita mereka yang datang hanya ingin sejahtera di Tanah Harapan (Jakarta, red) dengan menjual tenaganya.

Salah satunya adalah Uni Rahman (50). Perempuan korban Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di perusahaan Ekspedisi Pelayaran di Surabaya itu ke Jakarta Utara untuk melanjutkan hidup.

Bekerja di Pabrik Tekstil Manufaktur Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cilincing, Uni mulai mengenal Serikat Buruh dan melibatkan dirinya.

Saat ini ia diberikan tanggung jawab untuk menjaga warung Marsinah. Koperasi yang dikelola FSPBI berada persis dengan sekretariat Federasi Serikat.

Buka sejak pukul 10.00 hingga selesai pukul 19.00 WIB, Uni menjaga warung untuk menjual hasil karya anggota serikat.

Produk yang dijual adalah kebutuhan rumah tangga seperti makanan dan minuman. Selain itu, sabun cuci, pembersih lantai. Sedangkan masker dan pin dijual dengan harga Rp 5 ribu.

“Semua yang dijual hasil kerja anggota serikat,” kata Uni belum lama ini saat dijumpai.

Pembuatan dilakukan secara bersama – sama di Sekretariat ketika para anggota sedang tidak dalam waktu bekerja di pabrik.

Kendati begitu, mereka hanya membeli bahan baku dan botol untuk produk sabunnya.

Membuat sekaligus mengemas memakan waktu dua minggu. Dibuat ketika stok sabun mulai habis.

Sirkulasi untuk produk rumah tangga ini terbilang laku dijual dan kerap mendapat pesanan dari luar koperasi serikat yang sudah ada.

Selain lebih murah, hasil karya ini juga memberikan pendapatan untuk kas koperasi yang pada gilirannya diperuntukan bagi anggota.

“Harganya lebih murah. Berbanding 3 ribu saja dengan merk yang sudah terkenal di pasaran,” imbuh Uni lagi.

Produk Sabun Cuci Karya Anggota Serikat Buruh FSPBI di Koperasi Marsinah.

Pemasaran seperti sabun cuci dan karbol juga dijual keluar selain di jual di basis – basis yang memiliki koperasi. Bahkan toko – toko juga menjual produk yang berlabel FSPBI.

“Yang penting barang laku, untung sedikit enggak apa – apa, jadi modalnya bisa mutar,” terangnya.

Pulsa dan paket internet juga jual koperasi tersebut bahkan hingga transfer uang para buruh ke kampung halaman.

Kemudahan bagi anggota serikat buruh di koperasi serikat itu adalah bisa melakukan kasbon atau hutang ke warung Marsinah.

Dengan komitmen membayar saat gaji bulanan, anggota sebut Uni paling sering anggota kasbon untuk perlengkapan rumah tangga seperti sabun cuci.

Pinjaman itu dilakukan agar anggota tidak terjebak dengan tipu muslihat rentenir yang bisa meminta bunga sebesar 40 persen.

“Disini sepenuhnya untuk anggota serikat, 2 persen saja kalau disini, itu juga masuk ke kas koperasi dan kembali lagi untuk anggota. Semua anggota tidak pernah telat membayar,” tutur Uni lagi.

Uni yang tinggal di rumah kontrakan dengan harga sewa sebulan Rp 1,2 juta itu merasa terbantu dengan adanya koperasi serikat. Pengurus serikat lainnya tidak bosan – bosan memberikan ilmu pengetahuannya kepada anggota, salah satu pengajar untuk membuat sabun cuci itu dari Isrowati selaku koordinator.

Bergabung bersama Serikat Buruh FSPBI sejak tiga tahun lalu, Uni merasakan banyak manfaat. Selain mengerti tentang hukum antara hak dan kewajiban di dalam perusahaan, pelajaran berjuang bersama dan membela antar pekerja lainnya tidak kalah besarnya menjadi lebih percaya diri dan berani.

“Harapannya buruh bisa berserikat karena penting untuk membela hak dengan bersama sama dan juga berkoperasi untuk melawan rentenir,” ungkapnya. (Joy)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+