Al-Shabaab dan Penyerangan di Kenya

Ilustrasi situasi tegang antara tentara keamanan Kenya dengan Kelompok Al-Shabab
Caption: Ilustrasi situasi tegang antara tentara keamanan Kenya dengan Kelompok Al-Shabab (sumber: Theelephant.info)(Adakah.id)

ADAKAH.ID – Seiring berkembangnya kemajuan teknologi, terorisme juga ikut berkembang sebagai ancaman dari kemajuan peradaban manusia. Di Benua Afrika, yang sebagian besar negaranya masih memiliki tatanan pemerintahan belum stabil, menjadikan Afrika rawan akan ancaman terorisme, tak terkecuali di Kenya.

Pada tahun 1998, serangan teroris di Kenya, telah meledakkan gedung kedutaan besar Amerika Serikat, mengakibatkan ratusan orang cedera dan meninggal. Kemudian, terorisme ini berlanjut di tahun 2013 bertempat pada pusat perbelanjaan Westgate, membuat ratusan orang meninggal dunia.

Dan yang paling terbaru ada di tahun 2015, lebih dari 100 orang kehilangan nyawa di Universitas di daerah Garissa. Kelompok teroris Al-Shabaab dicurigai menjadi dalang penyerangan tersebut, maka penulis akan mencoba mencari tahu alasan Al-Shabaab melakukan serangan publik di negara Kenya.

Serangan terorisme ini membawa banyak dampak negatif bagi Kenya. Sektor pariwisata yang
menjadi salah satu sektor terpenting bagi Kenya menjadi terganggu, banyak turis asing menjadi takut untuk berkunjung ke Kenya akibat serangan dari Al-Shabaab. Kelompok ekstrimis ini banyak mengincar tempat-tempat publik seperti pusat perbelanjaan, penginapan, dan lain-lain.

Al-Shabaab, jika diartikan adalah “Pemuda”. Pada tahun 2011, mereka berjanji setia kepada Al-Qaeda. Untuk membiayai operasi mereka, Al-Shaabab aktif dalam “Indian Ocean Piracy”. dari sanalah mereka meraup pendapatan. Selain itu, mereka juga menculik orang asing dari Kenya ke Somalia, kemudia meminta uang tebusan. Aksi tersebut sangat berdampak negatif bagi industri pariwisata di Kenya.

Pemerintah Kenya memilih untuk mengirimkan tentara mereka ke Somalia untuk membantu pemerintah dan melawan Al-Shaabab. Operasi ini dinamakan “Operation Linda Nchi” yang dipimpin oleh tentara keamanan Kenya.

Perang melawan Al-Shaabab dilakukan oleh tentara gabungan Kenya. Di antaranya tentara Uganda, Rwanda, Ethiopia, Burundi, dan Somalia, serta negara yang paling banyak terkena dampaknya adalah Kenya itu sendiri. 4Dalam korelasi penggerak operasi Linda Nchi, Al-Shaabab telah banyak berpengaruh pada serangan-serangan di Kenya pada tahun 2011.

Namun demikian, serangan dari keompok ektrimis memaksa pasukan tentara Kenya untuk mundur dari Somalia dimana mereka ikut sebagai salah satu anggota kelompok African Union Mission in Somalia (AMISOM). Sehingga membuat tentara Kenya mundur ini menunjukkan eksistensi pengaruh yang besar dari Al- Shabaab.

Sebenarnya, apa saja yang menjadi alasan kelompok tersebut menyerang Kenya? Banyak spekulasi bermunculan tentang alasan Al-Shabaab menyerang Kenya.

Pertama, karena masuknya tentara Kenya “Kenya Defence Forces” (KDF) ke Somalia sebagai tujuan untuk menyerang markas utama Al-Shaabab.

Kedua, Kenya menjadi target yang mudah bagi Al- Shaabab karena Kenya diketahui sebagai penghubung antara kesejahteraan keamanan dan ekonomi di Afrika Timur. Jika adanya estabilisasi di Kenya kekacauan di Afrika Timur bisa terjadi, hal ini bisa dimanfaatkan para teroris untuk mengambil kendali wilayah Kenya.

Ketiga, ada beberapa yang berpendapat jika penyerangan di Kenya adalah dampak dari kasus penyuapan uang imigrasi yang dilakukan oleh para pejabat dan polisi. Mereka dilaporkan dengan mudah membeli paspor Kenya dan melegalisasikan tempat tingga; di Kenya jika punya uang.

Terakhir, adanya perbatasan yang panjang dan berporos oleh Kenya dan Somalia.

*artikel ini sepenuhnya tanggung jawab penulis

Editor: Sam
Penulis : Septya Adiva Putri / Mahasiswa Hubungan Internasional FISIP UNMUL

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+