ADAKAH.ID, SAMARINDA – Lembaga survei terkemuka tanah air Charta Politika merilis hasil riset diberbagai daerah, tidak ketinggalan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim).
Survei untuk Provinsi Kaltim dilakukan pada 28 September – 4 Oktober 2022 kemarin dilakukan melalui wawancara tatap muka secara langsung dengan menggunakan kuesioner terstruktur dengan protokol kesehatan yang ketat.
Metodologi yang digunakan adalah metode acak bertingkat (multistage random sampling) pada tingkat kepercayaan 95%.
Dari rilis di media resminya pada tanggal (21/10/2022) kemarin, Dirut Charta Politika, Yunarto Wijaya mengambil 800 responden dengan margin of eror 3,46 persen, sebagai penutup pertanyaan, jika pemilu kepala daerah Kaltim digelar sekarang, maka Andi Harun diprediksi unggul dari Isran Noor dan Hadi Mulyadi.
“Elektabilitas politik Andi Harun sebesar 30,3 persen,” kata Yunarto Wijaya dalam rilisnya.
Mengomentari hal tersebut, pengamat politik Kaltim, Budiman mengamati kondisi itu tidak terlepas dari tingkat kepuasan masyarakat dengan berbagai bentuk seperti kinerja yang efektif hingga menyentuh masyarakat.
Ia melihatnya dari sisi yang telah dilakukan salah satu figur, apa yang telah dilakukan masing-masing tokoh itu. Sebab hal itu sangat menentukan persepsi pemilih dan sangat menentukan pilihan dari pemilih.
“Nah kita bisa melihat sekarang apa yang telah dilakukan oleh pak Isran, apa yang telah dilakukan pak Hadi kemudian apa yang telah dilakukan oleh pak Andi Harun,” kata Budiman hari Minggu (23/10/2022) saat dikonfirmasi.
Dari pandangannya saat ini, karya atau program kepada publik memiliki daya pengaruh yang sangat signifikan. Sebagai contoh Andi Harun identik dengan Pro Bebaya kemudian sudah bisa mengurai kemacetan kota yang diakibatkan PKL.
“Kemudian mengenai program E-Parkir dibeberapa titik, nah beberapa program ini yang kemudian dapat mengalihkan pemilih tertuju padanya, belum lagi soal program penanggulangan banjir,” imbuh Ketua Program Studi S1 PIN Fisip Unmul.
Sementara Hadi Mulyadi sebagai Wagub Kaltim saat ini, sulit untuk memperlihatkan agendanya, karena posisi wakil diposisi pembantu gubernur.
“Maka dari itu yang membuat para pemilih tidak melihat kinerjanya, selama misalnya beliau dalam masa periodenya, meskipun secara visi-misi beliau kan berpasangan dengan pak Isran. Yang jadi persoalan sekarang apa yang telah dilakukan Isran – Hadi untuk Kaltim, kita belum melihatnya,” ucapnya.
Lanjut dia, keduanya sudah beberapa tahun memimpin, kita tidak pernah lihat apa yang telah dilakukan, baik itu sifatnya fisik atau sifatnya yang non pengembangan.
Hal paling menonjol dari pak Isran menurutnya, yakni perjuangan terhadap tenaga honorer yang ada di Pemprov Kaltim untuk tetap bekerja, dalam konteks ini pemilih-pemilih yang sifatnya PNS atau honorer itu memungkinkan pihaknya untuk tetap tertuju pada pak Isran dan pak Hadi.
Dilihat dari setiap program yang ada, kerja – kerja pelayanan identik dengan 01-nya bukan 02-nya, meskipun sebenarnya Hadi Mulyadi punya modal sosial, beliau ini kan identik dengan orang yang humanis, agamis kemudian merakyat seperti ada pesta pernikahan dan selalu menyumbangkan lagu.
“Setidaknya ini meninggalkan kesan tersendiri bagi masyarakat yang ada. Dimata pemilih potensi pak Hadi bisa sangat tinggi, kalau beliau mau benar-benar bertarung kedepan, karena beliau sudah punya modal sosial tadi,” ungkapnya.
Sementara Isran Noor lanjut dia perlu kerja keras, dalam arti selama masa periodenya ia bisa menampilkan program-program yang dimilikinya dalam bentuk apapun.
Contohnya seperti Gubernur Kaltim periode lalu Awang Faroek, dengan beberapa infrastruktur yang berhasil didirikannya. Artinya dari segi fisik yang bisa diliat orang dan tentu akan berkesan dimata masyarakat. Sampai detik ini, karya Isran Noor lewat pembangunan fisiknya tidak ada, kemudian kegiatan-kegiatan yang sifatnya pemberdayaan pada masyarakat-masyarakat juga tidak ada.
Sedangkan Awang Faroek identik dengan Kaltim Cemerlang, pak Isran juga ada Kaltim Tuntas, kelemahannya Isran kata dia kurang terpublikasi di media. Artinya program merupakan salah satu nilai plus dari beliau, jika informasinya tidak masif, maka hal ini bukan lagi menjadi program yang bisa dibanggakan masyarakat.
“Nah sebelum memasuki masa Pilkada, masih ada waktu sekitar 1 tahun lagi, ini harus bisa dimanfaatkan sama beliau, artinya melalui program yang ada lebih dimaksimalkan lagi, apalagi modal sosialnya beliau masih kurang,” bebernya.
Belum lagi hal-hal yang dapat mempengaruhi pemilih untuk Andi Harun. Seperti diketahui, Samarinda sebagai ibu kota provinsi. Jika beberapa masyarakat dari daerah lain, seperti mahasiswa, jika mereka lihat perkembangan pesat di Samarinda, ini akan mempengaruhi pemilih juga.
“Beliau akan dinilai mampu membangun provinsi. Tapi intinya dalam satu tahun kedepan ini, dapat menentukan elektabilitas para tokoh perlu dimanfaatkan dengan baik,” tutupnya. (*)
