ADAKAH.ID, SAMARINDA – Tragedi berdarah Kanjuruhan Malang Jatim disebut – sebut sebagai peristiwa memilukan di Indonesia terutama sepak bola tanah air.
135 korban jiwa berjatuhan karena terjebak dikerumunan dan tertindih pasca laga BRI Liga 1 Arema Malang menjamu Persebaya Surabaya.
Dimana saat itu Persebaya memenangkan laga tandang mereka.
Massa yang mencoba masuk ke lapangan, dihalau aparat keamanan menggunakan gas air mata secara membabi buta hingga ke tribun penonton.
Seketika kepanikan menjalar, penonton sepak bola yang panik untuk menyelamatkan diri itu terjebak dipintu keluar. Nahas, para penonton yang tidak kuat dengan gas air mata itu banyak yang pingsan dan kekurangan oksigen karena berdesakan dan meninggal karena terinjak – injak sesama penonton yang ingin menyelamatkan diri.
Pertistiwa pilu pada 1 Oktober 2022 tersebut selalu diingat masyarakat Indonesia terlebih Aremania, yakni suporter Arema Malang.
Berikut cuplikan video aksi simpatik ;
https://youtube.com/shorts/pPOAXARyVTw?si=Wu52Wsjn_rpKZyJx
Minggu, 1 Oktober 2023. Aremania Samarinda menggelar aksi simpatik di depan pintu Stadion Utama Palaran, Kaltim.
Dengan menyalakan lilin, membentangkan spanduk kelompok suporter dari Aremania Palaran itu menginisiasi kegiatan tersebut.
“Kegiatan malam ini (Minggu) memperingati 1 tahun Tragedi Kanjuruhan di Malang Jatim,” kata Korlap Aksi, Arif Fadilah.
Arif sapaannya itu menyebut, aksi utamanya untuk bersolidaritas terhadap keluarga korban. Sebagaimana diketahui hingga saat ini, keluarga korban saat ini terus menuntut keadilan kepada negara.
“Tuntutan kami jelas kejadian itu mesti diusut tuntas demi tegaknya keadilan,” imbuhnya.
Sebagaimana diketahui, para pelaku disebut – sebut mendapat vonis ringan.
“Vonis kepada terdakwa memang ada, tapi kita masih belum puas,” ungkapnya.
Untuk itu lanjut Arif, penyelenggara Liga 1 dan asosiasi sepak bola harus benar – benar sebaik mungkin mengelola kompetisi, agar kejadian seperti di Stadion Kanjuruhan Malang tidak terulang di daerah – daerah lain di masa mendatang.
“PSSI dan LIB sudah mengeluarkan beberapa pasal untuk suporter, semoga bisa direalisasikan saja. Jangan sampai ada lagi kejadian memilukan,” tambahnya.
Nikmatilah pertunjukan sepak bola tanpa ada sentimen kebencian suatu kelompok suporter.
“Agar tidak terulang bagaimana mengorganisir kelompok suporter masing – masing. Hindari adu domba oknum tertentu,” jelasnya.
Aksi tersebut juga diikuti kelompok suporter Borneo FC Samarinda, yakni Pusamania dan Curva Sud serta Aksi Kamisan Kaltim. Bersama – sama mereka menyanyikan himne dan menyalakan flare.

Sebelumnya, Aksi Kamisan Kaltim melakukan aksi turun ke jalan dengan membentangkan spanduk yang bertuliskan mengusut tutas kasus kejadian di Kanjuruhan.
Mereka beranggapan ada keganjilan dalam proses hukum. Jika proses hukum tidak berlanjut, maka kelompok aksi kamisan beranggapan, tragedi kanjuruhan menambah daftar panjang kasus pelanggaran HAM dan memberikan impunitas kepada para pelaku. (JOY)
