ADAKAH.ID, SAMARINDA – Intensitas hujan yang cukup deras dengan durasi satu jam lebih, membuat beberapa titik wilayah di Kota Samarinda terendam banjir. Akibatnya aktivitas masyarakat menjadi terhambat.
Jalan Simpang Pasir (Gotong Royong), Kelurahan Simpang Pasir, Kecamatan Palaran, Samarinda, Kalimantan Timur merupakan salah satu wilayah yang cukup parah mengalami banjir pada hari ini, Senin (5/6/2023).

Dari pengamatan di lapangan, kendaraan lebih dari roda empat masih bisa melintas saat banjir melanda, sedangkan tak sedikit kendaraan roda dua yang mogok karena nekat menerjang banjir.
Di sisi kanan dan kiri jalan tersebut terlihat rumah, ruko, toko, bengkel dan yang lain terendam banjir. Nampak juga sejumlah warga yang membantu melancarkan arus lalu lintas jalan Simpang Pasir (Gotong Royong).
Kadir (45) pengendara sepeda motor matic, terpaksa turun dan mendorong kendaraannya ke tepi, di depan Jalan Solo I Simpang Pasir, lantaran mogok kemasukan air. Ia berkendara mengarah pulang dari tempat kerja di kawasan Stadion Utama Palaran.
“Tadi motor mati di situ (menunjuk ke arah banjir), mau pulang ini. Saya kerja di dekat stadion, saya mau ke Mangku Jenang,” ujar Kadir sembari berusaha mengeluarkan air dari kendaraanya.

Di lokasi yang sama, Suwarno (53) warga setempat, mengatakan banjir kali ini mencapai lutut orang dewasa. Sekitar 60 centimeter.
Ia mengatakan bahwa masyarakat menginginkan ada perhatian dari pemerintah kota. Sebab, setiap kali hujan deras datang banjir selalu melanda, dan saluran air yang kurang baik juga menjadi penyebab banjir.
“Setiap hujan deras pasti banjir, ini sudah berulang kali. Perhatian dari pemerintah sangat kurang,” katanya.
Suwarno duduk di kursi warung pinggir jalan Simpang Pasir yang juga kebanjiran. Tepat di hadapannya merupakan jalan yang selalu dilalui kendaraan besar, truk, tronton, dan sebagainya. Suwarno memberi tahu kalau jalan ini, jalan induk, jalan utama, jalur utama, tapi tidak pernah diutamakan.
Pria berkacamata itu melanjutkan, jalan tersebut tak memenuhi standard untuk dilintasi kendaraan besar. Akantetapi, terus dipaksakan oleh pemerintah. Suwarno bilang jalan ini bukan kelasnya.
“Kan digunakan pemerintah, harusnya diperhatikan juga sama pemerintah,” ucap Suwarno.
(SAM/HAE)
