Partai Buruh Samarinda Gelar Dialog Rakyat

Caption: Dialog Rakyat Partai Buruh Samarinda Jumat (9/2)(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Partai Buruh Exco Samarinda menggelar dialog rakyat.

Kegiatan dengan tema Mendorong Agenda Kerakyatan dan Jalan Keluar Memenangkannya dalam Pemilu 2024 di Cafe T-co Jalan Bangeris, Kelurahan Teluk Lerong, Kecamatan Sungai Kunjang, Kota Samarinda, Kaltim hari Jum’at (9/2/2024).

Diskusi dipandu Wisnu Juliansyah (Komite Politik – Partai Buruh) dan didukung penuh Exco Partai Buruh Kaltim.

Ketua Exco Partai Buruh Samarinda, Nason Nadeak didapuk sebagai pemantik diskusi, bersama Ketua Gerakan Mahasiswa Nasionalis Indonesia (GMNI) Samarinda, Alfonsius dan KPBI Kaltim, Yoyok Sudarmanto.

Elemen Rakyat yang hadir Dialog Rakyat adalah Kompolnas Kaltim, SPN, Presiden BEM Fisip Unmul, Ketua Himasos Fisip, Puan Mahakam.

Wisnu membuka percakapan dengan sebuah situasi kepahitan yang dialami masyarakat seperti upah rendah, naiknya harga sembako, mahalnya pendidikan, tingginya biaya kesehatan dsb akibat penguasaan sumber hajat hidup orang banyak oleh segelintir kelompok.

Pemaparan umum pertama disampaikan Nason terkait kondisi buruh yang semakin terjepit akibat minimnya peranan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan kelas pekerja.

“Buruh dihadapkan dengan persoalan hubungan kerja yang tidak adil. Payahnya lagi, kelas pekerja semakin banyak dirugikan, dampak dari UU Omnibuslaw terlebih pada kluster ketenagakerjaan,” ucap Dosen pengajar kampus STIH Awang Long itu.

Sebagai seorang akademisi Ilmu Hukum khususnya Perburuhan, pengalaman mendampingi Buruh mendapat keadilan. Sistem kerja outsourcing membuat para buruh sebut Nason sangat merugikan kalangan pekerja. Ditambah lagi dengan adanya UU Omnibuslaw membuat masa depan buruh dan keluarga semakin tidak jelas.

“Sistem saat ini tidak menguntungkan buruh. Contohnya masih saja ada perusahaan yang menggaji upah dibawah UMK, tidak ada BPJS Ketenagakerjaan dan kesehatannya. Lalu jaminan pendidikan. Bagaimana buruh bisa sejahtera kalau begini, ya kan ?,” ungkap Nason.

Sementara itu, Ketua GMNI Samarinda, Alfonsius mengungkapkan. Agenda Dialog Rakyat yang digagas Partai Buruh adalah kali pertama GMNI Samarinda bisa duduk bersama dalam forum bersama para Caleg Partai Buruh. Sebelumnya tidak pernah ada Partai kontestan pemilu yang mengajak berdiskusi bersama.

Lanjut Alfonsius, kelompok mahasiswa dan pemuda atau generasi Z, hanya dijadikan lumbung suara tanpa memberikan ide dan gagasan perubahan yang berkemajuan, dalam ikut serta membangun bangsa yang lebih inklusif serta dapat memecahkan persoalan negara bersama – sama.

Disisi lain, elitisme dan kubuisme dari unsur gerakan mahasiswa, berdampak langsung terhadap perubahan pola gerakan mahasiswa yang berorientasi sosial menjadi orientasi cepat lulus, dapat kerja di perusahaan bonafit dan menikah membangun keluarga. Sehingga isu – isu kerakyatan hanya sebatas riset tanpa adanya gerakan sosial untuk meubah.

Selain itu, masalah klasik yang saat ini masih mengahantui anak muda adalah pendidikan mahal. Hanya orang – orang yang mampu mengakses bangku sekolah hingga perguruan tinggi. Bagi Mahasiswa yang kesulitan keuangan, jalan pintas menggunakan jasa pinjol kerap menciptakan permasalah baru karena bunga utang yang cukup memberatkan.

“Saya sangat mengapresiasi dari Partai Buruh hari ini, semoga Partai Buruh menjadi garda terdepan dan menjadi solusi persoalan rakyat,” harapnya.

Sementara itu, KPBI Kaltim, Yoyok Sudarmanto mengatakan, problem yang dihadapi rakyat saat ini seperti upah murah, penggusuran lahan petani, mahalnya harga pupuk, lalu harga BBM serta sembako dan sebagainya, cukup lama mencekik rakyat pekerja.

Rakyat harus berhadapan dengan preman. Bahkan ketika mempertahankan haknya, rakyat miskin harus menerima bogem, sepatu laras dan popor senjata petugas dan dianggap tidak pro pembangunan.

Cara – cara itu digunakan untuk memuluskan jalannya investasi modal asing maupun nasional dengan merampas upah dan tanah milik kelas pekerja.

Dengan situasi dan kondisi tersebut, Yoyok sapaannya itu menyebut pantaskah masih ada negara untuk melindungi rakyatnya, jelaslah bukanlah yang diharapkan para pendiri bangsa.

Masalah lain yang cukup krusial adalah pembajakan demokrasi oleh kelompok oligarki. Dan hal tersebut, tidak dapat dibendung rakyat yang sadar.

“Sangat penting untuk membangun kontak dengan kelas pekerja di arena manapun. Dengan begitu, pewadahan rakyat terhisab oleh oligarki memiliki kepercayaan diri yang besar untuk melawan, karena dalam merumuskan agenda perjuangan memelukan strategi dan taktik yang tepat dan jangka panjang, sudah semestinya partai buruh ikut terlibat dalam perjuangan massa,” jelasnya. (Joy)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+