Lompat ke konten utama

Meski gagal Dua Kali, Cita – Cita Guru Besar FKIP Memajukan Unmul Tak Pernah Padam (1)

Caption: Bakal Calon (Bacalon) Rektor Universitas Mulawarman (Unmul) Profesor Susilo Ma'ruf(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Guru terbaik adalah pengalaman.

Pengalaman tidak pernah memberi teori, melainkan menghasilkan praktik.

Pepatah bijak itu tentu masih relevan di era masyarakat moderen seperti saat ini.

Sebagai seorang salah satu Guru Besar FKIP di Universitas Mulawarman (Unmul).

Profesor Susilo Ma’ruf bercita – cita mendorong lebih keras kampus kebanggaan warga Kaltim, terlebih Kota Samarinda menjadi universitas berkelas dunia atau World-Class University.

Adakah.id berkesempatan bertemu Prof Susilo hari Senin (13/6/2022) di salah satu warung makan Bilangan Jalan Jenderal Gatot Subroto (Gatsu) Kota Samarinda.

Disela – sela kesibukannya menjalani tahapan suksesi pemilihan rektor (pilrek) periode 2022 sampai dengan 2026.

Kepada media ini, pria kelahiran Kabupaten Sidoarjo Provinsi Jawa Timur 5 Desember 1971  itu bakal all-out bersaing dengan empat rekan bakal calon (balon) rektor Unmul lainnya yakni, Prof Buhari Yusuf, lalu Dr Abdunnur dan Dr Irwan Gani serta Dr Idris Mandang.

Meskipun begitu, Susilo tidak memandang sebelah mata kemampuan memimpin dan peluang keempat pesaingnya.

“Namanya kompetisi itu kan semua punya kesempatan untuk menang. Jadi kalau 5 orang berarti 100 dibagi 5 kan,” kata Prof Susilo seraya tetap optimistis menjalani tahapan pilrek.

Pertaruhan Menuju Tampuk Kursi Unmul 1

Belajar dari pengalamannya dua kali mengikuti kontestasi pemilihan rektor (pilrek). Dan harus mengakui kedigdayaan Guru Besar Ilmu Sosial dan Politik (Isipol) Prof Masjaya.

Peraih gelar Doktoral Universitas Negeri Malang, Jawa Timur tahun 2001 itu tidak patah arang. Suksesi saat ini disebutnya adalah kali ketiga dirinya turun gelanggang.

Penerapan keilmuan dalam konteks Tri Darma Perguruan Tinggi sudah ia lakukan.

Berusaha menuju Rektor Unmul adalah upayanya sebagai wujud kepedulian terhadap lembaga pendidikan Perguruan Tinggi (PT) Unmul.

Sebagaimana petikan kata kuat dari pahlawan nasional, Sutan Syahrir yakni, Hidup yang tidak dipertaruhkan, tidak pantas untuk dimenangkan tampaknya layak disematkan kepada dirinya.

Dari pengalaman kegagalan yang lalu, menjadikan Susilo tampak lebih bermental baja, dan lebih siap menjalani perhelatan yang menentukan perkembangan kampus, berjuluk Tropical University selama empat tahun kedepan.

“Ya namanya bertarung kan. Istilahnya yang kemaren ya sudahlah selesai. Ini kita bicara kedepan bukan yang kemaren, semua yang dibelakang itu kita pakai untuk kaca benggala,” ujarnya.

Lanjut Susilo lagi, prinsip hidup pria lulusan Pasca Sarjana (S2) Universitas Negeri Malang tahun 1997 dikatakannya lagi dapat dijadikan untuk pertimbangan sejarah, sehingga visinya kedepan bisa dijalankan seluruh masyarakat kampus Unmul.

“Kalau sudah bismillah, ya bismillah nyalon. Masalah kalah atau menang urusan lain, artinya ikhtiar dimaksimalkan, berdoa dimaksimalkan. Tentang hubungan kemanusiaan itu tidak berpengaruh apa-apa, saya sebagai akademisi dan semua tim saya di akademisi humanistik, istilahnya tidak akan melakukan hal-hal yang tidak akademis dan agamis,”ungkapnya.

Ditanya soal motivasi untuk kembali maju, Susilo menyebut kemampuan hingga sampai pada titik menyandang guru besar saat ini, dan pengalaman manajerialnya adalah karunia Tuhan YME.

Terhadap Unmul mesti berjalan tidak seperti biasa, not business as usual atau kerangka kerja yang sudah ditetapkan dalam tahapan proses kerja dikerjakan dengan baik.

Untuk itu menurutnya saat ini Unmul tidak hanya berlari kencang, namun lebih dari itu, yaitu terbang lebih tinggi.

“Dunia kan berjalan cepat, kita merasa diri ini maju, cuman yang lain ini majunya kencang, jadi kalau kita jalannya biasa akan ketinggalan. Misalnya gas kita itu 10, samping kita sudah 20 atau bahkan 50 gasnya, kemajuannya itu yang saya lihat harus ada di Unmul. Dari situlah saya kepingin ikhtiar untuk di Unmul jangan business as usual, semua harus luar biasa kerjanya, ngegasnya itu kalau bahasa anak sekarang, gas pol pol pol,” selorohnya.

Dengan begitu, gesitnya kemampuan atau agility dalam konteks individu dan organization agility mesti dipegang

Menurutnya, kuncinya ada pada Sumber Daya Manusia (SDM) dan implementasi.

Ia memaparkan, ketika sdm bagus, namun dalam implementasi pimpinannya tidak berani, banyak pertimbangan maka segala rencana baik tidak akan berjalan.

Tetapi ketika pimpinannya berani dan kepemimpinannya kuat, maka efeknya akan berlipat ganda. Dengan begitu, organisasi akan berjalan tidak seperti biasa namun lebih dari biasa.

“itu yang mungkin harus dilakukan, sehingga yang ada dibenak saya kenapa memberanikan untuk mencalonkan diri, karena saya sudah dua kali, artinya dulu juga seperti itu keinginannya kan yang tahun 2014 dan 2019, juga sama keinginan saya supaya Unmul jalan not business as usual. Tapi kan tuhan belum mengkehendaki saya memimpin, kalau dikehendaki tuhan, kita akan maju,” jelas Susilo lagi –bersambung—. (Sam/Yos)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+