• ADA+
  • Kayuh Sepeda Sampai Surga

Kayuh Sepeda Sampai Surga

Kakek tua itu memarkir sepeda yang telah ia modifikasi dengan beragam tulisan serta dicat merah. (Foto/Hae)
Caption: Kakek tua itu memarkir sepeda yang telah ia modifikasi dengan beragam tulisan serta dicat merah. (Foto/Hae)(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Al-Qur’qan dijadikan pedoman, Nabi Muhammad SAW sebagai panutan kalau otaknya nerima. Kata kakek tua yang hendak memarkir sepeda miliknya.

Sepertinya kakek tua itu telah mengayuh sepeda dari tempat yang jauh. Ia mengenakan pakaian gamis, dan tas selempang. Untuk keselamatan diri, terpasang helm proyek dikepalanya.

Ia turun dari sepeda tepat di tanjakan Jembatan Dua Sungai Dama, Kota Samarinda, kalimantan Timur (Kaltim). Lalu didorong sepedanya itu sepanjang sisa perjalanan, untuk sampai pada tempat tujuan.

Dalam perjalanannya banyak mata yang memperhatikan, mungkin jadi bertanya-tanya, sebab ada yang unik dari tampilan si kakek tua.

Hampir seluruh bagian sepedanya dicat warna merah, berpadu dengan hitam dan putih. Ditambahi besi plat sana-sini.

Pada bagian tengah, antara sadel dan rak belakang yang sudah dimodifikasi menjadi lebih lebar, diberi pembatas yang bisa saja digunakan untuk bersandar.

Sampai.

Kayu reng berwarna merah penuh dengan coretan, berukuran panjang kurang lebih satu meter dipasang sebagai standar. Kemudian dia melepaskan helm proyek yang digunakan.

Di tempat dia berhenti itu ada beberapa orang, didatanginya salah satu.

Tanpa ditanya dia bicara, banyak orang yang tahu agama, dan berpendidikan tinggi, tapi tetap melenceng.

“Coba lihat pejabat, masih saja melenceng padahal sudah disumpah pakai Al-Quran,” katanya dengan logatnya yang kental.

Kemuadian dia merogoh tas selempang warna coklat bergambar Ka’bah. Mengeluarkan isinya dan kembali berkata, akan menyesal hidup jika tidak mengikuti perintah agama.

Ikuti jejak nabi Muhammad pasti selamat, semua yang kita lakukan, kita bicarakan ada yang mencatat.

“Makanya saya ini lebih banyak diam,” katanya sembari mengeluarkan sebatang rokok dari bungkusnya.

Bupati, gubernur, dan pejabat-pejabat banyak yang korupsi, padahal pendidikannya tinggi, mereka tahu agama.

Kembali dia masukan bungkus rokok ke dalam tas slempangnya, sebatang rokok telah di bibir. Dirogohnya lagi tas itu untuk menemukan sesuatu.

Uang itu raja dunia, istilah Inggris ‘time is money’, sifatnya jadi serakah, jadi munafik.

Dengan korek di tangan rokok siap dibakar, “kita ini orang bawah, nggak boleh banyak tingkah, lebih baik diam, sabar, dimaklumi saja untuk dekat dengan Allah.

Karena sedikit miring, si kakek tua merapikan topi haji yang juga dicat warna merah.

bersambung…

(HAE)

.

MASUKAN KATA KUNCI