Hamidah Penenun Generasi Ketiga yang Menghidupkan Ulap Doyo

Caption: Hamidah (60), pengrajin ulap doyo asal Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. (Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, meresmikan Gedung Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XIV di Jalan H.A.M. Rifaddin No. 69, Samarinda Seberang dalam rangkaian kunjungan kerjanya ke Kalimantan Timur, Jumat (30/5/2025).

Peresmian ini turut diisi dengan dialog budaya dan penampilan seni tradisional, termasuk demonstrasi tenun ulap doyo.

Di salah satu sudut gedung, perhatian para tamu undangan mulai dari pejabat hingga budayawan, tertuju pada seorang wanita lanjut usia yang tekun bekerja di depan alat tenun tradisional.

Di sekelilingnya, berbagai kain tenun ulap doyo dengan warna-warna alam dan motif etnik khas Dayak tergantung, menjadi bukti nyata kelestarian seni tradisi ini.

Wanita itu adalah Hamidah (60), pengrajin ulap doyo asal Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Dengan tangan lincahnya yang telah akrab dengan benang dan kayu sejak belia, Hamidah menunjukkan keahlian warisan leluhur.

“Iya turun-temurun kalau saya, penerus yang ketiga sudah generasi ketiga,” ujarnya dengan bangga.

Bagi Hamidah dan keluarganya, tenun ulap doyo jauh lebih dari sekadar keterampilan. Ia adalah warisan budaya berharga yang diturunkan lintas generasi. Ia mulai belajar menenun sejak usia 15 tahun dan memantapkan diri dengan membuka usaha tenunnya sendiri pada tahun 2009.

Keberadaan pengrajin seperti Hamidah menjadi penawar kekhawatiran akan punahnya minat generasi muda terhadap warisan budaya. Ia memastikan regenerasi di komunitas pengrajinnya berjalan baik.

Namun, tantangan modern tak terelakkan. Hamidah menyoroti masalah utama, seperti maraknya kain tiruan yang mengklaim sebagai ulap doyo asli.

Banyak konsumen keliru menganggap kain asli mudah rusak atau luntur, padahal penyusutan saat pencucian adalah karakter alami serat daun doyo.

“Kalau kita ini memang menjelaskan kalau ulap doyo itu bukan luntur, tetapi kalau dia dicuci dia menciut karena dia itu serat, nah gitu ini,” jelasnya.

Hamidah pun menunjukkan bahan baku utama tenunannya : daun kering berwarna coklat muda dari tanaman doyo liar yang banyak tumbuh di hutan Kalimantan.

“Dari serat daun doyo dari tumbuhan itu,” katanya sambil menunjuk daun yang ada di depannya.

Serat daun doyo yang kuat dan lentur itulah yang diolah melalui proses panjang dan rumit, mulai dari pemetikan, perendaman, pengeringan, hingga pemintalan menjadi benang. Proses alami ini menjadikan ulap doyo sebagai produk ramah lingkungan bernilai budaya tinggi.

Proses pembuatan satu helai kain memerlukan kesabaran luar biasa.

“Kalau proses kita dari motik daun sampai kita bikin serat kurang lebih satu bulan setengah. Sampai siap dipakai,” tambah Hamidah.

Meskipun erat dengan identitas Suku Dayak Benuaq, tenun ulap doyo kini telah diangkat menjadi simbol budaya Provinsi Kalimantan Timur.

“Kalau yang ini kan dari suku Dayak Benuaq. Cuman kalau sekarang ini mulai dari Bupati sampai Gubernur kan memang sudah merangkul untuk provinsi. Khususnya pada umumnya untuk Kalimantan Timur,” ucap Hamidah.

Dukungan pemerintah daerah ini membuka jalan bagi ulap doyo untuk menjangkau pasar lebih luas tanpa menghilangkan jati diri aslinya.(Do)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+