ADAKAH.ID, MALUT – Beberapa hari ini Maluku Utara dihebohkan dengan beubahnya warna air Goa Boki Mururu dan Sungai Sagea.
Perubahan tersebut diikuti dengan hujan berturut-turut. Goa Bokimururu dan Sungai Sagea terletak di Desa Sagea, Kecamatan Weda Utara, Kabupaten Halmahera Tengah, Provinsi Maluku Utara.
Masyarakat Desa Sagea mencurigai perubahan warna air di Goa Bokimururu dan Sungai Sagea akibat aktivitas perusahaan pertambangan.
Solidaritas pun bermunculan mengecam aktivitas pertambangan dan lemahnya pengawasan pemerintah.
Rivani Abdurradjak, Kapala Dinas Lingkungan Hidup, Kabupaten Halmahera Tengah saat diwawancarai reporter Adakah.id Malut menyampaikan hal itu belum bisa dibenarkan, jika perubahan warna itu akibat aktivitas pertambangan.
“Perubahan warna air Goa Bokimururu dan Sungai Sagea, kami belum bisa membenarkan kalau itu akibat aktivitas pertambangan. Pasalnya pertama, Daerah Aliran Sungai (DAS) Goa Bokimururu berasal dari dalam tanah. Kami hawatir bisa jadi ada patahan dibawah. Kedua karena sejauh ini hasil uji laboratorium belum ada yang mengatakan itu karena aktivitas pertambangan.” ucapnya. (01/09/2023)
Rivani menambahkan, sejauh ini kami sudah mengambil langkah-langkah taktis maupun strategis.
“Kalau dibilang kami tidak melakukan pengawasan, ini tidak benar. Karena kami sudah mengambil langkah untuk merespon perubahan warna air Goa Bokimururu dan Sungai Sagea. Dari mulai kejadian kami sudah turun ke lokasi. Kami juga melakukan pemantauan di kawasan lingkar tambang. Terutama di beberapa perusahaan tambang yang dekat dengan Goa Bokimururu dan Sungai Sagea. Jadi sudah ada langkah-langkah yang kami lakukan”. tuturnya. (Alam)
