ADAKAH.ID, SAMARINDA – Wali Kota Samarinda Andi Harun meimbau kepada masyarakat tidak mempersoalkan perbedaan sholat Iduladha (Ied) 1443 10 Dzulhijah.
Hal itu ia sampaikan Andi Harun seusai Sholat Ied di Masjid Raya Darussalam Kota Samarinda.
Sebagaimana diketahui, penetapan hari raya terbesar kedua umat muslim di Indonesia jatuh pada hari Minggu/Ahad. Sementara jamaah Muhammadiyah lebih cepat satu hari atau hari Sabtu.
Menurutnya perbedaan itu adalah fitrah Tuhan YME. Tentu setiap warganegara mengikuti pemerintah.
Dalam ayat Alquran dan hadist sebut AH sapaannya, sebagai umat muslimin yang menjadi pegangan hidup yakni, taatilah Allah lalu kedua Rasul dan taati pemimpin diantara kamu.
“Ada yang sholat Ied kemarin, dan ada yang hari ini itu tidak ada masalah. Masing – masing punya dasar. Yang tidak benar itu yang tidak sholat,” ucap AH kepada awak media, Minggu (10/7/2022) sembari melempar canda.
Lanjut dia lagi, dari tinjauan sains masing – masing punya dasar. Sholat itu dasar adalah matahari atau hilal. Sementara puasa Zulhijah dasarnya pada bulan. Jika Matahari makin ke timur maka lebih lambat. Tapi kalau ke barat, memang bagian dunia di sana lebih cepat melihat bulan.
Jadi masing – masing punya pendapat. Kenapa kita lebih cepat 6 jam, harusnya duluan. Tapi jangan dilupakan, masing – masih negara, provinsi punya letak dan cara memandang hilal.
Lanjut ayah tiga anak itu menerangkan, miladiyah pendekatannya adalah bulan, sementara waktu sholat adalah matahari. Jika sholat dasarnya pendekatannya hilal atau matahari, sedangkan ramadan pendekatannya bulan atau miladiyah.
“Intinya kita jangan memperbesar perbedaan sholat ini (Ied, red). Mau sholat hari Sabtu dan Minggu, sama – sama benar,” imbuhnya.

Sebagai informasi, sebelumnya pemerintah telah menetapkan 1 Zulhijah pada hari Jumat, 1 Juli 2022 dan Iduladha 1443 Hijriah yang jatuh pada hari Minggu, 10 Juli 2022 melalui Keputusan Menteri Agama No. 668/2022 tentang Penetapan 1 Zulhijah dan Iduladha 1443 Hijriah, sejalan dengan dilakukan penyesuaian juga pada SKB yang sebelumnya mengatur hari Libur Nasional Iduladha pada 9 Juli 2022.
Perubahan tersebut tertuang dalam Keputusan Bersama Menteri Agama No.678/2022, Menteri Ketenagakerjaan No. 2/2022, dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) No. 2/2022 tentang tentang Perubahan Kedua atas Keputusan Bersama Menteri Agama, Menteri Ketenagakerjaan, dan Menteri PANRB No. 963/2021, No. 3/2021, dan No. 4/2021 tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama tahun 2022.
Dalam SKB yang ditetapkan pada 7 Juli 2022 kemarin, mengubah Hari Libur Nasional Hari Raya Iduladha 1443 Hijriah yang semula pada hari Sabtu tanggal 9 Juli 2022, menjadi Hari Minggu tanggal 10 Juli 2022 (website menpan.go.id).
Dalam kesempatan sholat Ied bersama itu, AH didaulat pengurus Masjid Raya sebagai Khatib atau penceramah.
Hadir pula Gubernur Kaltim, Isran Noor dan Mantan Gubernur Kaltim, Farid Wadjdy sebagai pembina Masjid.
“Alhamdulilah kita diberi umur yang panjang di perayaan Iduladha tahun 2022 ini. Semoga tahun depan masih diberikan umur panjang untuk bisa merayakanya Iduladha kembali,” terangnya.

Selain itu, pelajaran yang bisa dipetik dari momen Ied kata AH lagi adalah bisa meneladani ketawakalan nabi Ibrahim AS bersama seluruh keluarganya, bagaimana menerapkan prinsip hidup berqurban.
“Itu artinya segala pengorbanan hidup, dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah, rela berqurban bisa menjadi spirit dan semangat bagi seluruh masyarakat di bumi. Ini agar bangsa indonesia selalu mendapat kemakmuran dari Tuhan dan terhindar dari segala marabahaya,” tuturnya. (Sam/Yos)
