ADAKAH.ID, KUTAI KARTANEGARA – Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), Wiyono, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas pertanian tidak hanya bergantung pada luas lahan, tetapi juga pada kemampuan petani dalam mengelola sumber daya air dan memanfaatkan teknologi secara berkelanjutan.
Ia menyebut, sektor pertanian di Kukar memiliki peran vital sebagai penopang ketahanan pangan Kalimantan Timur dan nasional.
“Sekarang menyiram dan menyemai sudah bisa menggunakan drone. Harapan kita, pemanfaatan teknologi ini dapat meningkatkan produktivitas pertanian yang saat ini rata-rata masih sekitar 4 ton per hektare. Kalau air bisa kita kelola dengan baik, tentu hasilnya bisa jauh lebih maksimal,” ujar Wiyono.
Menurutnya, perkembangan teknologi pertanian modern seperti penggunaan drone untuk penyemaian dan penyiraman tanaman bisa menjadi solusi untuk meningkatkan efisiensi kerja petani sekaligus menjaga produktivitas lahan.
Kukar sendiri, kata Wiyono, menyumbang sekitar 40 persen pasokan beras di Kalimantan Timur. Oleh karena itu, kolaborasi antara instansi terkait seperti Dinas Pertanian, Dinas PU, Balai Wilayah Sungai (BWS), dan PUPR Provinsi Kaltim menjadi sangat penting untuk memperkuat sistem irigasi dan manajemen air.
“Kolaborasi ini sangat penting. Kita harus fokus pada titik-titik strategis untuk meningkatkan indeks pertanaman, bahkan bisa mencapai IP tiga kali tanam dalam setahun. Kalau ini bisa kita lakukan, maka Kukar akan semakin kokoh dalam menopang ketahanan pangan daerah dan nasional,” tegasnya.
Selain berbicara soal teknologi dan infrastruktur, Wiyono juga menyinggung persoalan kesejahteraan petani yang diukur melalui Nilai Tukar Petani (NTP). Saat ini, NTP Kukar baru mencapai angka 101, yang menurutnya belum mencerminkan kesejahteraan sesungguhnya.
“Kalau NTP masih di angka 101, artinya petani kita baru mampu memenuhi kebutuhan dasar. Belum ada ruang lebih untuk saving atau menabung. Ini masih jadi tantangan bersama, bagaimana agar petani benar-benar sejahtera,” ungkapnya.
Ia menekankan pentingnya evaluasi berkala dalam setiap program pertanian, terutama yang melibatkan P3A. Tanpa dukungan infrastruktur irigasi yang memadai, peningkatan kapasitas petani dinilai tidak akan maksimal.
“P3A ini tugasnya mengelola air. Kalau airnya tidak ada, tentu mereka akan kesulitan. Jadi selain pelatihan, kita perlu menyiapkan infrastruktur yang andal agar produktivitas dan kesejahteraan petani ikut meningkat,” tambahnya.
Meski mengakui keterbatasan anggaran daerah, Wiyono tetap optimistis seluruh pemangku kepentingan dapat berinovasi dan berkolaborasi untuk kemajuan sektor pertanian di Kukar.
“Anggaran memang terbatas, tapi semangat kita jangan ikut terbatas. Mari tetap berkolaborasi untuk membangun pertanian Kukar yang lebih maju,” tutupnya.
Dengan demikian, Wiyono menegaskan bahwa teknologi modern, pengelolaan air berkelanjutan, kolaborasi lintas sektor, serta peningkatan kesejahteraan petani adalah empat pilar utama yang harus dijalankan untuk menjaga posisi Kukar sebagai lumbung pangan Kalimantan Timur dan mendukung program swasembada pangan nasional. (Adv)
