Bincang Santai dengan Pelaku Usaha Rekreasi Pantai Panrita Lopi Kecamatan Muara Badak

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Pemuda Muara Badak terbilang sukses mengembangkan ekowisata sebagai mata pencaharian pengganti dikala tanggkapan ikan tak seberapa banyak.

Dikenal dengan nama Achmad, pria sekira umur 30an itu memberi harapan kesejahteraan dalam mengolah alam.

Pantai yang sudah beberapa tahun ia kelola itu semakin ramai dengan pengunjung.

Tenda – tenda kemping mengisi areal camping ground di atas pasir putih pantai panrita lopi dengan beragam warna. Hammock bagi traveler bersantai yang digantungkan pada pohon cemara bergoyang bak ditiup angin.

Dahulu kondisi pantai kata Achmad adalah yang terjelek karena dipenuhi rawa. Pasir diuruk dimulai tahun 2017 menggunakan mesin penyedot pasir. Dengan menghabiskan dana sekitar Rp 3 miliar termasuk fasilitas bangunan yang kerap bongkar pasang.

Hanya ada satu alat digunakan empat orang dari pagi sampai sore kalau tidak ada orang dan tidak berhenti kalau tidak lelah

Walhasil jejaknya diikuti orang lain sekarang. Menurunya itu adalah hal baik. Kedepan masih banyak pekerjaan yang dilakukan.

Seperti diketahui, pasca dirumah aja banyak masyarakat menjadi jenuh. Warga Kaltim tentunya ingin kegiatan seru di alam bebas yang merefreskan, salah satunya relaxasi yang biasa disebut vitamin sea.

Saat ini Achmad menguraikan jika pandemi covid – 19 membuat para pengunjung menurun.

“Sebelum covid pengunjung hanya 2000 orang perbulan dan itu sudah termasuk banyak banget,” ujar Daeng Lompo sapaan Achmad, Minggu (11/4/2021).

Lanjut dia menjelaskan, setelah dinyatakan lockdown, selama 3 bulan tempatnya juga ditutup.

Bersama keluarga datang untuk menguruk areal dengan pasir guna meratakan. Dirinya yakin bisa melewatinya. Saat memasuki new normal, terbayar lah. Ada 3500 orang perminggu dengan tetap mematuhi protokol kesehatan.

Padahal saat itu kata dia, sudah berhutang dua drum solar dan akhirnya, terbayar dari yang maha kuasa.

Selanjutnya setelah memasuki fase Kaltim steril pengunjung kembali 2000 orang perbulan.

“Kemarin saya nekat, pertama kali di Kaltim pada masa covid ada event meski sudah diwanti oleh DPD dan masyarakat untuk berhati-hati. Meskipun saya dipenjara saya siap, saya memperjuangkan UKM yang ada disini, mereka mengantungkan harapan pada Panrita lopi,” ungkap dia.

Saat diberi surat himbauan Daeng Lompo langsung tutup disebutnya lantaran masih memikirkan diri sendiri. Namun sekarang yang menggantungkan harapan di pantai panrita lopi sudah ada 40 lebih UKM, tidak ada pekerjaan lain selain berjualan.

Yang membuatnya senang adalah seorang ibu-ibu datang bercerita kepada dirinya bahwa anaknya dapat kembali sekolah karena event menghidupkan kembali usaha kecilnya.

Ia menjelaskan kecamatan Muara Badak memiliki 13 destinasi yakni, pantai Tanjung, pantai malabar, pantai sambera, dan pantai jingga. Selain itu ada pula pantai pasir putih, pantai pelangi, pantai blue beach serta pantai mutiara indah. Ditambah pantai ceria, pantai Panrita lopi dan pantai bako pangempang.

“Saya optimis orang makin hari semakin banyak ke Muara Badak dan interkoneksi muara badak dan marang kayu pasti akan terjadi,” paparnya.

Saat ini muara badak posisinya cukup ideal lantaran berada ditengah-tengah dengan kota Bontang dan Samarinda.

Panrita lopi menawarkan pengunjung bisa berfoto di bawah rindang pohon cemara yang disebut Lorong Cemara.

Selain pohon cemara, ia menyebutkan semua fasilitas semuanya gratis hanya dengan membayar loket penyebrangan dan tidak ada pembayaran lagi di dalam kecuali menyewa karpet Hammock.

“Fasilitas gazebo, panggung, air bersih semua gratis. Di tempat lain belum tentu sama manajemennya. Kami tetap jual suasana ya apa yang ada di foto itu yang ada,” terangnya.

Untuk sampai ke Panrita lopi, dengan membayar parkir Rp 3 ribu untuk motor tidak camping, kalau bermalam Rp 5 ribu, sedangkan mobil Rp 10 ribu. Lalu membayar tiket masuk Rp 35 ribu dengan menggunakan kapal motor ke pantai dengan rincian kapal PP Rp 15 ribu, tiket masuk Rp 20 ribu. Sementara bermalam hanya tambah Rp 5 ribu.

“Untuk makanan di sini (panrita lopi, red) harga pasar,” tuturnya.

Walaupun ada pro kontra mengenai bangunan mengapa bukan kayu, ia menjelaskan dirinya bisa menghemat 40 persen.

Sedangkan kalau pakai semen seperti saat ini, walaupun pekerjaannya sangat berat lantaran semua pasir yang dipakai tidak ada yang dari laut.

“Pasirnyanya dari gunung,” ungkap dia lagi.

Saat ini kapal yang beroperasi ada 10 unit dengan tarif tidak berubah meskipun menyebrang saat subuh.

Selain harapan akses diperbaiki, ia mengharapkan pemerintah melonggarkan kebijakan selama covid – 19. Menurutnya pengusaha dan penguasa tidak boleh berlawanan dan jelas ikut alur dan selalu berharap kebijakan itu ada.

“Longgarkan kebijakan apabila ekonomi di Muara Badak mau dilihat tingkat kesuburannya, saya yakin dan percaya sektor pariwisata akan mendongkrak ekonomi mikro dan akan mengangkat UKM di Kukar,” ulasnya.

Menurut Daeng Lompo ada tiga hal yang perlu di dorong di Kukar yakni, budaya di Kutai lama, sejarah di Sanga Sanga dan situs yang ada di muara Kaman.

Dirinya telah berpikir tentang pengembangan lainnya di pantai panrita lopi. Karena orang yang akan datang diprediksinya dari Kaltim 1 juta lebih. Setidaknya ia menyebut bisa berjuang hari ini untuk generasi yang akan datang. Karena gagalnya generasi akan datang karena kurang hebatnya generasi terdahulu.

“Kita terlalu asik dengan suasana nyaman karena kalau kamu tidak bergerak sekarang kita hanya akan jadi penonton dikemudian hari,” urainya.

Menjaga dan meningkatkan pengunjung disituasi pandemi juga tak lepas dari pejabat yang lalu lalang Bontang – Sangata merasakan bagaimana kondisi jalan.

Harapannya segera buat toilet di pinggir jalan karena kemacetan ini selamanya kayanya.

Ungkapan itu disampaikan lantaran jalan itu macet total akibat dari proses pekerjaan perbaikan non permanen. Memurutnya cukup di tiga titik, depan bandara, tanah datar dan simpang muara badak karena prihatin dengan orang banyak dengan segala kendala, padahal Kaltim kaya.

Jadi untuk meningkatkan pengunjung perlu kita sampaikan ke publik Panrita lopi telah mengalami perubahan.

Ditanya soal dampak jalan rusak Daeng Lompo menyebut pengunjungnya menurun tajam lantaran sudah empat bulan sejak jalan rusak pengunjung turun 60 persen.

Hal itu membuatnya dilema karena bingung ingin mengadu kepada siapa.

“Harapan saya pemerintah segera mengambil tindakan. Karena kasian pengunjung dari Samarinda biasa hanya butuh waktu 1 sampai 1,5 jam, sekarang sampai 4 jam.

Sebab jalan rusak menurutnya ada genangan air , banyaknya alat berat yang melintasi jalanan hingga jalan berlubang dan menyebabkan banjir dan lumpur.

Dengan begitu perlu cepat diambil tindakan agar jalur ekonomi tidak sampai putus. (MJ/Yos)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+