Terputus Kabar, Mencari Celah Kepastian dalam Rilisan Album EP Notula Bertajuk ‘Sua’.

Notula dalam Sebuah Foto. (Foto: Notula)
Caption: Notula dalam Sebuah Foto. (Foto: Notula)(Adakah.id)

Catatan Pertemuan Demi Pertemuan NOTULA merilis album EP perdana bertajuk, ‘Sua’. Temani hari-harimu maknai sunyi.

Lagu ‘Sua’ menjadi karya pertama yang digarap dalam proses meluncurnya solo project Notula sebagai musisi, namun sebelum karya itu Notula telah merekam single lagu berjudul ‘Rumah’ yang terbit tahun 2023 pertama kali di beberapa platform digital seperti Spotify, YouTube, dan lainnya.

Dalam sambungan WhatsApp pada Kamis (11/7/2024), M Nata sebagai Notula memaparkan banyak hal dari dialektika pada proses pengkaryaan selama bermukim di Yogyakarta. Secara menyeluruh ‘Sua’ merupakan pandangannya atas komunikasi yang terputus dengan orang-orang di daerahnya Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim). Dari itu dia tak ingin mencari salah atas diri siapapun, tetapi merasakan adanya komunikasi yang cukup kacau, menipis dan terkikis oleh keadaan yang tak mampu dikontrolnya saat itu.

“Untuk sekarang sudah coba diperbaiki pelan-pelan, karena dulu itu berantem banget di pikiran sendiri,” ucapnya.

Berantemnya, Lanjut M Nata, tak ingin berkabar dengan keadaannya yang susah juga tak tentu. Perumpaan sederhana yang digambarkan seperti pertanyaan-pertanyaan saat kumpul keluarga mulai dari bagaimana kuliah, hingga kapan menikah.

“Ya gitu-gitulah. Aku ngerasa, saat itu kayak ada komunikasiku yang belum bisa untuk nyambung sama orang-orang di Kaltim. Aku nggak mau menyalahkan, karena mereka nggak tau kehidupanku di sini. Jadi fokus saja dalam merajut kehidupan,” jelasnya.

Lagu ‘Sua’ juga adalah bentuk interpretasi dirinya memaknai persuaan atau pertemuan, dan itu tergambar dalam lirik ‘Melinting waktu lalu dibakar, dihisap kemalangan yang sama’. Semua memiliki kemalangan masing-masing, dan yang berani untuk dipamerkan hanya kabar-kabar baik saja.

Sementara, jika hanya kabar baik semuanya bisa jadi omong kosong, dan perkumpulan tidak menjadi menyenangkan jika saling berbagi kabar buruk.

“Ngumpul, ternyata kabar buruk semua, lebih baik nggak usah ngumpul dulu. Cuma kalau kita ngumpul, dan kita sadari omong kosong semua, jadi nggak menyenangkan juga, makanya kita ngumpul kalau sudah merasa siap, benar-benar damai dengan keadaan yang dilalui kemarin-kemarin,” kata M Nata.

Perkaranya bukan karena rindu dan harus bertemu, hanya saja ada tahap yang harus diselesaikan setiap personalnya tentang persuaan, sambung Nata, maka itu ditegaskan dengan lirik ‘Harapan sangatlah panjang, doa bapak-ibu berperan – Anakmu di simpang jalan, mencari celah kepastian’.

“Masih di simpang jalan, belum memilih ingin ke mana, mau ke belakang, atau ke depan. Masih di persimpangan jadi manusia silver,” lawaknya.

Seingatnya, berangkat ke Jogja sejak tahun 2014 dan sempat kembali pulang ditahun 2018 untuk beberapa urusan. Lalu kembali pergi angkat kaki, mulai masa pandemi Covid-19 komunikasi benar-benar terputus.

Disebutnya secara runut, Lagu ‘Rumah’ dan ‘Sua’ memiliki kaitan. Hanya saja ‘Rumah’ lebih spesifik, rumah bukan lagi sebuah bangunan, tapi seperti orang-orang yang dianggap rumah, bisa saja untuk orang di Jogja, atau di mana saja.

Pandemi terjadi, karya ‘Sua’ lahir sebagai karya pertama, setelah lagu tersebut ada beberapa materi karya yang sudah ditulis M Nata namun tidak atau belum cocok dalam aransemen. Nantinya, itu disiapkan untuk album selanjutnya. Pertemuan dengan beberapa personal akhirnya membawa romantisme, lahir lirik ‘Rembulan Menghampiri’ sebagai materi berikutnya, kemudian ‘Darlink’.

Pada tahun 2023 di kepalanya menumpuk, pikiran untuk belum bisa pulang, membawanya kepengkaryaan sebuah lagu dengan judul ‘Rumah’, tak perlu waktu lama lagu tersebut langsung masuk proses rekaman hingga pembuatan video clip.

“Karena memang dibuat sebagai hadiah untuk orang rumah. Jadi recording langsung bikin video clip, bukan juga karya dadakan yang harus kebelet terbit,” katanya lagi.

Akibat banyak individu terlibat pada proses Notula, disemangati dirinya membuat karya lanjutan dengan bentuk album. Proses ini juga menjadi gejolak yang membawanya pada momen dengan personal lagi, hingga lahir karya ‘Taman Bunga’ juga ‘Paraludus’, dan itu terjadi saat seminggu hingga 2 minggu sebelum akan direcord EP album ‘Sua’.

“Maka kesimpulannya ‘Sua – Catatan Pertemuan-pertemuan’,” ucap M Nata.

Soal musikalitas dalam bermusik Notula percaya itu dapat terskema, ketika cerita yang dibangun pada lirik itu peristiwanya jelas terjadi, tidak asal membuat sesuai ide atau keinginan yang muncul. Menurutnya juga musikalitas bisa senada ketika momen dari lagu tersebut diciptakan atas dasar cerita yang sesuai dengan fakta. Dia mencontohkan momen pada lagu ‘Darlink’ yang bercerita tentang bagaimana dirinya membujuk perempuan ngambek dalam kadar lucu-lucuan, lagu yang sifatnya gombal, oleh sebab itu tidak menggunakan G tetapi K, ‘Darlink’.

Project solo yang diinisiasi oleh M Nata tersebut muncul dengan nama Notula pada tahun 2021. Sebagai anggota dalam grup musik Anak-anak Zaman dia menjelaskan bahwa, dulu dalam grup musik tersebut ada tugas bagi setiap personil untuk mengirimkan tawaran karya yang akan digarap bersama. Terdorong oleh Rizal Gopek yang lebih dulu memiliki project sebagai solois, booming dengan ‘Lelagu Petani’.

Kesepakatan Anak-anak Zaman memang tidak melarang setiap personil untuk punya solo project, membuat M Nata melakukan komunikasi ke manajer band terkait project solonya, bertanya soal nama yang baik untuk garapannya itu, hingga hal lain sebagainya.

“Husein itu ingat, kalau aku suka nulis hal diluar musik, disarankan kenapa nggak pake nama Notulen? Ternyata pembahuruan kata notulen itu Notula, sebagai pencatat peristiwa dalam persidangan. Pelan-pelan aku bikin logonya,” tambahnya.

(HAE)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+