ADAKAH.ID, KUTAI KARTANEGARA — Pemerintah Kecamatan Tenggarong memanfaatkan momentum Safari Ramadan sebagai ruang untuk menyerap aspirasi dan mempererat komunikasi dengan masyarakat. Bukan sekadar seremoni tahunan, kegiatan yang menyasar 15 masjid di 12 kelurahan dan 2 desa ini menjadi pendekatan partisipatif yang diapresiasi luas warga.
Camat Tenggarong, Sukono, menegaskan bahwa Safari Ramadan bukan hanya kegiatan ibadah, tetapi sarana menjembatani harapan masyarakat dengan kebijakan pemerintah. Setiap kunjungan disertai diskusi terbuka, tausiyah, dan sesi dialog bersama warga.
“Safari Ramadan bukan hanya tentang ibadah bersama, tetapi juga menjadi kesempatan membangun kebersamaan dan memahami kebutuhan warga,” kata Sukono, Sabtu (3/5/2025).
Melalui kegiatan ini, warga diberi ruang menyampaikan persoalan langsung—dari infrastruktur, pelayanan publik, hingga akses sosial. Salah satunya disampaikan H. Rudi, warga Kelurahan Bukit Biru, yang menilai kegiatan ini membuka ruang komunikasi yang jarang ditemukan dalam forum formal.
“Kami merasa lebih diperhatikan karena bisa menyampaikan aspirasi langsung. Semoga program ini terus berlanjut setiap tahun,” ujarnya.
Program ini juga didukung penuh oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan. Selain memperkuat ukhuwah Islamiyah, kegiatan ini dirancang untuk menumbuhkan kesadaran spiritual dan sosial dalam bingkai kebersamaan.
Ketua MUI Kecamatan Tenggarong menyebut Safari Ramadan mempertemukan warga lintas latar belakang dalam suasana ibadah dan dialog yang memperkuat nilai religius dan sosial. “Ini mempererat silaturahmi dan rasa persaudaraan,” katanya.
Sukono berharap Safari Ramadan dapat menginspirasi instansi lain untuk turut mendekatkan diri dengan masyarakat. “Kami ingin kegiatan ini jadi wadah yang bermanfaat, tidak hanya dalam ibadah tetapi juga pembangunan dan pelayanan masyarakat,” tutupnya.
(adv/diskominfokukar/o)
