ADAKAH.ID, SAMARINDA – Sepi, siapa yang bisa menang melawan sepi, bahkan orang yang telah merawat anaknya sendiri juga bisa merasa sepi. Aku mendengar suara mereka, sejak suara tangis pertama kali, mereka sudah dewasa, sudah bisa berkata-kata tapi kata-kata yang kuajarkan ke mereka, mereka gunakan untuk melawan aku, membuang aku, menepikan aku ke ruang sepi tak berdasar. Sepertinya bapak akan sendirian selamanya.
Kalimat tersebut adalah dialog tokoh bapak, dalam Pentas Tahunan ke-XV dengan judul naskah Tentang Ayah karya Fajri Syamsirani, dan disutradarai Amanda Tesalonika.
Pentas Tahunan Teater Bastra tersebut digelar oleh Teater Bastra (Bahasa dan Sastra), dan Himabastra Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mulawarman (Unmul).
Amanda menyebut proses latihan yang berlangsung selama tiga bulan, tak semulus yang direncanakan. Dan ditambah kurangnya dukungan dari pihak birokrat kampus, salah satunya seperti perizinan untuk tempat latihan yang dibatasi, sehingga selama ini mereka melakukan itu di taman depan kampus.
“Entah kenapa latihan kita dibatasi sekali, terutama di aula yang seharunsnya bisa jadi tempat latihan, itu tak bisa kita pakai,” kata Amanda usai pentas yang dilakukan di Aula SGO Kampus Pendidikan Bahasa dan Seni, pada Sabtu (2/9/2023).
Walau demikian, Amanda yang baru pertama kali menjadi sutradara terkesan dan salut dengan semangat seluruh tim, juga panitia.
Naskah Tentang Ayah menceritakan anak-anak yang telah dewasa, sibuk dengan pekerjaan juga urusan mereka masing-masing.
Ditambah hasutan dari sang menantu yang merasa kerepotan karena harus mengurus suami dan mertuanya yang telah pikun.
“Saya memilih naskah ini karena berkaitan dengan kehidupan sekitar,” katanya lagi.
Sajian dalam Pentas Tahunan ke-XV ini, berhasil membangun emosi para penonton. Sejak awal para penonton telah dibawa dalam haru yang digambarkan tokoh ayah, dan riuh gelak tawa juga berulang kali terjadi, hingga buaian jengkel, serta marah di atas panggung merambat ke tikar penonton.
“Keren, bukan pertama kali aku nonton teater, ini jadi salah satu pementasan yang buat aku sedih sampai nangis, banyak lucunya juga, dan ikutan kesal,” kata Yani, salah satu penonton.
Fernando yang merupakan tokoh Surya mengakui, dalam pementasan ini proses yang dilalui sangat sulit, mulai dari membangun rasa, dan membangun kecocokan.
Fernando juga menceritakan bahwa, disatu sisi sebenarnya tokoh Surya sangat menyayangi bapaknya, tetapi dia juga sayang dengan sang istri.
“Kemudian istri dan adiknya yang pertama menghasut Surya untuk menempatkan bapak ke panti jompo,” ucap Fernando.
Sementara Safardan yang berperan sebagai bapak atau Kusnar mengungkapkan, untuk dapat memerankan tokoh tersebut dia melakukan sejumlah observasi, mulai dari orang sekitar, kakek dan ayahnya sendiri.
“Saya juga bertanya sama teman, bagaimana perilaku orantuanya dirumah,” ujar Safardan.
Selain Fernando dan Safardan, pemeran tokoh lainnya dalam Pentas Tahunan ke-VX tersebut ada juga Naura, Wasilah, Azhar, dan Latifah.
Sementara yang bekerja di balik panggung, sebagai penata musik; Garnis, Awi, dan Aryando. Penata panggung; Dewi, dan Nurfa. Penata lampu; Selviana, dan Afif. Penata rias dan busana; Avita, dan Merly.
Pementasan tersebut dilakukan sebanyak dua kali pada hari yang sama. Pertama pukul 16.00 Waktu Indonesia Tengah (Wita), dan 19.00 Wita.
(HAE)
