ADAKAH.ID, SAMARINDA — Kekhawatiran soal banjir kembali mencuat di Loa Janan Ilir, salah satu kecamatan yang kerap terdampak banjir limpasan dari kawasan perbukitan dan permukiman padat di Samarinda. Selama Oktober–November, hujan intens berulang kali memicu genangan tinggi di sejumlah titik, termasuk Jalan H.M. Rifaddin yang berada di sekitar Kampus II UINSI Samarinda.
Muhammad Farikhin, pemuda Loa Janan Ilir, mengatakan banjir di depan kampus UINSI kini lebih sering dengan kedalaman yang bertambah dibanding beberapa tahun lalu. Padahal, pemerintah sudah membangun drainase besar di ruas jalan tersebut sebagai bagian dari penanganan banjir Sungai Karang Mumus (SKM).
“Awal bulan ini dan akhir bulan lalu, banjir di depan UINSI dalam sekali. Padahal drainasenya lebar. Seharusnya menampung air,” ujarnya, Sabtu (29/11/2025).
Ia menilai genangan tidak lagi semata soal kapasitas saluran, tetapi juga perubahan tutupan lahan di hulu. Farikhin menyebut adanya pengerukan bukit di jalur lampu merah UINSI hingga mendekati RSUD Inche Abdoel Moeis, yang menurutnya tampak semakin meluas dalam dua tahun terakhir.
“Dari lampu merah itu kelihatan jelas gunung dikeruk. Sampai dekat Moeis banyak sekali pengerukan,” katanya.
Kendati demikian, ia mengakui dampak baik dari pembangunan drainase baru oleh Pemkot Samarinda dan Pemprov Kaltim, namun ia menekankan upaya teknis tidak akan efektif bila ruang terbuka hijau dan vegetasi penahan air terus berkurang.
Farikhin juga mengingatkan bahwa aliran banjir dari kawasan UINSI akan turun ke Jalan Barito, Loa Janan Ilir, salah satu titik terparah di Samarinda. Pada Mei lalu, kawasan itu tergenang hingga setinggi dada orang dewasa akibat limpasan dari wilayah yang lebih tinggi.
“Kampus UINSI posisinya di atas. Air pasti turun ke Barito yang sudah sering banjir,” jelasnya.
Ia berharap pemerintah kecamatan memperketat pengawasan pembukaan lahan agar Loa Janan Ilir tidak mengalami bencana serupa banjir besar di sejumlah daerah lain, seperti di Aceh hingga Sumatera Barat baru-baru ini. (HI)
