Komite Politik Nasional Malut Tanggapi Bentrokan di Kawasan Tambang Halteng

Caption: Suasana Dialog Komite Politik Nasional (KPN-PB) Maluku Utara di Kota Ternate (Foto Ali)(Adakah.id)

ADAKAH.ID, TERNATE- Komite Politik Nasional (KPN) Maluku Utara menanggapi kekerasan horizontal di Kawasan Industri Tambang di Halmahera Tengah (Halteng)

Aslan Sarifudin, Kordinator Komite Politik Nasional Maluku Utara, saat diwawancarai mengatakan, dialog perdamaian diselenggarakan guna merespon berbagai masalah yang begitu kompleks di kawasan proyek strategis nasional industri tambang Halmahera Tengah.

“Kami menyelenggarakan dialog perdamaian ini untuk merespon berbagai masalah yang begitu komplesk di Halmahera Tengah. Terkhusus masalah kekerasan berbasis horizontal yang sudah berulang-ulang terjadi. Dan telah memecah belah persatuan pekerja dan warga lingkar tambang,” kata Aslan Sarifudin seusai agenda dialog yang bertajuk Perdamaian, Perjuangan Kelas Pekerja dan Demokratisasi di hari Senin 2 Januari 2023 di gedung NBCL depan kampus B Universitas Muhammadiah Maluku Utara, Kelurahan Sasa, Kota Ternate.

Sebagai contoh mereka menduga, kekerasan berbasis horizontal pada 25-26 Desember 2022 melibatkan warga Desa Lelilef Sawai dan pekerja asal Maluku (Key) adalah akibat dari kehadiran korporasi tambang yang terkesan abai.

Kehadiran perusahaan tambang sebenarnya bisa membawa kesejahteraan dengan melakukan distribusi kesejahteraan secara merata, namun disebut – sebut hal itu urung terlaksana.

Aslan sapaan Kordinator Politik Nasional Maluku Utara menambahkan, kekerasan berbasis horizontal di kawasan industri tambang Halmahera Tengah tidak terjadi secara alami.

“Ini tidak terjadi secara alami, tetapi semacam ada perangkat yang sudah disiapkan oleh segelintir orang demi  mengejar keuntungan. Dan sudah tentu punya hubungan erat dengan perusahaan tambang. Kenyataan itu bisa terlihat ketika proses penyelesaian dilakukan dengan pendekatan keamaan, serta kesepakatan resolusi konflik yang sangat rasial,” ungkapnya.

Sangat tragis, pasalnya kekerasan berbasis horizontal tersebut telah mempolarisasi kelas pekerja dan warga lingkar tambang.

Namun fatalnya adalah banyak buruh mengalami trauma, perempuan dan anak mengalami ketakutan, buruh asal Maluku harus berhenti kerja, rasisme yang semakin menguat. Perusahaan dan pemerintah lepas tangan dengan munculnya dampak tersebut.

Aslan diakhir wawancara menegaskan, buruh dan warga lingkar tambang harus bersatu, karena sama-sama korban dari sistem kapitalisme dan produksi rasialisme yang sistematis.

“Kami menyerukan agar buruh, warga lingkar tambang, perempuan dan pemuda serta mahasiswa harus bersatu. Kita punya musuh yang sama. Yaitu sistem kapitalisme yang telah melahirkan berbagai masalah di Halmahera Tengah. Maka mari bersama berjuang mewujudkan perdamaian, kesejahteraan, keadilan, kesetaraan dan demokrasi untuk rakyat dan kelas pekerja Halmahera Tengah,”jelasnya. (Ali/Joy)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+