ADAKAH.ID, SAMARINDA – Film biografi tokoh terkenal Bob Marley rilis di bioskop Indonesia sejak 21 Februari 2024.
Film yang berjudul Bob Marley: One Love ini dimunculkan berdasarkan kisah nyata sang legenda di masa jayanya pertengahan1970-an hingga ajal menjemputnya pada tahun 1981.
Di kota Samarinda, bioskop ternama turut menayangkan film tokoh berambut gimbal tersebut.
Walhasil, antusias publik sangat tinggi untuk menyaksikan cerita singkat Bob Marley yang berdurasi kurang dari 2 jam tersebut.
Salah satu dari ribuan penonton yang ikut menyaksikan Film Bob Marley ; One Love itu adalah Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Angkasa Jaya.
Menurutnya tokoh asal benua Afrika itu sangat memberikan inspirasi dan pengaruh besar tidak hanya dari musik namun lebih dari itu, Bob Marley juga membawa pengaruh bagi perdamaian dunia kala dunia berkecamuk perang dingin pasca perang dunia kedua.
“Film ini sangat bagus untuk ditonton. Publik bisa petik sejarahnya, ada filosofi musik Reggae yang dia bawa. Bermusik Bob Marley punya misi. Bukan sekedar mencari keuntungan,” ucap Angkasa Jaya (1/3/2023).

Sang Legenda Musik Reggae, Bob Marley asal Jamaika
Wakil Rakyat Dapil Sungai Kunjang itu menambahkan, Bob Marley bisa dikatakan sebagai pencetus musik Reggae yang bersumber dari musik Jazz kelas bawah yang termarjinalkan.
Dengan kerja kerasnya, pria kelahiran Jamaika 16 Februari 1945 itu berinovasi membuat musik Reggae dan membuatnya lebih mendunia seperti saat ini.
“Musik adalah jiwa kejujuran dan ketulusan. Saya pikir anak muda bisa meniru semangatnya Bob Marley,” imbuh Angkasa Jaya yang gemar bermain gitar elektrik tersebut.
Terkait dengan kehidupan Bob Marley yang penuh yang sarat dengan pergolakan politik dan kekuasaan pada jamannya, serta kegelisahannya tentang kondisi sosial dan kemiskinan struktural di negaranya, menariknya dalam sebuah sebuah perlawanannya yang elegan, yakni lewat lagu dan musik.
“Sekarang ini menariknya, lagunya adalah perlawanan tanpa mengangkat senjata. Melawan rasisme kulit hitam yang masih menjadi perjuangan bangsa Afrika di seluruh dunia,” terangnya.
Politisi PDI P itu menyebut, sama halnya dengan Indonesia, setiap genre musik menyimbolkan perlawanan masyarakat. Semisal Iwan Fals saat masa Orde Baru. Begitupun Rhoma Irama yang menjadikan musik sebagai media dakwah.
“Saya sangat mendukung semua aliran musik seperti reggae, rock, punk, ska dan sebagainya,” ungkapnya.
Sebagaimana diketahui, Indonesia sedang melaksanakan pemilu legislatif dan presiden 14 Februari lalu, ketegangan cukup terasa terkait proses pelaksanaan pemilu lima tahun sekali ini. Bahkan sebelum pemilu, isu cawe – cawe petahana berhembus.
“Seperti halnya peran Bob Marley dan grup musik Reggae nya yang mampu memberikan kedamaian di masyarakat. Saya berharap pejabat ikut nonton ini juga. Karena ada sisi positifnya biar enggak tegang bicara politik,” tutupnya. (Adv)
