Latih Rasa Percaya Diri Anak – anak, Depriyanur Wadahi Minat Seni Pertunjukan Panggung di Tenggarong

Caption: Pemimpin Sanggar Seni Terminal Olah Seni (TOS), Deprianur (Adakah.id)

ADAKAH.ID, TENGGARONG – Bagi Depriyanur atau yang akrab disapa Dep, seni bukan sekadar hobi, melainkan warisan biologis yang mengalir di nadinya.

Siapa sangka, pemimpin Sanggar Seni Terminal Olah Seni (TOS) ini lahir dari romansa panggung kedua orang tuanya yang dipertemukan di sanggar yang sama puluhan tahun silam.

“Saya baru tahu di tahun 2017 kalau orang tua saya itu bertemunya di panggung. Dari situ saya merasa terpanggil untuk menghidupkan kembali TOS yang sempat mati suri sejak 1990,” kenang Dep.

Perjalanan Menemukan Jati Diri

Langkah Dep di dunia seni dimulai pasca-kelulusan SMP pada 2010. Sempat mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, ia justru menemukan pemantik kreativitasnya saat berkunjung ke Yogyakarta. Melihat denyut nadi seniman jalanan di Kota Gudeg, Dep bertekad membawa semangat yang sama ke tanah kelahirannya, Tenggarong.

Meski sempat mendalami musik, teater akhirnya menjadi pilihan utama. Bagi Dep, teater adalah “ibu” dari segala kesenian.

“Teater itu paket lengkap. Ada seni rupa di make-up dan properti, ada sastra di naskah, hingga musik, tari, dan vokal. Semuanya ada di sana,” jelasnya.

Membentuk Karakter Lewat Panggung

Bersama rekan duetnya, Abil, dan adiknya Radhika, Dep membangun kembali TOS sebagai wadah bagi anak-anak sekolah di Kutai Kartanegara. Menariknya, sanggar ini justru menjadi “rumah” bagi anak-anak yang pemalu.

“Tujuan utama kami adalah membentuk kepercayaan diri. Kami senang menerima anak-anak yang pemalu untuk kita latih keberaniannya melalui pendekatan personal dan spontanitas,” ujar pria yang kini membina sekitar 40 anggota aktif dari jenjang SD hingga SMA tersebut.

Tampil di Event Nasional

Di bawah kepemimpinannya, TOS tidak hanya jago kandang. Sederet ajang bergengsi telah mereka jajal, mulai dari Solo International Performing Arts (SIPA) 2023 hingga Exotica Bromo 2024.

Di level daerah, Dep mengukir prestasi membanggakan saat dipercaya menjadi konseptor dalam perhelatan akbar Erau. Predikat sebagai konseptor termuda kala itu menjadi pembuktian talenta lokal mampu mengelola event besar secara mandiri.

Seni sebagai “Obat” dan Kritik Sosial

Menghadapi tantangan melatih anak-anak, seperti demam panggung, Dep menerapkan metode improvisasi kolektif. Jika satu pemain melakukan kesalahan, pemain lain bertugas “menyelamatkannya” di atas panggung.
Baginya, anak-anak adalah energi yang tak ada habisnya.

“Mereka itu ‘obat’ bagi saya. Saat lelah atau pusing, bertemu mereka justru menjadi penyemangat,” tambahnya dengan senyum.

TOS kini terus bergerak dinamis. Tidak hanya membawakan tarian dan musik, mereka kerap menyisipkan kritik sosial dan potret kehidupan masyarakat Tenggarong dalam setiap pertunjukan. Dengan keterlibatan hingga 40 pemain dalam satu panggung, Depriyanur optimis selama anak-anak membutuhkan wadah untuk berkembang, TOS akan tetap berdiri tegak menjaga marwah seni di Kutai Kartanegara. (J)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+