Aktivis Reformasi 98 Ramaikan 8 Tahun Aksi Kamisan Kaltim

Caption: Ibu Sumarsih(Adakah.id)

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Kamis (7/8/2025) Teras Samarinda Jalan Gajah Mada Samarinda, Kaltim tampak ramai dengan nuansa hitam. Ya, sore itu aksi Kamisan Kaltim sedang menggelar mimbar bebas.
Berbeda kali ini, kegiatan lebih hangat dan mengundang antuasias anak – anak muda, lantaran aktivis HAM aksi bersama di Samarinda. Yakni, Ibunda Wawan (korban tragedi Semanggi) Bu Sumarsih, Istri Munir bu Suci dan Organisasi Kontras.

Kehadirannya memberikan makna dan bukan sekadar kunjungan—tapi pengingat, bahwa perjuangan untuk keadilan belum selesai. Siapa mereka.? Sedikit tentang mereka berdasarkan referensi dari berbagai sumber.

Ibu Sumarsih

Bernama lengkap Maria Catarina Sumarsih, seorang aktivis hak asasi manusia yang dikenal karena perjuangannya mencari keadilan atas kematian putranya, Bernardinus Realino Norma Irawan (Wawan) dalam Tragedi Semanggi I 13 November 1998. Wawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya gugur tertembak saat terjadi demonstrasi mahasiswa. Sejak saat itu, Ibu Sumarsih bersama suaminya, Arief Priyadi terus melakukan aksi Kamisan di depan Istana Negara untuk menuntut pengungkapan dalang pelanggaran HAM berat bersama korban dan aktivis lainnya. Sebagai penggerak Aksi Kamisan sehingga bisa meluas di 60 kota se Indonesia, Bu Sumarsih menerima Yap Thiam Hien Award 2004 atas perjuangannya menegakkan HAM. Penghargaan diberikan Yayasan Yap Thian Hien kepada individu atau kelompok yang dianggap berjasa dalam penegakan hak asasi manusia di Indonesia. Penghargaan ini dinamai dari Yap Thiam Hien, seorang pengacara dan aktivis HAM terkemuka di Indonesia.

Suciwati/Istri Munir

Suciwati adalah seorang aktivis hak asasi manusia Indonesia dan istri dari Munir Said Thalib. Ia mendirikan Museum Omah Munir pada tahun 2013 untuk mengenang perjuangan Munir dalam membela hak asasi manusia. Suciwati juga merupakan penggagas kampanye “Menolak Lupa”, sebuah gerakan yang bertujuan untuk mengingatkan masyarakat Indonesia tentang kontribusi Munir dalam memperjuangkan keadilan dan hak asasi manusia di Indonesia.

Organizer Buruh Garmen

Karena banyak kawannya yang mengalami pelecehan, Suciwati mengorganisir buruh dan sesudahnya berhasil mendirikan PUK SPSI disana dan sejak itu dia terjun mengadvokasi buruh jauh sebelum bertemu dengan suaminya, Munir. Suciwati bertemu dengan Munir di kegiatan aktivisme buruh di Malang. Memutuskan keluar dari profesi guru menjadi buruh pada Oktober 1990. Selang tiga bulan dia berhasil mengorganisir buruh pabrik dengan mendirikan SPSI di tempat mereka bekerja pada Maret 1991. Hasilnya dia dipecat setelah gagal dirayu dan disuap bosnya yang berkebangsaan Korea dengan janji diangkat menjadi staf personalia dan sekolah lagi asalkan tidak memimpin organisasi buruh. Setelah kejadian tersebut, Suciwati membuat kelompok diskusi Buruh Malang setiap Minggu di Malang. Dalam perjalanan mengorganisir buruh inilah dia bertemu dengan Munir. Ikut penelitian ‘peran masyarakat Ketindan Lawang dalam aksi buruh Sidobangun’, penelitian UMR buruh Malang di tahun 1994.

Dalam perjalanan mendampingi Munir untuk advokasi Orang Hilang, Suciwati lebih banyak mendukung kerja-kerja Munir yang bekerja di YLBHI mendirikan KontraS, Imparsial. Selama mengadvokasi orang hilang dan keluarga korban kekerasan negara, Suciwati kena imbas ancaman yang diberikan kepada Munir. Ancaman itu berupa teror psikis maupun fisik. Setidaknya dua kali ia mendapatkan teror kiriman bom, surat-surat dan bahkan sampai pembunuhan Munir pada 7 September 2004. Setelah kematian Munir, dia bekerja di Yayasan Tifa. Suciwati mendorong dukungan terhadap pembela hak asasi manusia dan korban pelanggaran HAM berat. Membuat program Human Right Support Facility bekerja sama dengan Dompet Duafa membantu bea pendidikan keluarga korban, kesehatan, dan kursus keterampilan. Pada 14 September 2022, Suciwati meluncurkan buku berbasis biografi Munir dan Suciwati yang berjudul “Mencintai Munir”. Judul ini, menurutnya, berarti mencintai kebenaran dan keadilan seperti perjuangan yang dilakukan oleh almarhum suaminya, Munir semasa hidupnya.

Selama mengadvokasi dan pencarian keadilan, Suciwati mendapatkan penghargaan atas kegigihannya, mulai pada 2005 dari Time sebagai salah satu Pahlawan Asia (Asia Heroes), kemudian 2006 Human Rights First Gala Dinner US atas nama Suciwati dan Munir, Suciwati dinilai bekerja tanpa lelah untuk membawa pembunuh Munir ke pengadilan, sedangkan Munir sebagai pejuang HAM terdepan di Indonesia. Pada 2006, Suciwati mendapat penghargaan dari Metro TV Award, dan People of the Year kategori hukum pada 2009 dari Seputar Indonesia RCTI.

Organisasi KontraS

Kontras yang lahir pada 20 Maret 1998 merupakan gugus tugas yang dibentuk oleh sejumlah organisasi dan tokoh masyarakat. Gugus tugas ini semula bernama KIP-HAM yang telah terbentuk pada tahun 1996. Sebagai sebuah komisi yang bekerja memantau persoalan HAM, KIP-HAM banyak mendapat pengaduan dan masukan dari masyarakat, baik masyarakat korban maupun masyarakat yang berani menyampaikan aspirasinya tentang problem HAM yang terjadi di daerah. Pada awalnya KIP-HAM hanya menerima beberapa pengaduan melalui surat dan kontak telefon dari masyarakat. Namun lama kelamaan sebagian masyarakat korban menjadi berani untuk menyampaikan pengaduan langsung ke sekretariat KIP-HAM.

Dalam beberapa pertemuan dengan masyarakat korban, tercetuslah ide untuk membentuk sebuah lembaga yang khusus menangani kasus-kasus orang hilang sebagai respon praktik kekerasan yang terus terjadi dan menelan banyak korban. Pada saat itu seorang ibu yang bernama Ibu Tuti Koto mengusulkan dibentuknya badan khusus tersebut. Selanjutnya, disepakatilah pembentukan sebuah komisi yang menangani kasus orang hilang dan korban tindak kekerasan dengan nama KontraS.

Dalam perjalanannya KontraS tidak hanya menangani masalah penculikan dan penghilangan orang secara paksa tapi juga diminta oleh masyarakat korban untuk menangani berbagai bentuk kekerasan yang terjadi baik secara vertikal di Aceh, Papua dan Timor-Timur maupun secara horizontal seperti di Maluku, Sambas, Sampit dan Poso. Selanjutnya, ia berkembang menjadi organisasi yang independen dan banyak berpartisipasi dalam membongkar praktik kekerasan dan pelanggaran hak asasi manusia sebagai akibat dari penyalahgunaan kekuasaan.

Dalam perumusan kembali peran dan posisinya, KontraS mengukuhkan kembali visi dan misinya untuk turut memperjuangkan demokrasi dan hak asasi manusia bersama dengan entitas gerakan civil society lainnya. Secara lebih khusus, seluruh potensi dan energi yang dimiliki KontraS diarahkan guna mendorong berkembangnya ciri-ciri sebuah sistim dan kehidupan bernegara yang bersifat sipil serta jauhnya politik dari pendekatan kekerasan. Baik pendekatan kekerasan yang lahir dari prinsip-prinsip militerisme sebagai sebuah sistem, perilaku maupun budaya politik. Artinya, kekerasan disini bukan semata-mata persoalan intervensi militer ke dalam kehidupan politik. Akan tetapi, lebih jauh menyangkut kondisi struktural, kultural dan hubungan antar komunitas sosial, kelompok-kelompok sosial serta antar strata sosial yang mengedepankan kekerasan dan simbol-simbolnya.

Pada tahun 2004, KontraS, KontraS Aceh, KontraS Papua, KontraS Sumatera Utara menyetujui untuk membentuk Dewan Federasi KontraS sebagai organisasi untuk mengoordinasi kegiatan seluruh anggota. Di tingkat regional dan internasional KontraS merupakan anggota dari beberapa organisasi.
Kegiatan diskusi dan pameran foto akan berlangsung hingga besok Sabtu (9/8) yang di pusatkan di Ex Bandara Temindung, Samarinda.

Kehadiran pejuang HAM di Samarinda seiring berjalannya aksi Kamisan Kaltim selama 8 Tahun ini diharapkan bisa saling memberikan inspirasi bagi gerakan lokal di Samarinda dan Kaltim, meninggikan semangat dan konsistensi moral berjuang. Selain itu, pendidikan publik tentang HAM di ruang-ruang non-formal, solidaritas antargenerasi antarwilayah serta perlawanan fasisme. (*)

MASUKAN KATA KUNCI
Search

BERITA

MODE

ADA+