Kemenangan Sheinbaum menjadikannya sebagai perempuan pertama dalam sejarah Meksiko yang akan menjabat sebagai Presiden di negara Amerika Utara tersebut.
Opini : Raditya Timurangin
ADAKAH.ID – Meksiko baru saja melangsungkan ajang pesta demokrasi yang dihelat pada 2 Juni 2024 lalu.
Pada periode ini, pemilihan umum diselenggarakan bersamaan dengan pemilihan tingkat lokal.
Claudia Sheinbaum, calon Presiden dari Partai MORENA yang beraliran kiri berhasil mengungguli kedua lawannya dalam satu putaran dengan presentase suara 60,67%.
Kemenangan Sheinbaum menjadikannya sebagai perempuan pertama dalam sejarah Meksiko yang akan menjabat sebagai Presiden di negara Amerika Utara tersebut.
Selain itu, pada tingkat legislatif, MORENA berhasil menduduki mayoritas kursi yang tersedia.
MORENA sukses dalam mempertahankan posisinya sebagai partai petahana, sejak kemenangan pertama mereka pada pemilu 2018 dan berturut-turut pada pemilu 2021 serta pemilu 2024 ini.
Meski semarak, pemilu di Meksiko juga berarti musimnya kekerasan politik.
Pembunuhan dan penculikan turut mewarnai ajang pesta demokrasi di negara Amerika Latin tersebut.
Terhitung sejak Januari 2024, 39 kandidat yang ikut serta dalam pemilu dibunuh dan 11 kandidat diculik.
Begitu peliknya situasi keamanan sehingga pemerintah Meksiko harus menurunkan personil angkatan bersenjata untuk mengawal jalannya proses pemilu.
Kartel – kartel narkoba diduga kuat mendalangi kejadian berdarah ini, mengingat Meksiko mempunyai sejarah dan reputasi yang cukup kelam dengan kelompok kriminal terorganisir tersebut.
Kekerasan terhadap politisi di Meksiko adalah hal yang lumrah dan keterlibatan kartel didalamnya juga telah menjadi rahasia umum.
Dilansir dari laman The Conversation, antara tahun 2018 dan Maret 2024, terdapat 1.709 serangan yang ditargetkan pada individu yang bekerja di bidang politik atau pemerintahan di semua tingkatan baik di pusat maupun tingkat regional sekalipun.
Bagi kelompok-kelompok kriminal seperti kartel, pemilu adalah sarana untuk mengembangkan bisnis dan mengamankan jaringan mereka.
Penting bagi para kartel untuk menjalin hubungan dengan kandidat yang dianggap cocok dengan kepentingan mereka dan memastikan kandidat yang mereka dukung tersebut untuk memenangkan pemilu tanpa hambatan, demi keberlangsungan serta kelancaran bisnis yang mereka jalankan.
Seringkali untuk mencapai tujuan ini pembunuhan dan teror dilakukan terhadap kandidat lawan yang dianggap “menghambat”, sehingga pemilu di Meksiko menjadi lekat dengan kekerasan. (***)
