ADAKAH.ID, SAMARINDA – Kelurahan Simpang Pasir Kecamatan Palaran Kota Samarinda menggelar acara pucak bertajuk bersih desa hari Senin (4/9/2023) di lapangan sepak bola Jalan Gotong Royong.
Salah satu hiburan yang disediakan Panitia Pelaksana adalah pagelaran Wayang Kulit, dengan Lakon Arjuna Wisuda atau Wiwaha dari Ki Dalang Budi Asmara.
Menggunakan blangkon khas Jawa, Wali Kota Samarinda, Andi Harun dalam sambutannya memberikan penghargaan yang besar kepada pentas seni tersebut.
Menurutnya pagelaran seni budaya nusantara salah satunya wayang kulit, sudah jarang ditampilkan di depan umum.
Padahal ucap Andi Harun, banyak pesan moral yang disampaikan dalam cerita wayang kulit.
“Wayang kulit adalah media dakwah. Ia hadir untuk menyebarkan ajaran agama Islam yang damai lewat sunan Kalijaga,” tutur Andi Harun menerangkan.
Selain itu, wayang kulit tercatat sebagai warisan budaya dunia dari Unesco. Untuk itu, sudah menjadi tugas anak bangsa untuk melestarikannya.
Kendati tidak mengerti dengan bahasa kromo inggil yang disampaikan ki dalam dalam lakonnya. Andi Harun banyak membaca kisah – kisah tokoh pandawa itu, diberbagai literasi yang tersedia.
“Cerita dalam wayang kulit ini sangat menarik dan relevan dengan kehidupan sosial masyarakat. Dimana kebaikan akan selalu menang melawan kejahatan,” sebutnya.
Bahkan ayah tiga anak itu menyebut, jika dirinya ingin seperti Arjuna jagoan para dewa karena ketampanan, kesaktian dan kewibawaannya. Sementara Ketua DPRD Samarinda yang turut hadir disebutnya sebagai Nakula.
“Kalau bisa saya bilang saya (Andi Harun, red) seperti Arjuna dan pak Sugiono adalah Nakula,” terang Andi Harun disambut tepuk tangan warga yang menyaksikan.
Dalam kisah wayang kulit Jawa atau cerita Mahabrata, pandawa ada lima saudara, putra dari Prabu Pandu Raja Hastinapura dan ibu bernawa dewi Kunthi. Urutannya adalah Yudhistira, Bima, Arjuna, Nakula dan Sadewa.
Singkat cerita, lakon Arjuna di Wisuda adalah cerita pengangkatan Arjuna sebagai Raja di khayangan, menurut Karya sastra atau kakawin Mpu Kanwa, seorang ahli syair dan filsafat pada masa pemerintahan Prabu Airlangga.
Ia menulis lakon ini mengutip dari kitab Mahabharata parwa ke-3 yang membahas tentang pemusnahan sang Raksasa Miraksasaraja, Prabu Nirwatakawaca dari Hima Himantaka yang ingin menghancurkan khayangan, karena keinginan memperistri Batari Supraba yang dihalangi Batara Indra.
Karena Batara Indra tidak mampu melawan Raja Raksasa tersebut lewat apsara. Indra lalu meminta bantuan Arjuna yang saat itu, sedang bertapa di Goa kaki gunung Indrakila.
Namun sebelum itu, Indra mengirim 7 bidadari untuk mengganggu tapabrata Arjuna namun tidak berhasil.
Walhasil Dewa Indra menemui langsung Arjuna untuk meminta bantuan. Pertemuan keduanya itu diketahui Raja Niwatakawaca.
Raja tersebut mengutus babi hutan bernama Muka untuk membuat kegadungan di luar pertapaan Arjuna.
Karena mengganggu semedinya, Arjuna pun menggunakan busur panahnya ke babi tersebut. Walhasil, anak panahnya berhasil mengenai leher Muka.
Saat Arjuna mendekati buruannya teraebut, Indra yang menjelma sebagai Resi, mengaku lebih dulu mengakui anak panahnya mengenai binatang tersebut.
Terjadilah pertempuran keduanya, tiba – tiba Shiwa menampakkan wujud aslinya. Arjuna yang terkejut lalu meminta mamaf kepada sang dewa.
Karena sikap kebaikan Arjuna, Batara Shiwa menghadiahi Arjuna panah Pasopati.
Anak panah tersebut lah yang menghakhiri petualangan sang Raja Niwatakawaca.
Sang Raja Raksasa terkena pasopati tepat dititik lemahnya yaitu ditenggorokan.
Kelemahan itu diketahui, setelah Batari Supraba bersandiwara kepada Niwatakawaca setuju untuk dinikahi, dengan syarat memberitahu titik lemah sang raja.
Arjuna memancing Niwatakawaca keluar dari kerajaan dengan membuat kegaduhan di sekitar istana.
Akhirnya raja raksasa itu turun untuk menyelesaikan. Arjuna yang tahu Niwatakawaca datang, langsung mengambil kesempatan bertemu Batari Supraba.
Mengetahui kelemahan Niwatakawaca, Arjuna langsung memungkasi pertempuran dengan panah pasopati dan menancap dileher sang raja.
Pada akhirnya, Arjuna memenangkan pertempuran dan diangkat sebagai raja khayangan dan dinikahkan dengan 7 bidadari.
Karena watak kstarianya itu, Arjuna mundur menjadi raja khayangan dan memilih untuk kembali kepada saudaranya pandawa.
Hal itu karena Pandawa sedang bersiap untuk memenangkan perang bhatara yudha, dan memilih berjuang di arena khurusetra.
Nilai-nilai penting yang bisa dimaknai watak dari Arjuna yaitu sifat yang begitu tulus, bersih, dan lemah lembut serta menjadi teladan bagi umat manusia. (Joy)
