ADAKAH.ID, SAMARINDA – Enam balas hari anti kekerasan terhadap perempuan (16 HAKTP) ialah momentum yang tak terelakkan bagi kaum perempuan di Indonesia, untuk menyuarakan persoalan-persoalannya. Tak terkecuali di kota Samarinda, Kalimantan Timur.
Untuk diketahui, 16 HAKTP merupakan gerakan kampanye internasional menuntut penghapusan kekerasan terhadap perempuan di seluruh dunia. Aksi ini digagas Women’s Global Leadership Institute pada tahun 1991.
Setiap tahunnya, aksi ini berlangsung dari tanggal 25 November (Hari Internasional Penghapusan Kekerasan terhadap Perempuan) hingga 10 Desember (Hari Hak Asasi Manusia (HAM) Internasional.
Di kota Tepian, aksi merespon 16 HAKTP dimotori organiasi Dara Lead, bersama Perempuan AMAN (Aliansi Perempuan Adat Nasional) Lou Bawe, pada Minggu 27 November 2022, lalu.
Tak seperti unjukrasa pada umumnya, aksi 16 HAKTP tahun 2022 di Samarinda berlangsung di atas perairan Sungai Mahakam. Sambil menyusuri sungai menggunakan Kelotok atau perahu kayu bermesin, alat transportasi bahari penduduk Kalimantan.
Aksi simpatik ini, mengangkat isu-isu antara lain kekerasan seksual, krisis iklim, kekerasan Dalam Rumah Tangga, hingga pernikahan dini. Adapula tuntutan pengesahan RUU masyarakat adat, RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, yang tertuang dalam poster dan spanduk yang mereka tunjukkan.

“Peringatan 16 hari anti kekerasan terhadap perempuan diperingati secara global setiap tanggal 25 November hingga 10 Desember,” terang humas aksi Monalisa, pada pernyataan resmi yang diterima Adakah.id.
“Tanggal 25 November pun ditetapkan sebagai bentuk penghormatan terhadap perjuangan Mirabal Bersaudara yaitu Patria Marcedez Mirabal, Minerva Mirabal dan Maria Teresa Mirabal yang dibunuh pada 25 November 1960 karena aktivitas politik melawan dan menggugat kediktatoran rezim Rafael Trujillo di Republik Dominika,” sambung perempuan yang akrab disapa Mona itu.
Lebih lanjut Mona menuturkan, hingga saat ini isu kekerasan masih menjadi ancaman bagi perempuan Indonesia, bahkan secara global, yang terjadi dalam berbagai bentuk. Dengan momentum ini, perempuan saling terhubung satu sama lain untuk menuntut keadilan dan kesetaraan.
Menurutnya, penting bagi perempuan untuk mengambil peran dalam segala aspek kehidupan. Pasalnya, acapkali perempuan di nomorduakan bahkan dianggap tidak ada oleh masyarakat bahkan negara.
“Perempuan sering dianggap tidak cakap berkarya padahal tenaganya dihisap tanpa jeda,” tandas Mona.
Ketua Dara Lead, sekaligus Kolektif dari Perempuan Mahardhika menegaskan, aksi bersama Perempuan Aman Lou Bawe ini tidak hanya bagi pihaknya sendiri namun untuk seluruh perempuan di dunia.
Mona menyebut, aksi ini sebagai tanda bahwa perjuangan perempuan menuntut penghapusan kekerasan masih ada dan terus berlanjut. Namun ia menyerukan, perempuan mesti berhimpun dalam satu wadah perjuangan.

“Berorganisasi sebagai salah satu upaya perempuan untuk melawan ketidakadilan dan bersama-sama mencapai kesetaraan,” ungkapnya.
“Perempuan haruslah sadar, bahwa ia memiliki kesempatan yang sama untuk terbebas dari diskriminasi dan belenggu patriarki yang menyebabkan kekerasan. Tentu perlu partisipasi berbagai pihak termasuk para laki-laki,” seru Mona.
Selain itu, pihaknya menuntut kepastian perlindungan bagi pekerja, khususnya perempuan dari segala bentuk kekerasan yang merupakan kewajiban bagi negara sebagai bentuk pemenuhan hak asasi manusia.
Sekadar informasi, aksi merespon 16 HAKTP yang didorong organisasi Perempuan Mahardhika dilakukan juga di 4 titik lainnya, antara lain di Patung Kuda Arjuna Wiwaha DKI Jakarta, Monumen Mandala – Sudirman Makassar, di Patung Bekantan – Siring Banjarmasin dan Samarinda dengan titik aksi sungai Mahakam.
(Tim Redaksi)
