• ADA+
  • Kisah
  • Jalan Musik Ulah, Hingga Jadi Brand Ambassador Gitar Asal Amerika

Jalan Musik Ulah, Hingga Jadi Brand Ambassador Gitar Asal Amerika

Ulah, atau Abdullah seorang gitaris band Cadas Samarinda. Kini mengelola personil Band Malvomed dan menjadi Brand Ambassador Gitar asal Amerika. (Foto/HAE)
Caption: Ulah, atau Abdullah seorang gitaris band Cadas Samarinda. Kini mengelola personil Band Malvomed dan menjadi Brand Ambassador Gitar asal Amerika. (Foto/HAE)(Adakah.id)

Ulah adalah seorang otodidak. Tertarik pada gitar karena temannya yang piawai bermain gitar. Bongkar pasang grup band sejak di bangku SMP. Pada tahun 2012, Ulah mulai membuat konten di media sosial.

ADAKAH.ID, SAMARINDA – Gitaris asal kota Samarinda, Kalimantan Timur (Kaltim) menjadi brand ambassador produk gitar asal Amerika Serikat, GOC Guitars.

Adalah Abdullah atau yang kerap disapa Ulah, gitaris yang tergabung dalam Malvomed, band cadas asal Kota Tepian yang sudah muncul sejak tahun 2008.

Ulah menceritakan bagaimana awal ketertarikannya pada gitar, sebagai alat musik petik yang ia mainkan hingga saat ini.

Saat duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), Ulah melihat seorang teman yang piawai memainkan alat musik tersebut, dia mengakui temannnya itu terlihat begitu jago dalam bermain gitar.

“Pas main gitar ngeliat temanku itu keren, apalagi kalau mainkan lagu yang tingkat kesulitannya tinggi, kalau kita bisa kaya punya kepuasan tersendiri,” kata Ulah saat ditemui di studio Dapur Musik pada, Jumat sore (23/6/2023).

Sejak itu dia mulai belajar dan mendalami lebih jauh lagi teknik bermain gitar, sebelumya Ulah juga sudah bermain musik dan membentuk grup band dengan kemampuan seadanya.

Lagu yang dimainkan oleh grup band yang dibentuknya tersebut, adalah lagu-lagu populer yang mudah untuk dimainkan, seperti lagu ST 12 – Rasa yang Tertinggal.

“Ingat betul, lagu itu lagi hits-hitsnya waktu itu, jadi lagu sejuta umat,” kenang Ulah sambil tertawa geli.

Akhirnya dengan teman yang dimaksudnya jago itulah Ulah membentuk band, mengisi posisi sebagai bassis. Setelah lulus dari SMP tak berlanjut, karena para personil melanjutkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) yang berbeda.

Setelah itu, dia kembali membentuk grup band baru bersama sang adik, dengan nama Baby Kids sebagai pengisi instrumen gitar. Mulailah Ulah mengikuti festival, dan kecanduan dengan sajian musik Paul Gilbert, serta makin banyak referensi yang masuk seperti Mr. Big, Dream Theater, juga Slipknot.

“Dulunya cuma dengar Avenged Sevenfold, setelah dapat referensi baru makin tertantang. Kayanya seru nih kalau di pelajari,” terangnya.

Berkali-kali Ulah membentuk group band, dan bongkar pasang personil di masa sekolah. Saat di bangku kuliah, untuk pertama kalinya ia bermain di band dengan aliran Metal, yang terinspirasi dari band asal Amerika Serikat, Lamb of God.

“Tapi nggak berjalan lama. Disitu jadi titik terendahku, karena merasa skill masih belum cukup. Personil yang lain sampai keluar dan bikin band baru,” ucap Ulah.

Atas hal tersebut dia mengalami keterpurukan panjang, hingga kurang lebih satu tahun, sama sekali tak pernah menyentuh gitar.

Padahal bersama para personil di band tersebut Ulah telah merasa klop, hanya dia dan satu orang personil lainnya yang tersisa.

“Mereka semuanya cabut, bikin band baru, rekaman, terus rilis album,” kenangnya lagi.

Selama masa mangkirnya itu dia hanya melakukan aktivitas dagang, membantu usaha orang tua. Ulah menyebut istrinyalah yang menyadari jika dirinya tidak seperti dulu, ada yang berbeda dari Ulah. Kemudian disarankan untuk kembali bermusik, dan membeli gitar baru, agar tumbuh semangat baru.

Banyak peristiwa yang membuat Ulah termotifasi untuk melakukan rekaman, tetapi karena tak memiliki band, dia memilih untuk merekam sendiri, dan membuat konten gitar dengan me-cover lagu orang.

“Dari situ aku kaya ketemu titik terang, aku merasa cocok dikonten ini,” ucapnya lagi.

Selanjutnya pada tahun 2012 melalui Instagram, dia dihubungi oleh akun Indomusikgram untuk gabung membuat konten. Dari situlah semangatnya bertambah, ia merasa proses bermusik yang dilakukan lebih dihargai.

Banyak garapan bersama yang dilakukan bersama Indomusikgram, mulai dari kolaborasi konten kreator seluruh Indonesia, menjadi engineer untuk mengisi master.

“Pernah ikut kompetisi bikin konten gitu. Menang, diundang ke studio Warner Musik Indonesia, untuk berkolaborasi bersama band Kotak,” sebut Ulah.

Ulah adalah seorang otodidak dalam bermain gitar. Tak puas dengan kemampuan yang ada, dia memilih untuk kursus untuk meningkatkan itu.

Pencapaiannya sebagai brand ambassador GOC Guitars, diawali dengan membeli salah satu produk gitar dari brand tersebut. Begitu senangnya dia dengan gitar barunya itu, hingga setiap hari dimainkan dan diunggah di akun Media Sosial miliknya.

“Terus aku dihubungi pihak GOC Guitars, tawaran pertama hanya setiap unggahan mengundang mereka sebagai kolaborator di Instagram. Nggak sampai setengah jam pihak mereka menghubungi lagi, nawari minat kah untuk jadi brand ambassador, sebagai salah satu perwakilan di Indonesia,” papar Ulah.

Ulah menjelaskan dalam sistem kontrak tidak ada jangka waktu, tetapi selama dirinya memakai brand tersebut kontrak terus berjalan. Putus kontrak terjadi bila dalam unggahannya gitar yang dipakai bukan dari brand tersebut.

(HAE)

.

MASUKAN KATA KUNCI